Showing posts with label Abu Sangkan. Show all posts
Showing posts with label Abu Sangkan. Show all posts

Saturday, July 28, 2012

Jawaban ustadz abu sangkan terhadap abu umamah


Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Asyhadu an laa ilaha illa Allah wa asy hadu anna Muhammadarrasulullah
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad
Dewasa ini saya sering tidak menangapi ulasan-ulasan saudara sesama muslim mengenai mengenai ajaran shalat khusyu’ dan karya-karya saya berupa buku-buku yang saya tulis. Terkadang terasa tidak adil dan tidak bijak, karena didalam mengulas karya-karya buku saya dibutuhkan pemikir an yang baik.
Namun saya berbesar hati didalam menanggapi hal ini, asalkan tidak menjadi sebuah permusuhan yang mengarah kepada perpecahan. Persoalan ini karena perbedaan persepsi dan pemahaman saja. Saya dapat memakluminya, karena ini terjadi akibat latar belakang ilmu dan pengalaman, serta kedewasan sebagai orang Islam. Saya sangat senang dan terbuka dengan adanya bantahan dan tanggapan, terlebih kalau dilakukan dalam forum diskusi yang diselengarakan didepan publik. Melalui cara itu, mereka akan mendapatkan informasi yang lebih lengkap dan jelas dari sebuah pemaparan, karena bahasa tulisan terkadang kurang mewakili dari maksud yang dikandung.
Namun demikian saya tetap akan memberikan tanggapan ringan saja, buat pembaca buku-buku saya, terutama kepada saudara Abu Umamah yang dengan semangat mengecam dan menganggap sesat karya-karya saya. Saya hanya mengharap kepada Abu Umamah, tetap teguh berjuang menegakkan keadilan. Saya salut terhadap beliau, karena semangatnya dalam memurnikan ajaran Islam dengan gigih, meskipun terkadang kurang pandai mengemas dengan akhlak yang baik.
Saya sangat faham mazhab yang dianut Abu Umamah yang menyebutnya dirinya sebagai Ahli Sunnah Waljama’ah atau seorang salafi. Karena saya juga pernah belajar hal serupa sehingga saya bisa mengerti kemana arah pemikiran dan manhaj-nya. Pertentangan ini bukan hal yang baru bagi saya dan umat Islam telah mengalaminya selama berabad-abad. Ini hanya berganti generasi saja. Misinya cukup simple, yaitu memberantas TBC, yaitu tahayyul, bid’ah dan churafat (baca: khurafat).
Pertentangan ini bukan hal yang baru terjadi didunia Islam. Sejarah telah mencatat munculnya pertentangan yang terjadi di Indonesia seperti kaum Nahdhiyyin (KH Hasyim Asy ‘ari) dan kelompok Muhammadiyah (KH. Ahmad Dahlan) maupun dari Persis (A. Hasan). Persoalan yang dianggap bid’ah seperti qunnut, yasinan, tahlilan, baca barzanji, baca shalawat nabi dan lain sebagainya, adalah topik utama mereka. Namun perkembangan sekarang ketiga kelompok tersebut sudah terlihat saling menghormati setelah informasi semakin canggih.
Saya masih ingat pada waktu kecil, kaum Muhammadiyyah membid’ahkan kaum Nahdhiyyin (NU) shalat tarawih 23 rakaat, sedangkan kaum Muhammadiyyah 11 rakaat. Namun sekarang sudah tidak menjadi masalah, karena di Saudi Arabiyyah melakukan 23 rakaat. Demikian juga persoalan adzan Jum’at yang dilakukan oleh Nahdhiyyin dua kali adzan sedangkan kaum Muhammadiyyah satu kali adzan. Ternyata di Saudi Arabiyyah melakukan dua kali adzan. Padahal Nabi melakukan shalat tarawih dimasjid hanya 3 hari, selebihnya dilakukan dirumah.
Dan yang uniknya lagi, imam Masjidil Haram membaca qunnut didalam akhir Ramadhan namun diselipkan doa-doa yang tidak berasal dari Nabi, terbukti ia menyebutkan kata-kata Allahumma dammir Amerika, Israil. Padahal didalam ibadah tidak boleh menambah-nambah ibadah yang tidak diajarkan oleh Nabi. Demikian juga doa-doa dalam tawaf, tenyata banyak yang dibuat oleh para ulama’, padahal tawaf adalah peribadatan yang ditetapkan sunnahnya. Dan orang-orang Saudi menggunakan alat dzikirnya meniru orang-orang Budha dan Katolik (rosario), yaitu biji tasbih made in China.
Dan mengenai penyusunan mushaf Al qur’an, awalnya para sahabat mengalami perdebatan keras, terutama Zaid sekretaris Nabi. Karena Nabi tidak memerintahkan membukukan Al qur’an yang berserakan dan tertulis di pelepah korma, kulit kambing dan lain sebagainya.
Tuduhan-Tuduhan Abu Umamah
Saya sangat mengenal konsep pemikiran Abu Umamah dalam melancarkan setiap tuduhan-tuduhan yang berbeda pandangan dengan dia. Saya kira dia hanya kurang faham mengenai pemaparan buku-buku saya, karena memang harus memilki ilmu pendukung untuk mampu memahami karya saya.
Didalam memahami tanggapan tulisan-tulisan saya, harus siap membuka hati dan pikiran. Dibutuhkan kejujuran dan kebersihan hati, bukan dilandasi karena emosi dan kebencian. Watawa saubil haq watawa saubish shabri …
Walaupun saya belajar ilmu tasawuf, tapi saya bukanlah orang tasawuf. Walaupun saya belajar ilmu salafi, tetapi saya bukanlah orang salafi. Walaupun saya belajar ilmu filsafat, tetapi saya juga bukan orang filsafat. Walaupun saya belajar ilmu meditasi tetapi saya menolak meditasi. Saya hanyalah orang biasa yang menjalankan shalat lima waktu, bersyahadat, berzakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan menunaikan ibadah Haji ke Baitullah. Bagi saya ini sudah cukup dan tidak keluar dari ajaran Islam. Adapun kekurangan didalam menjalankan syariat, saya berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhinya sehingga tidak ada kata berhenti untuk belajar. Termasuk saya pun mempelajari cara berfikir Abu Umamah, tapi saya tidak akan seperti Abu Umamah.
Abu Umamah menuduh Saya sebagai Pencipta Ajaran Shalat.
Hal ini jauh dari kenyataan. Seharusnya saya sudah diusir dari masjid-masjid besar kalau benar-benar saya menyimpang. Padahal saya mengadakan pelatihan shalat di adakakan di halayak ramai, bukan ditempat yang tersembunyi. Bahkan saya sudah memberikan pemaparan shalat khusyu’ dihadapan MUI Banjarmasin, Singapura, Hongkong, Jepang, Malaysia, Australia, dan seluruh Indonesia. Dan alhamdulillah mereka setuju dengan konsep pengajaran yang dilandasi syariat yang kuat. Karena Abu Sangkan tidak merubah shalat yang sudah menjadi hukum mahdhah. Justru saya mengajak untuk mengahayati setiap gerakan dan bacaan dalam shalat, seperti meluruskan punggung ketika ruku’, berdiri tuma’ninah, sujud sempurna. Seluruh metode, saya ambil dari cara Rasulullah mengajarkan shalat kepada para sahabat . Pada waktu itu, Nabi selalu menegur langsung ketika sujudnya terlalu cepat seperti burung mematuk makanan. Semuanya saya latih diluar shalat, sebagaimana umumnya orang memiliki metode membaca Al qur’an.
Mungkin, Abu Umamah terganggu dengan istilah “meditasi”, sehingga ia mengira saya memasukkan unsur meditasi dalam shalat. Padahal istilah meditasi itu bukan ajaran agama Hindu. Kata meditasi itu sendiri berasal dari bahasa Inggris, bukan bahasa India, yang berarti berdoa (praying), atau menenangkan pikiran. Sedangkan kata atau istilah berdo’a, beribadah, beriman dan lain sebagainya, telah menjadi dan digunakan oleh agama-agama lain di Indonesia. Hal ini tidak bisa dipungkiri kenyataannya.
Dari sisi marketing, buku shalat khusyu diminati orang-orang yang belum shalat, karena ada kata meditasi. Hal ini terinspirasi oleh ulama di Jawa masa Wali Songo yang mengganti kata “shalat” dengan “sembahyang”, untuk menarik minat agar orang-orang Hindu ikut sembahyang (shalat) di masjid. Dan dihalaman masjd, dibuat pintu masuk berupa gapura yang berasal dari kata “pura” (tempat sembahyang orang Hindu). Namun maknanya diganti menjadi ghafura dari bahasa Arab, yang berarti pengampunan (jawa: ngapura). Dan lihatlah bangunan masjid di Demak dan masjid-masid di Jawa terlihat kental dengan unsur arsitektur Hindunya.
Kata “meditasi” sama dengan kata “spiritual” yang sering dugunakan orang-orang Islam. Karena bahasa tidak bisa diklaim oleh salah satu agama saja. Sama halnya ketika anda melihat bangunan gedung pemerintahan di Kremlin yang menggunakan kubah dan menara masjid. Kalau orang tidak tahu, pasti terkecoh dikira masjid. Atau malah sebenarnya terbalik, kubah dan menara bukanlah hasil karya arsitek muslim. Karena gereja-gereja pada masa Konstantinopel sudah menggunakan kubah. Yang paling unik adalah kata “menara” ternyata berasal dari kata “naarun”, yang berarti api. Sedangkan menara dulunya adalah tempat api persembahyangan kaum Majusi.
Apakah seseorang dilarang, jika sebelum shalat melatih diri untuk belajar berdiri dengan tenang ketika shalat? Menenangkan pikiran agar tidak ngelantur kemana-mana. Padahal saat shalat, kita sedang berhadapan dengan sang Khalik. Berarti kesadaran jiwa dan pikiran harus terfokus kepada yang disembah, yaitu Allah. Sedangkan orang Budha terfokus kepada sang Bodha Gautama, orang Kristiani terfokus kepada Yesus Kristus.
Perhatian saya dalam pelatihan shalat khusyu adalah agar bagaimana hati dan pikiran selalu berhubungan dengan Allah, bukan kepada selain Allah. Termasuk melatih agar tidak mudah melamun. Kenyataan ini telah menjadi keluhan hampir seluruh masyarakat Islam. Mengapa Abu Umamah hanya mementingkan segi fisik saja, sementara ruhiyah diabaikan. Padahal Allah hanya menerima shalat seseorang dilandasi keikhlasan (mukhlishina lahu addien). Sebagaimana kisah orang Arab Badui yang mengaku beriman, ternyata baru sampai kulit luarnya saja, sehingga Allah menurunkan ayat berikut ini :
Dan orang-orang Arab Badui berkata: Kami telah beriman, katakanlah (kepada mereka) kamu belum beriman, tetapi katakanlah kami tunduk, karena iman itu belum masuk kedalam hatimu (QS. Al Hujuraat,49:14)
Dan sebuah hadist menegaskan :
Anta’buda ka annaka tarahu fainlam takun tarahu fa innahu yaraka
Beribadahlah seolah engkau melihat Allah, kalau engkau tidak mampu melihat Nya, sesungguhnya Dia melihat engkau ( Al hadist shahih ).
Dan Allah melarang shalat seperti shalatnya orang-orang munafik, karena dilakukan dengan perasaan malas dan pikirannya tidak terfokus kepada Allah kecuali hanya sedikit. Mereka shalat karena dilandasi ingin dilihat orang lain (riya’).
Perbuatan riya’ dan munafik itu adanya dihati, karena ternyata orang munafik juga shalat
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah,dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali hanya sedikit (QS. An Nisa,4:142)
Abu Umamah hanya kurang peka terhadap tulisan-tulisan saya dalam menyampaikan hadist-hadist yang saya uraikan dalam bentuk praktek. Dikira saya mengarang shalat kreasi baru. Terbukti jamaah saya shalat dimana-mana tidak ada yang aneh. Dan saya pun telah menjadi imam shalat dihadapan ribuan jamaah, namun mereka tidak ada yang protes. Seandainya Abu Umamah bisa menyempatkan shalat berjamaah dengan saya, pasti tidak akan terjadi perdebatan seperti ini. Tetapi tidak apa-apa, insya Allah suatu waktu akan berjumpa dalam shalat bersama.
Kesimpulan dari persoalan pelatihan shalat khusyu’.  Selama tidak ada larangan dari Nabi, berarti kebolehan. Yang dilarang adalah merubah syariat shalat. Termasuk bacaan shalat dirubah menjadi bahasa Indonesia, seperti yang dilakukan oleh Yusman Roy dari Malang (Perdebatan via Teleconference  antara Abu Sangkan dengan Yusman Roy di Metro TV).
Ditegaskan disini, shalat diawali dengan niat lalu takbir sampai salam. Diluar itu bukanlah shalat. Maka kegiatan pelatihan shalat bukanlah shalat, tetapi hanya latihan. Bagaimana menurut Anda, sebelum memasuki  takbir, bolehkan kita melakukan kegiatan oleh raga, tertawa, atau baca buku? Atau setelah menyelesaikan salam, bolehkan kita melakukan kegiatan gerakan-gerakan bebas seperti melompat dan berlari. Selama itu tidak dilakukan didalam shalat, maka itu bebas (boleh) bukan mengada-mengada soal agama. Tetapi kalau kegiatan itu dilakukan didalam shalat, maka itu bid’ah. Semoga Abu Umamah memahami arti bid’ah dalam beribadah.
Tuduhan bahwa Abu Sangkan Penganut Wihdatul Wujud
Didalam buku saya “Berguru Kepada Allah”. Pada bab misteri Al hallaj,  saya justru  meluruskan ajaran Al hallaj yang kurang sempurna. Karena Al Hallaj tidak mampu melepaskan kesadarannya, sehingga tidak bisa membedakan mana Allah dan mana dirinya. Inilah yang dinamakan ittihad (penyatuan).
Kesimpulan saya pada bab ini, adalah manusia pada awalnya tidak ada dan akan kembali tidak ada. Yang kekal hanyalah Allah semata. Kullu man ‘alaiha faan …. wa yabqa dzul jalali wal ikram … Apakah ayat ini ada yang salah?. Siapakah sebenarnya yang kekal abadi ?. Namun kalau difahami dengan benar, saya sependapat dengan pejelasan Imam Al ghazaly, bahwa Al hallaj tidak mengaku Allah. Dia hanya membaca ayat yang berbunyi :
innani Ana Allah laa ilha illa ana fa’budnii ….
Sungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang Haq) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.(QS. Thaha 20:14)
Saya hanya menganggap Abu Umamah khilaf dan kurang teliti membaca bab ini. Pikirannya terlalu dipenuhi kecurigaan dan hatinya bergejolak kurang tenang. Dan ilmu tidak akan bisa masuk kepada orang yang hatinya tidak dipenuhi cahaya Ilahy.
Pada bab-bab sebelumnya, banyak ayat-ayat mutasyabihat yang saya kutip. Dan saya tidak berani menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan pikiran saya. Saya hanya membiarkan ayat-ayat mutasyabihat tersebut apa adanya, seperti kalimat yadullah (kedua tangan-Ku). Melihat uraian ini, Abu Umamah tidak faham. Dikira saya membuat pernyataan “mentashbihkan” (menyerupakan) Allah dengan tangan manusia. Sama sekali tidak !! Ayat-ayat mutasyabihat hanya bisa difahami oleh hati orang yang bertakwa. Alif laam mim … dzalikal kitabu laa raiba fiihi hudan lil muttaqien …. Tidak ada satu dalilpun yang mengatakan, bahwa para sahabat menanyakan arti ayat-ayat mutasyabihat kepada Rasulullah dan Beliau tidak memberikan tafsir ayat-ayat mutasyabihat.
Didalam surat Al anfal ayat 17, Allah berfirman :
Maka bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.
Pada ayat ini, apakah Rasulullah dianggap seperti Al Hallaj atau wihdatul wujud?. Jika ditanya: “Wahai Rasulullah, siapakah yang membunuh dan melempar panah ketika engkau membidik panah?”. Kira-kira apa jawaban Beliau ….?? Kalau Beliau menjawab sesuai dengan ayat diatas, pastilah Beliau akan mengatakan, “Allahlah yang melempat panahku …..”
Masihkah Anda menuduh saya wihdatul wujud, yang Anda sendiri tidak paham persoalan ini?.
Tuduhan bahwa Abu Sangkan Menganut Sinkretisme
Mungkin Abu Umamah kurang paham arti sinkretisme, sehingga saya dianggap menganut faham ini. Tidak ada satupun ajaran tersebut dalam buku saya. Justru saya hanya prihatin melihat kemunduran umat islam selama berabad-abad.
Mengapa orang-orang Eropa mampu menemukan sains modern dan mampu menciptakan teknologi canggih?. Ternyata mereka perduli terhadap fenomena alam yang luar biasa, yang memberikan pelajaran bagi manusia. Padahal mereka tidak mengenal Al qur’an.  Namun mereka telah memanfaatkan kemampuan berfikirnya dan akal sehatnya untuk meneliti gejala alam yang terhampar luas. Mulai dari energy listrik, nuklir, mineral, bahan kimia, ilmu aerodinamika, biologi, psikologi, neurologi, astronomi, mesin diesel, kapal selam dll. Hampir semuanya dikuasai oleh mereka. Sementara umat Islam hanya diam tidak turut terlibat mengamati sumber alam yang penuh manfaat bagi kelangsungan hidup manusia. Tanpa disadari hasil penemuan mereka dimanfaatkan oleh umat Islam seluruh dunia, termasuk negara-negara Arab, meminta bantuan Amerika untuk pengeboran minyak, mengolahnya, bahkan menjualkannya.
Padahal Al qur’an telah memberikan wacana berfikir kepada kita, agar tidak ketinggalan dalam ilmu pengetahuan. Sebagaimana disebutkan ayat-ayat berikut ini :
Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu terdapat pelajaran bagimu, Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perut (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah,yang mudah ditelan bagi orang yang hendak meminumnya (QS.An Nahl,16:66)
Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata. Untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (QS. Qaaf,50:7-8)
Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat ayat-ayat Allah bagi orang-orang yang beriman. Dari pada penciptaan Kamu dan binatang-binatang yang melata yang bersebar (dimuka bumi) terdapat ayat-ayat (tanda-tanda) kekuasaan Allah bagi kaum yang yakin. Dn pada pergantian malam dan siang serta hujan yang diturunkan Allah dari langit sebagai rezeki lalu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya dengan air hujan itu,dan pda perkisaran angin terdapat pula ayat-ayat (tanda-tanda) kekuasaan Allah bagi mereka yang berakal. Itulah ayat-ayat Allah, Kami memebacakannya kepadamu sebenarnya,maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan ayat-ayat-Nya. (QS. Al Jastsiyah,45:3-6)
Dalam ayat-ayat diatas terdapat kandungan peringatan untuk umat Islam. Disamping mereka diharuskan membaca Al qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, namun diperintahkan pula untuk memikirkan ciptaan Allah sebagai pelajaran. Namun fakta yang terjadi sangat ironis, justru orang-orang kafirlah yang menguasai ilmu pengetahuan, seperti peternakan, geologi, geofisika vulkanologi  dan lain sebagainya. Apakah saya disebut sebagai penganut sikretisme kalau saya memahami ilmu-ilmu tersebut? Bukankah saudara Umamah tidak sadar, bahwa ilmu-ilmu tersebut adalah ciptaan Allah dan kita diperintahkan untuk mengambil sebagai pelajaran?
Ulasan-ulasan yang tidak difahami oleh Abu Umamah dalam bukunya Mengenal Lebih Dekat dengan Abu Sangkan halaman 84.
Sangat kelihatan Abu Umamah tidak membaca dengan baik tulisan-tulisan saya;
Padahal uraian saya adalah sebuah kesimpulan dari hadist-hadist nabi yang menyuruh kita shalat dengan serius dan thumaninah dan tidak terburu-buru. Selanjutnya dipraktekkan sebagaimana saya tulis dalam buku saya halaman 58-59.
Padahal semua yang dipraktekkan adalah tuntunan Nabi yang saya jadikan metodologi. Seperti berdiri thumaninah, rukuk, sujud dan tahiyyat. Semuanya dilakukan dengan tenang dan rendah hati. Pertanyaanya adalah :
Apakah dilarang berdiri sehingga tulang-tulang dan sendi-sendi dalam tubuh kita rileks dan tidak tegang ketika shalat ?
Apakah dilarang pikiran hening didalam shalat? Mengapa tidak tidak menyalahkan orang yang pikirannya melamun dan ngelatur kemana-mana ketika shalat? Bukankah itu lebih bid’ah,  karena pikiran Rasulullah tidak pernah melamun dalam shalat.
Apakah dilarang ketika hati kita hadir dalam shalat, sementara banyak orang shalat tetapi hatinya tidak hadir?
Apakah dilarang memperbagus shalat dan wudhu’ seseorang dengan dibarengi hatinya ingat kepada Allah, sementara banyak orang berwudhu yang tidak menghayati wudhu’nya sehingga tidak ubahnya mencuci muka biasa?.
Apakah salah orang shalat harus dilakukan dengan kesadaran ?
Sementara Abu Umamah menyalahkan persoalan-persoalan ini.
Kesimpulan dari uraian Umamah, bisa diketahui bahwa dia shalat namun pikirannya tidak tenang, karena ia melarang orang shalat pikirannya hening. Dan shalatnya tidak dilakukan dengan tenang dan tumakninah, karena ia melarang melatih tulang-tulang kembali pada tempatnya. Justru dialah yang yang tidak menjalankan sunnah Nabi, karena yang saya tulis adalah sunnah Nabi dalam mengajarkan shalat kepada para sahabat.
Tolong pelajari lagi hadist-hadist yang memerintahkan untuk sadar dalam shalat, membetulkan tulang-tulangnya sehingga lurus dan tenang didalam setiap gerakan rakaat maupun bacaannya.
Semua hadist yang menyangkut shalat khusyu’ sudah saya himpun dan saya susun menjadi pelajaran bagi yang shalatnya terburu-buru dan pikirannya melayang-layang, dan ini perlu dilatih. Bagi yang tidak mau latihan jangan mengusik orang yang sedang belajar. Melarang orang belajar shalat sama halnya orang-orang Yahudi yang menghalang-halangi shalat, hanya saja dikemas dengan perkataan “bid’ah”, agar tidak terlihat menghalangi orang-orang yang sedang belajar shalat. Kalau memang Abu Umamah orang Islam yang benar, pasti dia akan mendatangi rumah saya dan berdiskusi dengan baik dan penuh akrab dan shilaturrami. Dengan diawali dengan  shalat berjamaah tentunya. Inilah akhlak Islam yang sebenarnya yang banyak dilakukan kaum sufi yang bersih hatinya.
Abu Umamah mengaku Ahli Sunnah Waljama’ah ?
Saya belum percaya seratus persen kalau Abu Umamah adalah ahli sunnah wal jamaah. Mengapa demikian? Karena yang saya tahu jumlah hadist Rasulullah dikeluarkan dan diriwayatkan berjumlah puluhan ribu bahkan jutaan jumlahnya. Itupun masih tergantung kedudukan keshahihannya. Dan berapa jumlah hadist yang shahih, hasan, mutawatir, masyhur, muan’an, mudhayyaq, musalsal, ahad, gharib, munqati’? Sudahkan Anda mampu menjalankan seluruh sunnah Nabi? Belum lagi jumlah ayat-ayat dalam Al qur’an, sudahkan Anda mampu menjalankan semuanya?. Apa hukumnya yang tidak menjalankan Islam secara kaafah?. Masihkan Anda berani mengatakan ahli sunnah wal jamaah? Anda tidak ada bedanya dengan saya yang hanya menjalankan sebagian sunnah nabi saja. Anda masih menggunakan uang yang ada gambar orangnya, yang menurut hadist hukumnya haram. Sementara,  Anda sering melarang orang melukis makhluk hidup. Hal ini sama halnya orang-orang Saudi yang tidak konsisten, mereka menempelkan lukisan-lukisan Raja Fahd, Raja Abdullah, Raja Suud di setiap hotel di Saudi Arabiayah.
Apa hukumnya orang yang menyesatkan orang lain, sementara saya telah bersyahadat setiap shalat, menjalankan shalat lima waktu, berzakat, berpuasa di bulan Ramadhan, menunaikan ibadah haji ke Baitullah ?
Saya memaafkan Abu Umamah karena dia belum kenal dengan saya, walaupun dia mengaku dalam tema bukunya “Mengenal lebih dekat dengan Abu Sangkan”. Namun dia tidak kenal dengan saya, apalagi berdiskusi dengan baik dan terhomat.
Saya khawatir terhadap Abu Umamah, dia tidak bisa membedakan Islam dan kultur Arab yang keras. Islam adalah akhlak dan lemah lembut, apalagi dalam berdakwah. Al qur’an menyuruh berdakwah dengan cara yang sangat lembut dan mauidhatil hasanah … cara ini dilakukan oleh ulama’ Jawa (Wali Songo) sehingga ummat Hindu tertarik mempelajari Islam, walaupun masih belum sempurna. Mungkin kalau Anda ingin merasakan bagaimana sulitnya berdakwah, cobalah berdakwah di wilayah Hindu, seperti di Bali. Kalau Anda jujur, pasti Anda akan mengatakan Wali Songo itu hebat dan cerdas.
Ulama Jawa, ketika melihat umat Hindu menjalankan ritual kematian mengadakan upacara selama tujuh hari, mereka tidak langsung merubah kultur dan kebiasaan agama sebelumnya. Apalagi langsung menhardik dengan kata-kata kafir sesat dan bid’ah. Mereka mengisi hari-hari tersebut dengan bertahlil dan bertahmid. Maksudnya mengarahkan tauhid mereka agar tidak menyekutukan Tuhan. Lihatlah situs-situs masjid Menara Kudus yang berbentuk seperti candi, pintu gerbang masjid seperti seperti pura Hindu, atap mesjid dibuat seperti pagoda. Mereka tidak merubah pakaian menjadi pakaian Saudi Arabiayah atau Pakistan, india, tetapi tetap menggunakan sarung seperti yang dipakai orang Hindu pergi sembahyang ke pura.
Hal ini terjadi terhadap fiqhuddakwah Partai Keadilan Sejahtera. Mereka melakukan dakwah melalui dan mengisi peluang  dunia politik sebagai kendaraan dakwah mereka di DPR. Mereka bertujuan menegakkan syariah, namun dinilai salah oleh beberapa kelompok Islam, karena melalui cara sekuler, yaitu Trias Polica.
Kesimpulan dari penjelasan saya diatas, bukanlah akhir jawaban saya. Karena masih banyak lagi yang bisa saya sampaikan jika diperlukan. Dan saya sangat senang jika bisa berjumpa langsung dengan Abu Umamah demi keadilan dan menjalankan sunnah Al qur’an, yaitu bermusyawarah dengan baik. Dan sekali lagi Abu Umamah bukanlah Ahli Sunnah Waljamaah yang murni, tapi hanya sekedarnya saja. Kalau berjumpa dia, saya bisa tunjukkan hadist mana yang tidak dijalankan oleh dia,  dan hadist mana yang telah dilanggar oleh dia.
Hayya ‘alash shalah hayya ‘alal falah …..
Wassalam
ABU SANGKAN
Jl. Kemangsari IV/5, Jatibening
Bekasi.

Wednesday, April 11, 2012

Allahu Akbar

7 September 2008 Setiap mukmin tentu menyadari, bahwa kita adalah makhluk yang lemah, makhluk tidak berdaya, yang tidak memiliki kekuatan apa-apa, kecuali bila kita diberi pertolongan dari-Nya. Dialah Allah Yang Maha Besar, Dialah Allah Yang Menguasai alam semesta beserta seluruh isinya. Sikap hamba yang pasrah, dengan menyerahkan dan menyandarkan segala urusan kepada Allah adalah sikap utama dalam Islam.

Dalam Islam, sikap pasrah, yang dibarengi kesadaran akan keagungan dan kebesaran Allah, disebut dengan takbir; Dan simbol takbir disampaikan dengan mengucapkan kalimat ALLAHU AKBAR; yang artinya Allah Maha Besar. Kalimat Takbir terdiri dari dua kata, yaitu kata Allah dan kata Akbar. Lafadz Allah merupakan salah satu dari nama-nama Tuhan. Asma Allah adalah lafadz yang disebut sebagai ismul’jami’, yang berarti nama yang mengumpulkan; artinya kalimat ini berfungsi mengumpulkan atau memuat seluruh asma-asma Allah yang lain. Sedangkan lafadz Akbar, yang merupakan salah satu dari Asmaul Husna adalah kata yang berbentuk Tafdil atau Superlative yang berarti Maha Besar.
Dengan mengatakan bahwa hanya Allah semata yang Maha Besar, maka secara langsung, ungkapan ini meniadakan setiap perasaan atau kesadaran diri yang merasa besar, hebat, atau apa pun. Dari Takbir pula menegaskan bahwa kita sama sekali diharamkan untuk sombong, angkuh atau membanggakan diri. Karena takbir berasal dari kata kabbara-yukabbiru-takbiran, sedangkan kata takabbur berasal dari kata takabbara-yatakabbaru-takabbaruran, artinya merasa paling besar atau sombong. Dan sifat ini tidak boleh dimiliki oleh manusia kecuali hanya Allah saja yang berhak untuk membanggakan dirinya atas seluruh kekuasaa Nya yang Dia ciptakan. Maka dari itu Allah menuntun kita untuk menyadari akan hal ini dengan melakukan takbir dalam shalat. Agar kita menjadi orang yang selalu merendahkan hati terhadap Allah maupun terhadap sesama.
Karena Takbir adalah sikap pasrah, tunduk, sekaligus kepatuhan, maka pantas bila dalam ibadah sholat, sikap pertama yang harus dilakukan adalah Takbir. Dalam ibadah sholat, Takbir dilakukan bukan hanya dengan mengucapkan kalimat Allahu Akbar, tapi dipertegas dengan mengangkat kedua tangan kita sebagai penyerahan total kepadaNya. Dan ucapan takbir apabila dilakukan dengan penuh kesadaran dan menyadari apa yang diucapkan. Adalah ungkapan penafian atau meniadaan atas sifat diri dari sifar takabbur. Ucapan takbir ini dilafaadzkan pada saat berdiri takbiratul ihram, pada saat ruku’, menuju sujud, menuju duduk iftirasy, dan menuju duduk tahiyyat, setidaknya 94 kali dalam sehari semalam. Mustahil jika seseorang shalat namun tidak ada perubahan yang lebih baik dari sifat takabbur yang ada dalam hatinya, sesungguhnya pada hakikatnya ia belum bertakbir.
Rasulullah bersabda: “ya’tii ‘alannaasinzamanun yushalluna wala yushalluun”. Artinya: Akan datang satu masa atas manusia mereka melakukan shalat namun pada hakikatnya mereka tidak shalat ( HR. Ahmad). Shalat yang demikian terjadi tehadap orang-orang munafiq, yaitu apabila dia berdiri shalat sesungguhnya hanya mempermainkan Allah. Sebagaimana Al qur’an telah menggambarkan shalatnya orang-orang munafiq, bahwa apabila ia berdiri shalat hanyalah menipu Allah. Orang-orang munafiq tersebut apabila berkata dihadapan Allah tetapi hatinya tidak mengikuti apa yang diucapkan.
Innal munafiqiina yukhadi’unallah wa hua khadi’ihum, idza qaamuu ilash shalati qaamuu kusalaa, yuraauuna annasa wala yadzkurunallaha illa qaliila (QS. An Nisaa’ [4] : 142)
Hal inilah penyebab utama mengapa banyak orang shalat namun tidak ada perubahan dari sifat-sifat buruknya, bahkan makin tidak berakhlak. Mereka melakukan shalat akan tetapi tidak dilakukan dengan sepenuh hati. Karena didalam shalat harus melibatkan seluruh aspek gerak, hati dan pikiran tertuju kepada Allah, yang disebut lillahita’ala. Sebagaimana diucapkan dalam bacaan doa iftitah, inna shalati wanusuki, wamahyaya, wamamati lillahirabbil’alamin.
Dan mengapa Allah melarang orang-orang shalat secara tegas bagi yang tidak menyadari apa yang diucapkan. Laa taqrabuush shalata wa antum sukara hatta ta’lamu ma taquuluun. Artinya: janganlah kamu mendekati shalat, sedangkan kamu dalam keadaan tidak sadar (mabuk), sehingga mengerti apa yang kamu ucapkan. (QS. An Nisaa’ [4] : 43).
Hal ini mudah difahami, alangkah naifnya seseorang jika berbicara namun tidak mengerti dan tidak menyadari apa yang diucapkan. Barangkali orang akan disebut “gila” jika berbicara kepada seseorang yang dihormati namun tidak menyadari apa yang diucapkan. Apakah kita tetap akan mengatakan bahwa shalat kita benar-benar telah sadar atau hanya mempermainkan Allah. Sesungguhnya kita berkata dan bermunajat kepada Tuhan Yang merajai seluruh makhluk. Masihkah kita akan berbicara “mengigau” setiap berdiri shalat ? Dan hal ini kita lakukan setiap saat melaksanakan shalat.
Mari kita kembali mengevaluasi shalat kita selama ini. Dan menyadari mengapa shalat kita tidak memberikan efek yang lebih baik dari kehidupan kita. Shalat bukanlah berkonsentrasi kepada suatu benda sebagaimana pengertian umum selama ini. Akan tetapi merupakan jalan berdialog dengan Allah yang Maha Mendengar dan Maha Dekat. Dan Tuhan akan merespons apa saja yang diucapkan dalam setiap doa-doa kita. Tidak ada alasan untuk mengatakan tidak bisa khusyu’ dalam berdialog dengan Rabb seru sekalian alam. Karena sesungguhnya dialog atau berbicara bisa dilakukan oleh siapapun yang sadar. Dialog dalam shalat berarti doa, yaitu mengungkapkan perasaan seperti memohon kemudahan rejeki, memohon ampunan, memohon petunjuk dan yang lainnya.

Bismillahirrahmarirrahim

7 September 2008

Bagi setiap muslim, tentu sangat akrab dengan satu lafadz yang senantiasa dibaca dalam berbagai aktivitas keseharian; lafadz tersebut adalah: BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM yang artinya “Dengan Menyebut Asma Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” . Mengucapkan “Basmallah” sangat dianjurkan ketika hendak memulai suatu urusan yang baik seperti makan, hendak minum, naik kendaraan, membaca Al Qur’an dan sebagainya. Rasulullah bersabda: setiap perkara yang baik tidak dimulai dengan bismillahirrahmanirrahim, maka dia terputus. (HR. Al Khatib) (lihat Aqimusshalah hal 215), As siraj al lMunir, jilid 3, hal 86)

Pada lafaz Rahman dan Rahim, meski keduanya berasal dari Asmaul Husna; namun masing-masing memiliki titik tekan yang berbeda; Rahman adalah cinta kasih Tuhan untuk menjadikan sesuatu kepada hamba-hambaNya; sedangkan Rahim adalah cinta kasih Tuhan untuk menyempurnakan segala apa yang diberikan kepada hamba-hambaNya.

Terlepas apakah Bismillah menjadi bagian dari surat Al Fatihah dalam Alquran atau tidak; kalimat Bismillahirrahmanirrahim memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ibadah shalat. Perbedaan ekspresi dalam mengucapkan Bismillah hanya pada masalah diucapkan (diartikulasikan) atau cukup di hati saja. Ada dua pendapat mengenai bacaan “bismillahirrahmanirrahim” di saat membaca surat Al Fatihah dalam shalat. Dibaca dengan suara jahar (keras) atau dibaca dengan suara sirr (pelan).

Pendapat yang membaca Basmalah dengan dijaharkan berasal dari riwayat Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah senantiasa menjaharkan Basmallah pada dua surat sampai dia wafat (HR Daruqutni); Lihat Sunan Daaruqutni, jilid 1, juz 1 hal 304).

Diriwayatkan dari Nu’man Al munir. Aku pernah Shalat dibelakang Abu Hurairah ra. Maka ia membaca bismillahirrahmanirrahim kemudian dibacanya ummul Al qur’an (surat Alfatihah) dan didalam hadist tersebut tatkala mengucapkan salam dia berkata. Demi Tuhan yang diriku berada dalam genggaman kekuasaan-Nya. Sesungguhnya shalatkulah yang paling mirip dengan Rasulullah (HR. An Nasai) – Sunan An Nasai, jiid 1, juz 2, hal 134.

Pendapat kedua, membaca Basmalah dengan pelan (sirr).
Dari Anas ra. Berkata: aku dengan Rasulullah saw dengan Abu bakar, Umar dan Usman, tetapi aku tidak pernah mendengar mereka membaca “bismillahirrahmanirrahim” (HR. Imam Muslim)

Dari Anas ra bin Malik. berkata: Aku biasa Shalat dibelakang nabi saw. Di belakang Abu Bakar, Umar dan Usman. Mereka hanya memulai bacaaan dengan “alhamdulillahi rabbil ‘alamin” dan tidak pernah kudengar mereka membaca bismillahirrahmanirrahim pada awal bacaan (alfatihah) dan tidak pula pengahabisannya.( HR, imam Muslim).

Didalam ensiklopedi Nurcholis Majid hal. 362 menyebutkan, bahwa dalam shalat membaca Al Fatihah bukanlah suatu persoalan, sedangkan bismillahirrahmanirrahim termasuk di dalam surat Al Fatihah atau tidak, masih diperselisihkan. Kalau mengambil berbagai pendapat mengenai surat Al Fatihah, maka yang wajib betul dibaca dalam shalat adalah dimulai dengan “Alhamdulillah” sampai “wa la al dhallin”, sedang membaca “bismillah”-nya tidak wajib.

Pemahaman ini tidak berarti mengatakan bahwa bismillah bukan dari Al Qur’an. Bahwa bismillah bagian dari Al qur’an memang betul, yaitu terdapat dalam surat Al Naml, yang menceritakan tentang surat Nabi Sulaiman kepada Ratu Bilqis dari Sulaiman dan dimulai dengan kalimat sebagai berikut, “Dengan nama Allah Maha Pemurah, Maha Pengasih” (QS,27:30). Sebelum surat ini turun, ketika hendak membaca Al Qur’an, Nabi membaca “bismikallahumma”. Jadi bismillah pada awal surat yang turun sebelum Al Naml merupakan tambahan dari Nabi. Ini sekedar untuk menjelaskan kenapa ada orang yang membaca bismillah dengan keras dan ada yang tidak dalam shalat. Persoalan ini saya kira sudah selesai masalahnya, tidak perlu kita perdebatkan.

Kita akan mengambil makna dari surat Al Fatihah yang dibaca pada awal berdiri dalam shalat. Yaitu diawali kalimat “bismillahirrahmanirrahim”, Dengan Nama Allah Yang Maha pengasih dan Maha Penyayang . Sebenarnya mengandung bentuk kesadaran yang dalam bagi asal usul penciptaan manusia. Yaitu tentang tujuan Allah menciptakan “manusia” untuk dijadikan “khalifah” dimuka bumi ini. Suatu penghormatan tertinggi atas manusia yang diberi kelebihan kedudukan diatas malaikat dan iblis. Maka dari itu, manusia memiliki kekuasaan untuk mengatur dan memelihara kelangsungan hidupnya maupun alam sekitarnya.

Hal inilah yang dikatakan oleh Nabi, bahwa barang siapa yang tidak membaca “bismillahirrahmanirrahim” dalam setiap pekerjaannya sesungguhnya mereka telah terputus. Artinya manusia telah mengkhianati akan tugas yang diberikan kepadanya, bahwa setiap kebaikan yang dilakukan seharusnya mengatasnamakan Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, bukan mengatasnamakan dirinya atau keluarganya. Dan didalam menjalankan tugas mulia ini, Allah mengingatkan bahwa sesungguhnya manusia adalah “Duta Besar” Allah yang diutus untuk mengurus bumi dan seisinya. Karena sebagai duta besar Allah, maka setiap urusan harus dimulai mengucapkan “bi ismillah” (Atas Nama Allah) bukan “bi ismii” (Atas nama diri sendiri).

Itulah mengapa didalam shalat dimulai dengan membaca surat Al Fatihah. Didalamnya terkandung pujian dan doa untuk memohon petunjuk dalam menjalankan tugas sebagai khalifah. Agar tidak menyimpang dari ketentuan Allah, yaitu jalan yang lurus dan bukan jalan orang-orang yang sesat, iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin, ihdina as shiratal mustaqiim, shirata alladzina an’amta ‘alaihim, ghairil maghdhubi ‘alaihim wa la adhaliin ….. Dengan memaknai pujian dan doa dalam surat Al Fatihah ini, sebenarnya seorang yang menyadari atas bacaan Al Fatihah, akan dibentuk kesadarannya sebagai hamba Allah yang sangat akrab dengan Tuhannya. Disaat mengucapkan makna “kepada-Mu aku menghamba (ibadah) dan kepada-Mu aku memohon pertolongan”, serta “memohon petunjuk atas jalan terang (hidayah) dari kegelapan pikiran maupun hati”. Apabila seseorang membaca dan memaknai dengan benar atas dialog yang disampaikan, pastilah orang-orang yang shalat selalu mendapatkan tuntunan dalam hidupnya dari Allah Swt.

http://zulkarnaen.wordpress.com/category/ensiklopedi-islam-indahnya-shalat-bersama-abu-sangkan

Cahaya Ilahi

7 September 2008

Islam adalah agama wahyu yang diturunkan Allah untuk umat manusia. Berbagai ayat atau tanda bertebaran bukan hanya pada teks-teks Alquran tapi juga pada seluruh ciptaanNya. Allah dalam memberikan ayat-ayat Nya selalu menyajikan dengan kemasan yang sangat indah, simbolik, namun sarat makna. Dan semua itu hanya bisa dimengerti oleh hamba-hambaNya yang dibersihkan hatinya.

Di antara perlambang yang seringkali digunakan Allah adalah cahaya. Dalam Surat An-Nur ayat 35, Allah berfirman:

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Biasanya simbol cahaya (nur) digunakan untuk merefleksikan makna hidayah atau petunjuk. Sebagaimana sinar matahari yang menerangi bumi sehingga manusia dapat melakukan banyak hal di muka bumi. Cahaya atau petunjuk dalam Islam disebut dengan Hidayah. Oleh Allah, setiap hamba sangat dianjurkan untuk selalu meminta hidayah kepadaNya, karena hanya Allah yang memiliki dan memberikan hidayah kepada kita. Dan cara terbaik memohon hidayah kepadaNya adalah melalui ibadah shalat.
Pada dasarnya shalat adalah satu upaya bagi hamba untuk selalu memperoleh petunjuk dan bimbingan dariNya. Karena tugas manusia sebagai khalifah adalah menjaga semesta ini, maka sesungguhnya setiap manusia selalu membutuhkan bimbingan tentang bagaimana mengolah semesta dan kehidupan ini dengan sebaik-baiknya, agar memberikan kemaslahatan bagi semua pihak.

Hidayah Allah yang diberikan ketika shalat bermakna sangat luas. Hidayah atau cahaya Ilahy ini dapat berupa apa saja, menyesuaikan dengan peran kekhalifahan yang diemban setiap hamba. Terkadang, hidayah itu berupa inspirasi, gagasan, imajinasi, pemikiran-pemikiran atau kreativitas yang kemudian dapat memberikan kebahagiaan kepada sesama manusia. Akhirnya, bila setiap hamba mau merenungkan lebih jauh, apa pun profesi atau bidang yang digeluti, maka shalat dapat menjadi media efektif kita untuk mempertajam daya pikir, daya juang, daya kreatif, hingga emosi kita dalam menapaki roda kehidupan ini.
Allah adalah cahaya diatas cahaya, Dia-lah yang mengeluarkan manusia dari kegelapan (dhulumat) menuju terang (An Nur).

Ada dua jalan terang (An Nur) yang diturunkan Allah kepada manusia, yaitu berupa kitab suci yang tertulis (Al Qur’an) dan berupa ilham yang diturunkan kedalam hati tidak berbentuk tulisan. Namun keduanya tidak bisa dipisahkan, karena masing-masing saling membenarkan petunjuk tersebut. Wahyu yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. sebagai landasan kebenaran yang akan dialami bagi orang-orang beriman berupa ilham yang diturunkan kedalam hatinya. Apabila hati orang-orang mukmin merasakan ketenangan ketika menyebut nama Allah, maka sesungguhnya pengalaman ini telah selaras dengan keterangan dalam Al qur’an. Berarti wahyu yang tertulis dengan petunjuk Allah yang dirasakan oleh orang-orang beriman adalah sama . Kebanyakan orang hanya mampu memahami Al qur’an sampai batasan ilmu pengetahuan. Sedangkan orang-orang beriman dalam memahami Al Qur’an, disamping memahami secara tertulis juga memahami berupa cahaya ilahi yang diturunkan kedalam hatinya.

Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang-orang yang membatu hatinya)? Maka celakalah yang membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka dalam kesesatan yang nyata. (QS. AZ Zumar [39]:22)

Kenyataan ini telah dirasakan oleh hampir semua orang-orang Islam, bahwa ilmu agama sudah dalam genggaman otaknya. Namun kemampuan untuk melaksanakan agama dan merasakan amatlah sulit. Seperti rasa iman dan taqwa, secara umum orang bisa memahami dengan pengetahuannya, namun hatinya belum tentu mampu merasakan iman yang apabila disebut nama Allah bergetar hatinya. Innamal mukminuna alladzina idza dzukira allahu wajilat quluubuhum…..(QS Al Anfaal [8]:2). Banyak orang shalat namun belum tentu merasakan kenikmatan shalat, banyak orang berdzikir belum tentu mereka merasakan ketenangan hatinya.
Dan Allah telah menegaskan bahwa semua petunjuk Allah dalam Al qur’an mengarahkan kita untuk memohon pertolongan kepada Allah dalam beribadah, karena tidak seorangpun yang mampu beribadah tanpa pertolongan Allah melalui cahaya-Nya (iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in) Baik membersihkan hati dari kekejian dan kemungkaran, kesabaran, dan ketaqwaan. Semuanya harus melalui tuntunan ilahy dengan cahaya yang menyinari. Sebab tanpa tuntunan-Nya mustahil kita mampu berbuat baik.

Wa nafsin wama sawwaha fa alhamaha fujuraha wataqwa. Demi jiwa dan penciptaannya,kepada jiwa itu diilhamkan jalan keburukan dan jalan ketaqwaan.(QS Asy Syams [91]:7-8).

….wash bir wa ma shabruka illa billa. Bersabarlah kamu, akan tetapi kamu tidak akan bisa sabar kecuali dengan pertolongan Allah ( QS An Nahl [16]:127).

Kalaulah tidak ada kekuatan dan rahmat Allah, tidak ada diantara kalian yang mampu bersih hati selamanya, kecuali Allah yang akan membersihkan hati siapa saja yang dikehendaki. ( QS. Annur [24]: 21)

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. (QS. Yusuf [12]:53)

Al Qur’an telah menyadarkan kita, bahwa tidak ada satupun orang mampu berbuat baik, kecuali melalui tuntunan hidayah-Nya. Inilah spiritualitas yang hadir sejak menusia diturunkan kemuka bumi. Spiritual adalah relasi sejarah yang pernah terjadi pada saat manusia mengambil saksi atas adanya Allah dan sanggup menerima tugas kekhalifahan dimuka bumi.

Alastu birabbikum ? Qaaluu balaa syahidna…. Bukankah Aku ini Tuhanmu, tentu ya Allah kami bersaksi atas keberadaan-Mu….(QS. Araaf [7]:172)

Kesadaran spiritual ini menunjukkan, bahwa didalam menjalankan kehidupan dimuka bumi, memerlukan petunjuk langsung dari Allah melalui shalat untuk mendapatkan informasi berupa intuisi atau melalui ayat-ayat Allah yang tertulis. Hal ini yang dilakukan oleh Nabi Muhamad pada saat mengalami problem, beliau melakukan shalat untuk mendapatkan petunjuk dan bimbingan dalam menyelesaikan masalahnya.

Fai dza hazabahu amrun faza’a ilash shalati .

Do’a

14 September 2008

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina”. (QS. Al Mu’min [40]: 60).

“Doa adalah senjata orang yang beriman dan tiangnya agama serta cahaya langit dan bumi”. (HR. Hakim);

Doa adalah bentuk permohonan seorang hamba kepada Allah SWT. Doa juga menjadi salah satu cara manusia berkomunikasi dan berinteraksi dengan Sang khalik. Doa merupakan inti ibadah sekaligus menjadi senjata bagi orang-orang beriman. Doa juga menjadi kunci bagi terbukanya pertolongan Allah SWT.

“Shalat adalah do’a”, demikian menurut sebuah hadis. Ibadah shalat, yang dimulai dari takbir dan ditutup dengan salam, di dalamnya banyak memuat ungkapan-ungkapan yang mengandung pujian dan doa. Karena prinsipnya, shalat menjadi cara hamba untuk menunjukkan kebaktian dan permohonan kepada Sang Khalik. Hakikat doa adalah penuntun bagi seseorang untuk mengubah dirinya agar menjadi lebih baik. Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 186,

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.

Al Baqarah ayat 201,
“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

Dalam Al Quran surat Al A’raaf ayat 55 Allah SWT memerintahkan umat-Nya untuk berdoa dengan sikap merendahkan diri dan suara yang lembut,

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.

Namun, selain keharusan berdoa dengan merendahkan diri dengan suara yang lembut, kita juga harus memiliki adab dan tata cara berdoa yang benar. Yakni memelihara keyakinan di dalam hati, bahwa doa kita akan dikabulkan, bersungguh-sungguh dalam berdoa, berbaik sangka kepada-Nya, dan mengulang-ulang doa sebanyak mungkin.

Sikap doa ini telah diajarkan nabi pada waktu duduk iftirasy dalam shalat, diawali memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah kita lakukan (rabbighfirli) , memohon dikasihani (warhamni),memohon ditutup aib kesalahan diri (wajburni),memohon diangkat derajat hidup didunia dan diakhirat (warfa’ni), memohon dilimpahkan rejeki (warzuqni), memohon diberi petunjuk dan tuntunan (wahdini),memohon diberikan kesehatan lahir dan bathin (wa afini) dan memohon ampunan atas segala kehilafan (wa’fuanni).

Doa-doa ini diucapkan secara berulang-ulang memberikan dampak kepada mental dan spiritual seseorang apabila dilakukan dengan serius, bukan sekedar membaca. Mengapa demikian? Karena doa yang diucapkan dengan jelas dan diulang-ulang akan tersimpan dalam memori otak si pendoa. Apabila diniatkan oleh hatinya, akan mempengaruhi respons otak yang menghantarkan impuls listrik keseluruh syaraf otak dan seluruh tubuhnya. Kalau sudah tertanam dalam pikiran bawah sadarnya, akan bekerja secara otomatis mempengaruhi gerakan otot, tulang dan organ tubuh yang lainnya. Karena otak telah diprogram secara terus menerus berupa kata-kata positif. Dan program inilah yang menggetarkan seluruh syaraf yang mendorong sekujur tubuh dan pikirannya untuk berbuat seperti yang telah ditanamkan berulang-ulang. Karena otak merupakan motor penggerak yang memiliki jaringan listrik yang amat rumit ke seluruh anggota tubuh manusia. Motor menggerak ini bekerja atas informasi yang ditanamkan melalui data yang tersimpan dalam memori otaknya. Data ini menghasilkan gerak reflek tanpa harus dikendalikan pikiran sadarnya. Maka dari itu, mengapa shalat harus dilakukan dengan sadar dan mengerti apa yang diucapkan. Karena akan mempengaruhi gerakan perilakunya sesuai data yang ditanamkan secara berulang-ulang tersebut. Apabila didalam menjalankan shalatnya tidak dilakukan dengan serius dan tidak diinginkan oleh hatinya, maka gerakan bawah sadarnya juga akan terjadi sesuai data yang kita masukkan dalam pikiran kita, yang disebut Neuro Linguistic Programing (NLP).

Shalat telah membentuk pikiran positif yang ditanamkan berulang-ulang dalam otak , sehingga membentuk program bawah sadar menjadi karakter tubuh dan gerakan. Apabila shalat dilakukan dengan perasaan malas, maka akan tercipta secara otomatis tubuhnya menjadi malas untuk melaksanakan shalat ketika mendengarkan suara adzan dikumandangkan. Demikian pula dengan doa yang diulang-ulang. Seluruh tubuhnya akan merespons apa yang telah tertanam dalam pikiran bawah sadarnya dan mempengaruhi perilakunya. Sehingga setiap saat dorongan dalam bawah sadarnya akan berbuat seperti apa yang diinginkan dalam pikirannya. Misalnya, ketika seseorang dalam doanya ingin mempunyai rumah atau mobil. Jika niatnya ditanamkam benar-benar dari hatinya, maka otak akan merespons niat kita tersebut sehingga disimpan dalam memori.
Dari memori terjadi pemrograman yang akan menggerakkan seluruh syaraf pada otak. Dan syaraf akan mengendalikan tubuh untuk berbuat secara otomatis untuk meraih apa yang dicita-citakan. Disamping itu, gelombang pikiran otak akan selalu bergetar yang dihantarkan oleh gelombang elektromanetik yang akan memancarkan energi keseluruh alam. Getaran pikiran ini akan selalu memancar tanpa henti menembus tanpa halangan. Sehingga dengan mudah pikiran kita ditangkap oleh pikiran yang memancar pula dari pihak yang lain tanpa disadarinya. Dan terjadilah proses hukum alam saling bertemu dalam gelombang yang sama. Pikiran positif akan bertemu dengan pikiran positif, dan pikiran negatif akan bertemu dengan pikiran negatif. Inilah yang dimaksudkan dengan The Law Of Atraction.

Di dalam berdoa, disamping pengaruhnya terhadap mental dan tubuh, juga terjadi hubungan khusus dengan Sang Maha Pencipta. Ketika sesesorang memanjatkan doanya, ruhaninya menembus tertuju kepada pusat energi yang paling tinggi, yaitu Allah Swt. Dengan melakukan doa secara khusus dan penuh keyakinan, sesungguhnya ia sedang meraih energi Tuhan yang selalu terpancar kepada jiwa orang yang mendekati-Nya. Energi Tuhan,hanya bisa turun kepada hati yang pasrah dan merendahkan diri. Kekuatan pasrah akan menghasilkan intuisi dan kecerdasan spiritual yang luar bisa.

Hati

19 September 2008

Setiap manusia memiliki hati dan perasaan, baik rasa marah, rasa benci, rasa memiliki, rasa rindu, rasa cinta maupun rasa percaya (iman) dan rasa mengingkari (kufur) keberadaan Allah. Kalau kita menyadari, setiap apa yang kita lakukan dan kita ucapkan muncul dari sebuah perasaan. Dan dari perasaan (afeksi) inilah muncul sebuah tindakan (konasi). Namun selama ini hal yang menyangkut perasaan (hati) masih disangkut pautkan hanya pada persoalan agama dan Tuhan. Padahal segala bentuk tindakan pasti berasal dari apa yang dirasakan, apakah peasaan baik maupun perasaan buruk.

Ditegaskan oleh ahli agama, terutama yang memperhatikan masalah akhlak kepada Allah, berpendapat bahwa hati manusia merupakan kunci pokok pembahasan menuju pengetahuan tentang Allah (makrifatullah). Hati juga berperan sebagai pintu dan sarana Allah memperkenalkan kesempurnaann diri-Nya. Sebagaimana sabda Nabi mengatakan:

Tidak dapat memuat zat-Ku bumi dan langit-Ku, kecuali ‘hati’ hamba-Ku yang mukmin lunak dan tenang. (HR. Abu Dawud)

Hadist ini menyiratkan bahwa, pengetahuan tentang Allah tidak bisa sekedar difahami oleh pikiran dan pengetahuan yang berasal dari respons indrawi, akan tetapi hanya bisa dirasakan dan difahami oleh hatinya. Karena indrawi hanya bisa menangkap sesuatu yang terbatas. Baik penglihatan, pendengaran dan penciuman, hanya mampu ditangkap oleh indria dengan ukuran tertentu. Selebihnya dari ukuran tersebut tidak akan tertangkap. Sebaliknya hati mampu menangkap sesutu yang tersembunyi dibalik materi, seperti perasaan senang, rasa indah terhadap sebuah benda (art), rasa cinta terhadap sesama maupun kepada Tuhan. Sehingga Allah memberikan isyarat akan hal ini dalam Firmannya:

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami dan mereka mempunuai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melhat dan mereka mempunyai telinga tidak dipergunakan untuk mendengar, mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al A’raaf [7]:179).

Apakah mereka tidak pernah bepergian dimuka bumi ini supaya hatinya tersentak memikirkan kemusnahan itu, atau mengiang di telinganya untuk di dengarkan? Sebenarnya yang buta bukan mata melainkan ‘hati’ yang ada dalam dada. (QS. Al Hajj [22]:46).

Demikian juga rasa iman, tidaklah dikatakan orang beriman jika hanya sampai kepada pemahaman pengetahuan membaca kitab secara tertulis sebagaimana ahli kitab yang terdahulu yang telah tercabut rasa imannya. Kenyataan ini pernah terjadi pengakuan orang Arab Badui yang mendatangi Rasulullah, bahwa dirinya telah beriman kepada Allah. Namun pengakuan orang Badui tersebut dibantah oleh Allah yang disampaikan melalui Rasulullah.

Orang-orang Arab badui itu berkata: Kami telah beriman. Katakan (kepada mereka) kamu belum beriman, tetapi kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu (QS, Al Hujurat,49:14)

Dan Iman itu sesungguhhnya diturunkan oleh secara langsung dan dapat difahami dan dirasakan oleh yang menerimanya.

….tetapi Allah-lah yang menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci keada kekafiran dan kedurhakaan. Mereka itulah yang orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. Sebagaimana karunia dan nikmat dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi bijaksana. (QS. Al Hujuraat [49]:7-8).

Penggunaan istilah hati dalam Al Qur’an menandakan pentingnya hati sebagai tempat yang diperhatikan oleh Allah Swt. karena tempat perasaan baik maupun buruk.

Al Qur’an menggunakan istilah Qalb (hati) dan menyebutnya sebanyak 132 kali. Makna dasar kata qalb ialah membalik, kembali, pergi maju mundur, berubah, naik turun. Diambil dari latar belakangnya, hati mempunyai sifat yang selalu berubah. Sebab hati adalah tempat dari kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kesalahan. Hati adalah tempat dimana Tuhan mengungkapkan diri-Nya sendiri kepada manusia. Kehadiran-Nya terasa didalam hati, dan wahyu maupun ilham diturunkan ke dalam hati para nabi maupun wali-Nya. Allah berfirman :

…ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membuat batasan antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-nyalah kamu sekalian akan dikumpulkan (QS. Al Anfal [8]:24).

….maka Jibril telah menurunkannya (Al qur’an) kedalam hati nuranimu dengan izin Allah, membenarkan wahyu sebelumnya, menjadi peunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman (QS. ,Al baqarah [2]:97).

Hati adalah pusat pandangan, pemahaman dan ingatan (dzikir). Penegasan pengertian tersebut jelas sekali difirmankan Allah dalam Al Qur’an :

Apakah mereka tidak pernah bepergian dimuka bumi ini supaya hatinya tersentak memikirkan kemusnahan itu, atau mengiang ditelinganya untuk didengarkan? Sebenarnya yang buta bukan mata, melainkan hati yang ada didalam dada (QS. Al Hajj [22]:46).

Janganlah kamu turutkan orang yang hatinya telah kami alpakan dari mengingat Kami (zikir), orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya saja,dan keadaan rang itu sudah keterlaluan (QS. Al Kahfi [18]:28).

Memang hati mereka telah kami tutup hingga mereka tidak dapat memahaminya, begitu pula liang telinganya telah tersumbat…. ( QS. Al Kahfi [18]:57).

Apakah mereka tidak merenungkan isi Al Al Qur’an? atau adakah hati mereka yang terkunci? (QS. Muhammad [47]:24).

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi,mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al A’raaf,7:179).

Iman tumbuh dan bersemayam di dalam hati. dan didalam hati pula tumbuhnya kekafiran, kemungkaran serta penyelewengan dari jalan yang lurus. Oleh sebab itu Allah tetap menegaskan, bahwa perilaku ibadah seseorang tidak bisa hanya dilihat dari sekedar syarat sah rukun syariat saja, akan tetapi harus sampai kepada pusat iman, yaitu hati. Karena sering dan banyaknya ibadah yang kita lakukan, kerap kali kita bahkan peribadatan selalu menuntut pemurnian hati (keikhlasan). Padahal kemurnian hati inilah yang akan menghasilkan sesuatu yang haq, serta memberi dampak kepada iman seseorang secara langsung.

Iman yang benar mempunyai ciri tersendiri dan diakui oleh Al qur’an. Ia tertegun dan terharu tatkala nama Allah disebut. Sehingga terdorong ingin meluapkan kegembiraan dan kerinduannya seraya bersujud dan menangis. Hal ini disebabkan adanya kesadaran jiwa yang mampu menembus sinar ilahy yang selalu memancar kepada jiwa yang mau mendekat kepada Allah. Dengan hatilah seorang mukmin mampu menangkap petunjuk yang diturunkan oleh Allah Swt. Dan dengan hati pula Allah menurunkan kesesatan seseorang yang mengingkari Allah.

Allah menilai segala perbuatan manusia ditentukan oleh niat yang ada dalam hati. Rasulullah menuntun kita untuk bekerja dengan hati. Karena Allah hanya mau menerima segala perbuatan yang diniatkan dengan sungguh-sungguh, dan menolak perbuatan orang-orang yang hatinya munafiq. Seperti diungkapkan dalam Al Qur’an :

Innal munafiqiini yukhadi’uunallah,wa hua yakhidi’uhum ….. (QS An Nisaa’ [4]:142)

Ikhlas

19 September 2008

Niat merupakan pendorong kehendak manusia untuk mewujudkan suatu tujuan yang dituntutnya. Pendorong ini banyak sekali ragamnya. Ada yang bersifat materiil, dan ada pula yang bersifat spiritual. Ada yang bersifat individual, dan ada yang bersifat sosial. Ada yang bertujuan duniawi, dan ada yang bertujuan akhirat. Ada yang berkaitan dengan hawa nafsu, dll.

“Bahwasanya segala amal perbuatan tergantung pada niat, dan bahwasanya bagi tiap-tiap orang memperoleh menurut apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya kepada dunia yang ingin didapatkannya, atau wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang ditujunya “. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, At-Tarmidzi dan An-Nasa’I)

“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu kebahagiaan pun di akhirat “. (QS. Asy-Syuraa: 20)

“Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali jika (pelaku) amal itu ikhlas dan mencari keridhaan Allah dengannya “. (HR. Nasa’i)

Sebagai seorang mukmin, hendaknya pendorongnya dalam beramal itu adalah semata-mata menghendaki keridhaan Allah dan demi akhirat, tidak mencampuri suatu amal dengan kecenderungan dunia, misalnya karena menghendaki harta dunia, menghendaki kedudukan, mencari sanjungan, tidak ingin dicela, dll, dan inilah yang disebut ikhlas. Ikhlas dengan pengertian seperti di atas merupakan buah tauhid yang sempurna kepada Allah SWT yaitu metauhidkan ibadah dan memohon pertolongan hanya kepada Allah SWT, seperti yang sering kita ungkapkan di dalam sholat ketika membaca Al-Fatihah: 5, “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. ” Dengan ikhlas yang murni inilah, kita bisa membebaskan diri kita dari segala bentuk perbudakan, melepaskan diri dari segala penyembahan selain Allah, seperti penyembahan kepada dinar, dirham, perhiasan, wanita, kedudukan, tahta, kehormatan, nafsu, dll, dan dapat menjadikan kita seperti yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya,

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb sekalian alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).’” (QS. Al-An’am: 162-163).

Riya’ merupakan lawan dari ikhlas merupakan kedurhakaan yang sangat berbahaya terhadap diri dan amal, juga termasuk dosa yang merusak, sebagaimana firman Allah SWT,

“… seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orangorang yang kafir “. (QS. Al Baqarah [2]: 264)

Di ayat lain Allah SWT berfirman,

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya, orang-orang yang beruat riya’, dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna “. (QS. Al-Ma’un [107]:5-7)

Tentang riya’ ini di dalam hadits, Rasulullah SAW pun bersabda,

“Sesungguhnya orang yang pertama-tama diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Dia didatangkan ke pengadilan, diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka diapun mengakuinya. Allah bertanya, “Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?” Dia menjawab, ‘Aku berperang kepada Engkau hingga aku mati syahid.’ Allah berfirman, “Engkau dusta. Tetapi engkau berperang supaya dikatakan, ‘Dia adalah orang yang gagah berani.’ Dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu) “. Kemudian diperintahkan agar dia diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke dalam neraka.

Berikutnya yang diadili adalah seseorang yang memperlajari ilmu dan mengajarkan serta membaca Al-Qur’an. Dia didatangkan ke pengadilan, lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka diapun mengakuinya. Allah bertanya, “Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?” Dia menjawab, ‘Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca Al-Qur’an karena-Mu.’ Allah berfirman, “Engkau dusta. Tetapi engkau mempelajari ilmu agar dikatakan, ‘Dia adalah orang yang berilmu,’ dan engkau membaca Al-Qur’an agar dikatakan,’Dia adalah qari’ (pandai membaca).’ Dan, memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu) “. Kemudian diperintahkan agar dia diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke dalam neraka.

Berikutnya yang diadili adalah orang yang diberi kelapangan oleh Allah dan juga diberi-Nya berbagai macam harta. Lalu dia didatangkan ke pengadilan, diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka diapun mengakuinya. Allah bertanya, “Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?” Dia menjawab, ‘Aku tidak meninggalkan satu jalanpun yang Engkau suka agar dinafkahkan harta, melainkan aku menafkahkannya karena-Mu.’ Allah berfirman, “Engkau dusta. Tetapi engkau melakukannya agar dikatakan, ‘Dia seorang pemurah.’ Dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu) “. Kemudian diperintahkan agar dia diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke dalam neraka “.
(HR. Muslim, An-Nasa’I, At-Tarmidzi dan Ibnu Hiban)

Tatkala Mu’awiyah mendengar hadits ini, maka ia pun menangis hingga pingsan. Setelah siuman dia berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya benar. Allah telah berfirman,

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka itu di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan merugi. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka “.’ (QS. Huud [11]: 15-16)

Ghaib


18 September 2008

Surat Al Baqarah diawali dengan kalimat mutasyabihat “alim lam miim”, kemudian menjelaskan bahwa Al Qur’an adalah kitab penuh kebenaran dan tidak ada keraguan didalamnya bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan yang gaib, sebagaimana firman Allah:
Alif lam miim. Kitab (Al qur’an) tidak ada keraguan padanya. Petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Yaitu mereka yang beriman kepada yang GAIB, melaksanakan SHALAT, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada (Al qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan kitab-kitab yang diturunkan sebelum engkau,dan mereka yakin akan adanya akhirat. (QS, Al Baqarah [2]:1-4)

Istilah “GAIB”, oleh masyarakat sering dikaitkan dengan makhluk gaib atau ilmu gaib (mistik) dunia lain yang menyeramkan. Karena memang kata gaib mempunyai arti tidak kasat mata, maya, tidak terlihat, seperti jin, malaikat, syurga, neraka, dan hari kiamat. Sebagian masyarakat ada yang menolak ketika membicarakan persolan gaib karena alasan tidak masuk akal. Hal ini berawal para ahli ilmu modern, mendasari setiap peneliatian harus bersifat empiris. Sehingga sesuatu yang tidak bisa difahami oleh indrianya akan ditolak dan dikatakan tidak termasuk kajian ilmiah. Dasar ilmu empirisme ini berakibat kepada masyatakat modern menjadi alergi terhadap dunia gaib, dalam hal ini berujung ketidakpercayaan terhadap adanya Allah, syurga, neraka yang bersifat gaib. Karena dianggap keberadaan Allah dan seluruh ciptaan Allah yang gaib dianggap tidak ilmiah dan tidak masuk akal. Itu sebabnya mengapa akhirnya banyak orang meninggalkan agama, dan bahkan menetapkan diri
sebagai golongan atheis (tidak percaya adanya Tuhan). Padahal agama banyak menceritakan persoalan yang tidak kasat mata (gaib), baik yang bersifat materi maupun immateri seperti perasaan dan cinta.

Kepercayaan kepada yang gaib justru dalam Islam sangat ditekankan, karena membicarakan kesadaran tentang asal usul kejadian manusia maupun alam semesta. Disamping itu, memberikan kesadaran akan tujuan hidup manusia didunia maupun diakhirat kelak. Kesadaran ini tidak mungkin bisa difahami, apabila hanya mendasari pengetahuannya dengan mazhab empirisme yang serba materi. Mengapa konsep keimanan sangat penting untuk memulai kesadaran berketuhanan. Sehingga Islam menempatkan Iman sebagai landasan kepercayan atau kesadaran awal dari kehidupan beragama. Maka dari itu pembahasan masalah ketuhanan tidak terlepas dari iman kepada yang gaib, seperti iman kepada Allah (Yang Maha gaib), iman kepada Malaikat, iman kepada kitab-kitab suci, iman kepada hari akhir, iman kepada para nabi, iman kepada ketetapan baik dan buruk dari Allah swt.

Keimanan ini termasuk sebuah kesadaran yang harus dimiliki oleh setiap manusia yang hidup. Karena kesadaran merupakan sebuah ruangan tersendiri dari aspek kejiwaan manusia. Karena dengan kesadaran, manusia akan mengerti akan diri yang sejati atas keberadaannya.

Kesadaran bagi orang-orang materialisme, merupakan bentuk kesadaran pada taraf kesadaran seperti orang bangun tidur atau dari pingsan. Akan tetapi ada tingkat kesadaran pada tatanan mental, yaitu kesadaran yang berkaitan dengan tingkat intelektualitas dan kualitas kesadaran. Ada perbedaan yang sangat tajam antara kedua tingkat kesadaran tersebut. Kesadaran bagi yang sudah sadar dari tidur dan tidak pingsan belum tentu memiliki kualitas kesadaran. Orang gila misalnya, ia memiliki tingkat kesadaran pertama. Akan tetapi ia tidak menyadari akan dirinya, terkadang ia mengaku raja Jawa dan berperilaku layaknya seorang raja, padahal dia hanyalah seorang tukang batu. Mungkin sebagian manusia berada pada tingkat kesadaran primitip, tidak menyadari bahwa bumi yang ditempati sedang berputar dengan kecepatan tinggi, bahkan melebihi kecepatan peluru yang ditembakkan. Kesadaran yang dirasakan tidaklah demikian. Seolah bumi hanya diam dan mataharilah yang bergerak dari
arah timur ke barat.

Seandainya ilmu pengetahuan tidak pernah kita dapatkan masalah asal usul kejadian manusia. Mungkinkan kita percaya, bahwa kita pernah hidup didalam perut seorang ibu?. Disana kita makan tanpa menggunakan mulut dan tidak perlu bekerja untuk mencarinya. Sebelumnya kita berasal dari sel seperma yang sangat kecil bentuknya. Dan mungkin kita tidak akan percaya bahwa bahan untuk menciptakan manusia adalah berasal dari sari pati tanah. Padahal kita hidup, sadar dan tidak pingsan. Apakah untuk menyadari sesuatu harus dengan penglihatan mata dan pendengaran telinga? Perlukan kita menyadari dengan melihat dan merasakan bumi sedang berputar cepat. Tentu tidak. Kita hanya memerlukan kesadaran intelektual untuk membangun kesadaran ini.

Demikian pula kesadaran tentang “Tuhan”, kita tidak harus melihat secara langsung akan keberadaan Sang Pencipta untuk menyadari dan mengimani-Nya. Cukup memahami bahwa seluruh benda yang tergelar pastilah ada yang merancang. Justru bagi yang tidak percaya adanya yang merencanakan alam semesta, Al qur’an menyebutnya sebagai orang sangat primitip dan rendah ilmu pegetahuannya. Oleh sebab itu, bagi orang-orang percaya dan sadar atas keberadaan dan kebenaran adanya Allah disebut ulul albab, yaitu orang yang memiliki kesadaran tinggi. Sebagaimana Firman Allah:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dasn siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(yaitu) orang-orang yang menginat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka meikirkan tentang penciptaan langit dan bumi(seraya berkata): Ya Tuhan kami,tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau,maka peliharalah kami dari siksa neraka (QS. Ali Imran [3]:190-191)
Dasar inilah yang dikatakan kesadaran keimanan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Menciptakan. Setelah memahami kesadaran ini, maka wajiblah kita mengakui dan menyerahkan diri dan jiwa kita untuk berbakti kepada-Nya.

Iman bukanlah semata-mata percaya bahwa Tuhan itu ada. Jika persoalannya Tuhan itu ada, maka iblis adalah makhluk yang tidak saja percaya bahwa Tuhan itu ada, dia bahkan berhadapan langsung dengan Tuhan dalam suatu dialog yang sengit dalam drama kosmis sekitar pengangkatan Adam sebagai khalifah. Tetapi, iblis yang demikian itupun dikutuk sebagai kafir.
“Ia menolak dan menyombongkan diri,dan ia termasuk diantara mereka yang tidak beriman (QS. Al Baqarah [2]:34).

Kalau iblis dijadikan contoh, maka beriman itu tidak cukup hanya dengan penegasan diri bahwa Tuhan itu ada. Beriman ialah mempercayai Tuhan dan menaruh kepercayaan kepada Tuhan. Apapun yang dianugerahkan Allah kepada kita, itu harus diterima dengan ridha.itulah yang disebut radhiyatan mardhiyah. Dengan demikian,Allah akan mengatakan :
Masuklah engkau ke dalam golongan hamba-hamba-Ku! Masuklah engkau ke dalam syurga-Ku (QS,Al Fajr,89:29-30).

Shalat merupakan jalan meletakkan kepercayaan kepada Allah, sehingga dibuka dalam doa iftitah:
inna shalati wa nusuki,wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin.
Sesungguhnya shalatku, pengabdianku, hidup dan matiku hanya mengikuti keputusan Allah Tuhan Penguasa Alam.

Namun jika didalam kesadarannya kita tidak memiliki keimanan, maka shalat yang demikian tidak memberikan dampak apa-apa terhadap jiwa pelakukanya.

Iman kepada Yang Gaib, bukan berarti mempercayai sesuatu yang tidak ada. Sesungguhnya yang gaib itu adalah nyata adanya. Sebagaimana ruh yang dikandung dalam badan kita. Secara kasat mata ruh tidak kelihatan oleh mata, akan tetapi “NYATA” adanya. Kenyataan ini yang tidak bisa diukur dengan konsep emperis materialisme. Karena yang bukan materi juga sebenarnya “empiris”. Mengapa kita mengingkari adanya perasaan “cinta” dalam dada. Padahal perasaan itu bukanlah berada dalam lempengan hati berupa daging. Ia ada pada dimensi ruhani yang juga bersifat gaib. Sama halnya dengan adanya Allah, secara fisik tidak ada alat ukur untuk menangkap keberadaan Allah maupun fiman Allah, karena alat ukur seperti indria hanyalah menangkap sesuatu yang bersifat terbatas. Telinga tidak mampu menangkap suara gerakan kuman atau semut yang sedang berjalan, mata telanjang tidak mampu melihat ruang angkasa yang sangat luas. Akan tetapi keberadaan Allah hanya bisa
dirasakan oleh hati orang yang beriman. Sehingga respons-Nya menggetarkan hati yang menyebut Nama Allah (dzikrullah).

Fikih

14 September 2008

Satu hal penting dalam pembahasan shalat adalah fikih. Karena fikih sebagai kompilasi hukum Islam di dalamnya memuat aturan-aturan, tata cara dan prosedur penyelenggraan ibadah, termasuk penyelenggaraan ibadah shalat. Sholat dalam fiqih adalah rangkaian gerak gerik yang kita mulai dengan niyat, talbiratul ihram, dan lalu diahiri dengan salam, diawali dengan “Allahu akbar” yang diahiri dengan ucapan “assalamu alaikum”. Artinya kita tidak akan dapat melakukan sholat tanpa melakukan tahap serta syarat dalam fiqihiyah tersebut. Akan tetapi rutinitas sholat fiqiyah tersebut hanya menonjolkan sisi fisik dari penyembahan terhadap Tuhan, serta kecendrungan yang muncul adalah shalat hanya dimaknai sebagai sebuah kewajiban hamba terhadap Tuhannya, sehingga sholat hanya rutinitas yang menjemukan bagi umat manusia.

Kalau diperhatikan dari maknanya “fiqh” berasal dari bahasa Arab “fiqhun”, berarti pemahaman yang mendalam atas tujuan gerakan (perbuatan) dan perkataan. Makna ini diambil dari pengertian kata Fiqh dalam Al qur’an.
Famali haa ulaai al qaumi yakaduna yafqahuna hadiitsa ……
…..maka mengapa orang-orang itu (kaum munafiq) hampir-hampir tidak memahami (yafqahuna) pembicaraan sedikitpun ( QS, An Nisa, ’: 78)
…..mereka memilki hati, akan tetapi tidak dapat memahami (QS, Al A’raf [7] : 179 )
waman yuridillahu bihi khairan yufaqqihu fi addin …..
…..barangsiapa yang dikehendaki Allah suatu kebaikan, maka Allah pahamkan dalam beragama.
Fiqh shalat secara khusus memiliki kelengkapan makna dan pemahaman yang terkandung dalam setiap gerakan dan ucapan yang disyariatkan oleh Allah Swt. Sehingga setiap gerakan seperti takbir, rukuk, sujud, iftirasy, tahiyyat dan salam tidak hanya sekedar bergerak. Akan tetapi merupakan sebuah simbol-simbol gerak rasa kepatuhan dan kecintaan hati seorang hamba kepada tuhannya. Itu sebabnya mengapa Rasulullah menyuruh umatnya shalat dengan gerakan yang tumakninah, dan tidak dilakukan dengan terburu-buru. Karena setiap gerakan dalam setiap rakaat mempunyai faidah yang berpengaruh terhadap tubuhnya. Pada saat berdiri tumakninah maupun rukuk dan sujud dengan tumakninah, tulang-tulang maupun otot akan merasakan istirahat. Demikian juga setiap bacaan yang diucapkan akan memberikan pengaruh kepada perubahan jiwa bagi yang shalat dengan merendahkan hatinya. Karena setiap berdoa, berarti berhubungan dengan Yang Maha Menciptakan.

Rasulullah menuntun tata cara shalat secara khusus dan bersifat mahdhah. Yaitu suatu syariat yang bersifat baku dan tidak boleh ada seorangpun yang merubah tatanan shalat ini. Dasar ini mengacu kepada sabda Rasulullah “shallu kama raitumuni ushalli, shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat Aku shalat”.

Tuntunan praktis yang diajarkan rasulullah kepada para sahabat ini, disampaikan turun-temurun sampai kepada umat Islam sekarang. Walaupun ada perbedaan sedikit masalah furu’ (cabang-cabang) tetapi tidak merubah rukun ketetapan prinsip syar’i. Hal ini hanya disebabkan karena perbedaan dalam memahami peristiwa yang dilakukan Nabi dalam menjalankan ibadah shalat yang memang menyesuaikan kondisi jamaah pada waktu itu.

Banyak hadist Rasulullah yang menceritakan bahwa beliau selalu mengkontrol gerakan shalat dan kekhusyu’an para sahabat ketika melakukan shalat. Ketika diantara ada jamaah yang salah melakukan ruku’ atau sujud. Beliau langsung menegur dan membetulkan shalatnya, lalu jamaah yang lainnya mengikutinya. Namun berita-berita pengajaran Nabi kepada jamaah tidak selalu lengkap yang kita peroleh dari ahli fiqh. Karena dalam setiap pengajaran dan praktek yang dilakukan oleh nabi kepada para sahabat berbeda-beda. Terkadang nabi shalat gerakannya agak dipercepat ketika menghadapi jamaah yang sepuh. Dan terkadang pula Nabi shalat membutuhkan waktu yang lama, sehingga pernah dikeluhkan oleh sahabat yang mengikuti berjamaah dengan Beliau. Dengan adanya perbedaan kondisi dan situasi yang dibawakan oleh Nabi, menyebabkan seolah-olah shalat yang dilakukan diberbagai negara Islam itu berbeda-beda. Karena kebanyakan umat mengira shalat nabi hanya melakukan satu gaya saja. Sehingga ketika ada seorang dari mazhab yang lainnya melaksanakan shalat yang berbeda, dianggap bid’ah dan sesat. Hal inilah yang menyebabkan perdebatan pada kalangan masyarakat, karena ketidaktahuan proses sejarah rilwayah dan dirayah hadist maupun mustahul hadist.
Sahabat Nabi memperoleh kedudukan sangat penting dalam fikih.

Pertama, sebagai ahli hadits karena mereka adalah orang yang berjumpa dengan Rasulullah saw dan meninggal dunia sebagai orang Islam. Karena itu, dari mereka pula kita mewarisi ikhtilaf (perbedaan) di kalangan kaum Muslim.

Kedua, era sahabat juga dikenal sebagai masa berakhirnya masa tasyri’. Inilah embrio ilmu fiqh yang pertama. Bila pada zaman tasyri’ orang memverifikasi pemahaman agamanya atau mengakhiri perbedaan pendapat dengan merujuk pada Rasulullah, maka pada zaman sahabat rujukan itu adalah diri mereka sendiri. Sementara itu, perluasan kekuasaan Islam dan interaksi antara Islam dengan peradaban-peradaban lain menimbulkan masalah-masalah baru. Dan para sahabat merespon situasi ini dengan mengembangkan fiqh (pemahaman) mereka.

Ketika menceritakan ijtihad pada zaman sahabat, Abu Zahrah menulis: Di antara sahabat ada yang berijtihad dalam batas-batas al-Kitab dan al-Sunnah, dan tidak melewatinya; ada pula yang berijtihad dengan ra’yu bila tidak ada nash, dan bentuk ra’yu-nya bermacam-macam; ada yang berijtihad dengan qiyas seperti Abdullah bin Mas’ud; dan ada yang berijtihad dengan metode mashlahat, bila tidak ada nash.

Dengan demikian, zaman sahabat juga melahirkan prinsip-prinsip umum dalam mengambil keputusan hukum (istinbath; al-hukm); yang nanti diformulasikan dalam kaidah-kaidah ushul fiqh.
Ketiga, ijtihad para sahabat menjadi rujukan yang harus diamalkan, perilaku mereka menjadi sunnah yang diikuti. Al-Syathibi menulis, “Sunnah sahabat r.a. adalah sunnah yang harus diamalkan dan dijadikan rujukan”. Dalam perkembangan ilmu fiqh, madzhab sahabat – sebagai ucapan dan perilaku yang keluar dari para sahabat – akhirnya menjadi salah satu sumber hukum Islam di samping istihsan, qiyas, mashalih mursalah dan sebagainya. Madzhab sahabat pun menjadi hujjah. Tentang hal ini, ulama berbeda pendapat. Sebagian menganggapnya sebagai hujjah mutlak; sebagian lagi sebagai hujjah bila bertentangan dengan qiyas; sebagian lainnya hanya menganggap hujjah pada pendapat Abu Bakar dan Umar saja, berdasarkan hadits “berpeganglah pada dua orang sesudahku, yakni Abu Bakar dan Umar”; dan sebagian yang lain, berpendapat bahwa yang menjadi hujjah hanyalah kesepakatan khulafa’ al-Rasyidin.

Karena posisi sahabat begitu istimewa, maka tidak mengherankan bila mazhab sahabat menjadi rujukan penting bagi perkembangan fiqh Islam sepanjang sejarah. Tentu saja, menurut kesepakatan ahl al-sunnah, di antara para sahabat itu yang paling penting adalah khulafa al-rasyidun. Bila mereka sepakat, pendapat mereka dapat membantu memecahkan masalah fiqh; bila mereka ikhtilaf, mazhab sahabat menimbulkan kemusykilan yang sulit diatasi.

Fiqh para sahabat (khulafa rasyidun) adalah fondasi utama dari seluruh bangunan fiqh Islam sepanjang zaman. Fiqih shahabi memberikan dua macam pola pendekatan terhadap syari’ah yang kemudian melahirkan tradisi fiqh yang berbeda. Ikhtilaf di antara para sahabat, selain mewariskan kemusykilan bagi kita sekarang, juga – seperti kata ‘Umar ibn Abdul Aziz – menyumbangkan khazanah yang kaya untuk memperluas pemikiran.

Setelah Nabi Muhammad saw meninggal dunia, orang-orang Islam bertanya pada sahabat dalam urusan hukum-hukum agama. Tidak semua sahabat menjawab pertanyaan mereka, dan mereka pun tidak bertanya pada semua sahabat. Sebagian sahabat sedikit sekali memberi fatwa, mungkin karena ketidaktahuan, kehati hatian, atau lagi-lagi pertimbangan politis. Sebagian lagi banyak sekali memberi fatwa, mungkin karena pengetahuan mereka, atau karena posisinya memungkinkan untuk itu.
Menarik untuk dicatat, bahwa dalam khazanah fiqh ahl al-Sunnah para khalifah sedikit sekali memberi fatwa atau meriwayatkan al-hadits. Abu bakar meriwayatkan hanya 142 hadits, Umar 537 hadits, Utsman 146 hadits, Ali 586 hadits. Jika semua hadits mereka disatukan hanya berjumlah 1411 hadits, kurang dari 27% hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah (Abu Huraiah meriwayatkan 5374 hadits). Itu karena para tabi’in, yakni mereka yang berguru pada sahabat, umumnya bukanlah murid al-Khulafa al-Rasyidin.

Esa

14 September 2008

Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Dialah Tuhan seluruh makhluk, dan tiada sekutu bagiNya. Dalam Al Quran surat Ali Imran ayat 18 disebutkan:

“Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana “.

Pengakuan hamba terhadap keesaan Allah SWT tertuang dalam kalimat tauhid Laa ilaaha ilallah, yang berarti tidak ada sesuatu (tuhan) yang berhak disembah kecuali Allah.

Dikisahkan dalam Hadis Riwayat Bukhari, dan Muslim, bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada Mu’adz bin Jabal ra,

“Jadikanlah perkara yang pertama kali kamu dakwahkan ialah agar mereka mentauhidkan Allah “.

Satu sikap penting dalam ibadah shalat adalah pengesaan seorang hamba akan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang disembah. Ungkapan ini dirangkum dalam dua kalimat syahadat yang selalu dibaca ketika dalam posisi tasyahud; baik tasyahud awal atau pun pada tasyahud akhir.

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui “. (QS. Al Baqarah [2]: 21-22).

Definisi ESA (tauhid) menurut bahasa adalah mengetahui bahwa sesuatu (Tuhan) itu satu. Sedangkan secara umum, tauhid dipahami sebagai pengesaan Allah SWT. Agar dalam mengabdi kepada-Nya tidak menduakan-Nya.

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan satu jua pun dalam beribadat kepada Tuhannya. “. (QS. Al Kahfi [18]: 110).

Pengesaan yang diungkapkan dengan kalimat Laa ilaaha ilallah (Tidak ada sesuatu yang kita cintai atau kita sembah selain Allah); dalam hal ini bisa saja berupa anak kita, pasangan hidup kita, ataupun pangkat, jabatan, materi berlimpah, maupun hobi, dan lain sebagainya, yang kemudian menghantui dan menguasai pikiran kita.
Rasulullah diutus Allah, untuk memperbaiki kembali tatanan kehidupan manusia dalam berketuhanan dan menyempurnakan syariat sebelumnya. Karena sepeninggal para nabi sebelumnya, masyarakat telah banyak merubah konsep ketuhanan yang murni (hanif) menjadi menuhankan para pendeta, rahib-rahib, bahkan menuhankan para nabi sang pembawa risalah. Masalah ini telah terungkap dalam Al qur’an:

“Mereka itu menjadikan rahib-rahib dan pendetanya sebagai tuhan selain Allah …” [QS. At Taubah [9]:31)

“Manusia menjadikan sesembahan selain Allah, dan mereka mencitai Tuhan seolah seperti mencitai Allah. Sedangkan orang-orang mukmin mencitai Allah lebih dahsyat lagi ….” [QS. Al Baqarah [2]:165)

Kemudian Al qur’an meluruskan kembali dengan menurunkan surat Al Ikhlas, qul huwa Allahu ahad, Allahu ash shamad,…….

Keberhasilan Rasulullah untuk menciptakan kondisi kemurnian spiritual masyarakat Arab, ditandai dengan pembersihan berhala-berhala yang disimpan di dalam Ka’bah. Langkah ini menandakan agama tauhid telah tegak kembali. Sehingga didalam shalat, seorang hamba menyerahkan dirinya dengan tertuju langsung kepada Allah tanpa perantara. Sebagaimana didalam sebuah doa iftitah diungkapkan,
“Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharassamawati wal ardh, hanifan musliman wama ana minal musyrikin, inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbail ‘alamin”.
“Aku hadapkan wajahku kepada Wajah Tuhan Yang Menciptakan Langit dan Bumi dengan lurus sebagai orang yang berserah diri dan tidak menyekutukan-Nya. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Tuhan Sekalian Alam”.

Konsep ini telah menjadi baku didalam ajaran Islam sampai sekarang. Oleh karenanya, Allah sangat keras ancamannya bagi orang yang melakukan dosa syirik (menyekutukan Allah). Hal ini untuk menegaskan bahwa Tuhan Sang Pencipta Alam semesta hanyalah satu adanya (monoteisme). Islam tidak mengakui dan menolak adanya perantara didalam beribadah shalat maupun berdzikir kepada Allah. Sehingga shalat merupakan ibadah yang sangat individual, walaupun dilaksanakan secara berjamaah.

Ketauhidan ini (mengesakan Allah) sangat penting dipelajari. Sebab jika tidak, arah spiritual seseorang akan terjebak kedalam spiritual yang tidak bisa dipertanggungjawabkan sehingga tersesat. Ketika ruhani seseorang mencari Tuhan, kemudian menemukan pendapat bahwa Tuhan adalah seorang laki-laki atau berwujud manusia, maka ruhani sang pencari Tuhan tersebut akan mengarah kepada persepsi apa yang dipikirkan. Apabila arah pikirannya berkonsentrasi kepada benda-benda seperti lilin, suara musik, patung dan lain-lain, maka jiwanya berhenti kepada benda-benda yang dipikirkan dalam samadinya. Sebagaimana seseorang yang sedang mencintai sebuah benda, misalnya mobil. Pikiran dan jiwanya pasti akan selalu teringat mobil tersebut, dan jiwanya tidak bisa keluar dari apa yang dipikirkan. Akan tetapi apabila seseorang yang mengarahkan jiwanya kepada yang bukan benda, yaitu Zat Mutlak Penguasa Alam Semesta, maka jiwa akan menembus dan meluas tak terbatas melampaui ruang dan waktu.

Pikiran manusia tidak mampu menghayalkan wujud Tuhan, karena mata tidak pernah melihatnya, telinga tidak pernah mendengarkan suaranya. Sehingga otak kita tidak pernah menerima informasi melalui reseptor indria kita. Ketika indria manusia tidak memberikan informasi tentang keadaan Wujud Tuhan, maka otak tidak akan bergetar memberikan persepsi tentang Tuhan. Akan tetapi kalau kita bertuhan dengan perantara benda-benda, indria kita akan memberikan informasi kepada otak melalui neurotransmiter dan disimpan dalam memori otak. Sehingga setiap kali mengingat Tuhan, pasti yang bergetar adalah impuls listrik pada temporal lobes.

Inilah yang diyakini oleh Michael Persinger sebagai Titik Tuhan (God Spot). Dalam penelitiannya, seseorang yang sedang membicarakan Tuhan atau mendengarkan tentang ketuhanan maka temporal lobes-nya akan bergetar. Persinger lalu tertarik untuk menciptakan ruangan laboratorium spiritual untuk membantu orang yang ingin menggetarkan titik tuhan dalam otaknya. Caranya dengan membuat alat ukur elektromagnetik scranial yang ditempelkan pada otaknya agar ia bisa berjumpa Tuhan. Penelitian ini telah menghebohkan dunia spiritual klasik yang dilakukan para sufi dan ahli ketuhanan murni. Karena pendapat Persinger ini justru mengaburkan nilai ketuhanan Islam yang tidak bisa dipersepsikan oleh otaknya. Menurutnya, siapapun bisa berspiritual tanpa harus beragama formal. Karena itu spiritual yang dikembangkan oleh Persinger adalah spiritual digital, yang berasal dari getaran otak yang berspiritual dengan perantara benda-benda. Sehingga benda-benda (berhala) itulah yang menggetarkan impuls listrik pada temporal lobes si penyembah berhala yang dikirim melalui reseptor mata dan telinga. Berbeda dengan penyembah Tuhan Yang Maha Esa, yaitu Tuhan yang tidak bisa ditangkap oleh reseptor mata, telinga, penciuman sehingga temporal lobes pada otak tidak bergetar.

Kerancuan ini menjadi masalah baru didalam berketuhanan, dan merusak tatanan agama formal sehingga semua agama sama, atau berspiritual tidak harus berketuhanan. Maka semakin jelaslah, bahwa “keesaan” Allah menjadi kabur akibat pemahaman persepsi yang salah, karena konsep spiritual yang dikembangkan adalah spiritual digital.

Niat

29 September 2008

Sahabat-sahabat Rasulullah adalah generasi terbaik ummat ini. Mereka terus belajar dari Rasulullah apa-apa saja yang harus dikerjakan dan apa saja yang mesti mereka tinggalkan. Soal menjaga lurusnya niat di dalam hidup dan perjuangan mereka, tak bosan-bosan para sahabat itu berguru kepada Rasulullah. Seperti dikisahkan oleh Umamah radhiyallahu ‘anhu.

Ada seorang laki-laki yang datang menemui Rasulullah dan bertanya, “Wahai Rasulullah, Apakah pendapat engkau tentang seseorang yang berperang dengan tujuan mencari pahala dan popularitas diri. Kelak, apa yang akan ia dapat di akhirat?” Rasulullah menjawab, “Dia tidak mendapatkan apa-apa “.Orang itu mengulangi lagi pertanyaannya sampai tiga kali. Tetapi Rasulullah tetap menjawabnya, “Ia tidak menerima apa-apa!” Kemudian beliau bersabda, Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal perbuatan, kecuali yang murni dan yang mengharapkan ridha-Nya. (HR. Abu Daud dan Nasa’i).

Dalam kesempatan lain Abu Said Al-Khudri telah mengambil pelajaran berharga dari Rasulullah pada saat haji wada’.

“Tiga perkara yang menjadikan seorang mukmin tidak akan menjadi pengkhianat: Ikhlas beramal karena Allah, memberikan nasihat yang baik kepada para pemimpin kaum Muslimin, dan senantiasa komitmen terhadap jama’ah “.(HR Ibnu Hibban).

Seni menjaga lurusnya niat tidaklah mudah. Karenanya, seperti dikatakan oleh Fudhail bin “lyadh “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, dan beramal karena manusia adalah syirik. Maka, ikhlas adalah apabila Allah menyelamatkan kamu dari keduanya “.

Urgensi niat sangatlah mendasar bagi kehidupan dan perjuangan setiap mukmin. Dengannya segala amal akan diukur. Inilah yang didengar dan diamalkan Umar bin Khatab dari Rasulullah, “Bahwa amal itu tergantung niat-nya”. Maka, tak berlebihan kalau Imam Syafi’i menyebut hadits Rasulullah ini adalah sepertiga dari seluruh ilmu.

Niat yang baik sering mengubah sesuatu yang mubah menjadi ibadah, Wajar bila perhatian para salafusshalih kepada niat begitu besar. Dengarlah apa yang dikatakan oleh Yahya bin Katsir, “Pelajarilah niat dalam beramal, karena niat itu lebih cepat sampai kepada Allah dari pada amal yang engkau lakukan itu “.

Meski upaya menjaga lurusnya niat telah diupayakan, namun mereka tak merasa puas dan cukup begitu saja. Iman yang benar telah menjadikan mereka memadukan antara rasa pengharapan dan kecemasan. Karenanya, mereka masih menambahinya dengan istighfar. Imam Hasan Al-Bashri berkata: “Perbanyaklah istighfar di rumahmu, di ruang makan, di tengah perjalanan, di pasar, tempat kerja, di pertemuan-pertemuan dan di mana pun dirimu berda saat itu. Sebab engkau tidak akan tahu di temapt manakah turunnya maghfirah Rabb-mu”. Nah bagaimana dengan kita?

Sebuah masyarakat muslim yang utuh menjadi dambaan setiap sahabat. Tindak tanduk ucapan mereka bisa menjadi cermin bagi ucapan di atas. Apalagi sebuah jama’ah da’wah. Ibnu Mas’ud, misalnya, pernah memberi nasehat, “Wahai sekalian manusia, hendaklah kalian selalu taat dengan jama’ah kaum muslimin. Karena sesungguhnya ia adalah tali Allah yang kokoh yang diperintahkan untuk dipegang. Sesungguhnya apa yang tidak engkau sukai dalam kebersamaan di jama’ah itu, adalah lebih baik dari apa yang engkau sukai dalam keadaan terpecah belah “.

Hal serupa juga dilakukan para sahabat lainnya. Para sahabat lebih suka memutuskan masalah dengan syura, agar barisan masyarakat muslim tetap rapat. Suatu hari Umar ber-pidato,

“Sesungguhnya Allah telah mengumpulkan untuk Islam ini orang-orang yang layak untuk memeluknya. Lalu Allah menyatukan hati mereka dan menjadikan mereka bersaudara. Seorang muslim dengan muslim yang lain bagaikan satu tubuh. Bila yang satu terkena sakit yang lain tak akan tinggal diam. Karenanya, sangat layak bila mereka menjadikan perkara mereka diputuskan dengan syura bersama para ahli di antara mereka,”

Demikian Imam Ibnu Jarir meriwayatkan. Karenanya, Umar bin Khatab dalam menjalankan pemerintahannya, menjadikan para sahabat senior, khususnya pengikut perang Badr, untuk menjadi tim penasihatnya. Mereka bahkan tak boleh tinggal jauh di luar Madinah.
Saat genting setelah wafatnya Rasulullah juga menjadi waktu penting para sabahat untuk menjaga agar barisan da’wah Islam tetap utuh, seperti yang ditunjukkan oleh Ali bin Abi Thalib, misalnya. Kisahnya, setelah Abu Bakar di angkat menjadi Khalifah, Abu Sufyan menemui Ali seraya berkata, “Engkau dikalahkan dalam urusan kekuasaan ini oleh suku Quraisy yang jumlah warganya sedikit? Demi Allah, kalau engkau mau, kami akan memenuhi kampungnya dengan laki-laki dan kuda-kuda (menyerbu), jika engkau mau “. Mendengar itu, Ali bin Abi Thalib menjawab lantang, “Apakah engkau ini masih menjadi musuh Islam dan kaum muslimin. Sesungguhnya semua ini (pengangkatan Abu Bakar) tak merugikan Islam dan umatnya sedikitpun. Dan sesungguhnya kami mengetahui bahwa Abu Bakar memang layak untuk itu “.

Untuk menjaga agar masyarakat mereka selalu rapi, para sahabat itu selalu berusaha untuk dekat antara yang satu dengan yang lain. Menghindari perselisihan dan mengutamakan persatukan. Sebagai pengikatnya, mereka menepatkan kerinduan akan ridha Allah untuk mengalahkan potensi-potensi konflik di antara mereka. Seperti yang diucapkan oleh Ibnu Mas’ud, “esungguhnya Allah, dengan keadilan dan pengetahuan-Nya menjadikan kebahagian dan suka cita di dalam sikap yang yakin dan ridha, dan menjadikan duka dan nestapa di dalam sikap ragu-ragu dan benci terhadap ketentuan-Nya”.

Mereka saling menghibur bila ada yang diuji oleh Allah. Suatu hari Ali bin Abi Thalib menemui ‘Adi bin Hatim yang nampak kusut masai. Raut mukanya menggambarkan kesedihan yang berat. “Mengapa engkau tampak bersedih hati?” Adi menjawab, “span style=”font-style: italic;”>Bagaimana aku tidak sedih, sedangkan dua orang anakku terbunuh dan mataku tercongkel dalam pertempuran”. Ali menyahut, “Barang siapa ridha terhadap takdir Allah, maka takdir itu tetap berlaku atasnya dan ia mendapatkan pahala-Nya. Dan barangsiapa yang tidak ridha terhadap takdir-Nya, maka takdir itu pun tetap berlaku atasnya dan terhapuslah pahalanya”.

Sikap ini juga kemudian diwarisi oleh para tabi’in. Lihatlah apa yang dikatakan Hasan Al-Bashri, “Barangsiapa yang ridha terhadap apa yang sudah menjadi suratan hidupnya, maka jiwanya akan merasa lapang menerima hal itu, dan Allah pun akan memberkahinya. Tetapi, barangsiapa yang tidak ridha, maka pandangannya menjadi sempit dan Allah juga tidak memberkahinya”.

Selain itu, para sahabat itu juga menjauhi berlaku curang. Al-Baihaqi meriwayatkan, bahwa setiap tahun Abdullah bin Rawahah datang menemui Yahudi Khaibar untuk menetapkan berapa bagian dari panen kurma yang harus mereka setor kepada Rasulullah. Abdullah bin Rawahah menetapkan separoh hasil panen yang harus disetorkan. Maka mereka mengeluh. Orang-orang Yahudi itu juga berusaha menyuap Abdullah bin Rawahah. Dengan marah Abdullah menolak, “Wahai musuh-musuh Allah. Kalian akan memberiku makanan kotor? Demi Allah, aku ini datang dari orang yang paling tercinta di antara seluruh manusia. Dan sesungguhnya kalian lebih aku benci dari pada kera dan babi. Namun ketahuilah, kebencianku kepada kalian, juga kecintaanku kepada Rasulullah, tidak akan membuatku berbuat tidak adil dengan menerima suap itu”. Mendengar itu orang-orang Yahudi itu berkata “Dengan sikap seperti itulah langit dan bumi tegak”.

Jama’ah

22 September 2008

Ada begitu banyak dalil yang menunjukkan keutamaan shalat berjamaah. Lengkapnya demikian: Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya shalat yang paling berat buat orang munafik adalah shalat Isya dan Shubuh. Seandainya mereka tahu apa yang akan mereka dapat dari kedua shalat itu, pastilah mereka akan mendatanginya meski dengan merangkak.
Sungguh aku punya keinginan untuk memerintahkan shalat dan didirikan, lalu aku memerintahkan satu orang untuk jadi imam. Kemudian pergi bersamaku dengan beberapa orang membawa seikat kayu bakar menuju ke suatu kaum yang tidak ikut menghadiri shalat dan aku bakar rumah-rumah mereka dengan api “.
(HR Bukhari 644, 657, 2420, 7224. Muslim 651 dan lafaz hadits ini darinya).
Hadits ini adalah hadits yang shahih, karena terdapat di dalam dua kitab tershahih di dunia, yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Sehingga kebenaran riwayat hadits ini tidak perlu diotak-atik lagi. Seluruh umat Islam sepanjang masa sepakat atas keshahihan kedua kitab shahih ini.

Selain hadits merangkak di atas, Rasulullah SAW juga bersabda tentang keutamaan shalat jamaah dalam hadits lainnya, seperti: shalatnya seseorang dengan berjamaah lebih banyak dari pada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh kali. (HR Muslim dalam kitab al-masajid wa mawwadhiusshalah no. 650). Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari jilid 2 halaman 133 dalam kitab azan telah menyebutkan secara rinci apa saja yang membedakan keutamaan seseorang shalat berjamaah dengan yang shalat sendirian. Di antaranya adalah ketika seseorang menjawab azan, bersegera shalat di awal waktu, berjalannya menuju masjid dengan sakinah, masuknya ke masjid dengan berdoa, menunggu jamaah, shalawat malaikat atas orang yang shalat, serta permohonan ampun dari mereka, kecewanya syetan karena berkumpulnya orang-orang untuk beribadah, adanya pelatihan untuk membaca Al-Quran dengan benar, pengajaran rukun-rukun shalat, keselamatan dari kemunafikan dan seterusnya. Semua itu tidak didapat oleh orang yang melakukan shalat dengan cara sendirian di rumahnya.
Dalam hadits lainnya disebutkan juga keterangan yang cukup tentang mengapa shalat berjamaah itu jauh lebih berharga dibandingkan dengan shalat sendirian. Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Shalatnya seseorang dengan berjamaah lebih banyak dari pada bila shalat sendirian atau shalat di pasarnya dengan dua puluh sekian derajat. Hal itu karena dia berwudhu dan membaguskan wudhu`nya, kemudian mendatangi masjid di mana dia tidak melakukannya kecuali untuk shalat dan tidak menginginkannya kecuali dengan niat shalat. Tidaklah dia melangkah dengan satu langkah kecuali ditinggikan baginya derajatnya dan dihapuskan kesalahannya hingga dia masuk masjid….dan malaikat tetap bershalawat kepadanya selama dia berada pada tempat shalatnya seraya berdoa, “Ya Allah berikanlah kasihmu kepadanya, Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah ampunilah dia… “.
(HR Muslim dalam kitab al-masajid wa mawwadhiusshalah no. 649)
Pada kesempatan lain, Rasulullah SAW bersabda dengan hadits yang lainnya:
Dari Abi Darda` ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah 3 orang yang tinggal di suatu kampung atau pelosok tapi tidak melakukan shalat jamaah, kecuali syetan telah menguasai mereka. Hendaklah kalian berjamaah, sebab srigala itu memakan domba yang lepas dari kawanannya “. (HR Abu Daud 547 dan Nasai 2/106 dengan sanad yang hasan);
Dari Ibnu Mas`ud ra berkata bahwa aku melihat dari kami yaitu tidaklah seseorang meninggalkan shalat jamaah kecuali orang-orang munafik yang sudah dikenal kemunafikannya atau seorang yang memang sakit yang tidak bisa berjalan “. (HR Muslim);
Dari Ibni Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mendengar azan namun tidak mendatanginya untuk shalat, maka tidak ada shalat baginya. Kecuali bagi orang yang uzur “. (HR Ibnu Majah 793, Ad-Daruquthuni 1/420, Ibnu Hibban 2064, Al-Hakim 1/245 dan sanadnya shahih).
Dengan adanya hadits-hadits ini, akhirnya para ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat berjamaah. Ada yang bilang fardhu ‘an, ada yang bilang fardhu kifayah, ada yang bilang sunnah muakkadah dan ada juga yang bilang syarth.
Shalat berjama’ah itu adalah wajib bagi tiap-tiap mukmin, tidak ada keringanan untuk meninggalkannya terkecuali ada udzur (yang dibenarkan dalam agama). Hadits-hadits yang merupakan dalil tentang hukum ini sangat banyak, di antaranya:
“Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu, ia berkata,Telah datang kepada Nabi shallallaahu alaihi wasallam seorang lelaki buta, kemudian ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak punya orang yang bisa menuntunku ke masjid, lalu dia mohon kepada Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam agar diberi keringanan dan cukup shalat di rumahnya.’ Maka Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam memberikan keringanan kepadanya. Ketika dia berpaling untuk pulang, beliau memanggilnya, seraya berkata, ‘Apakah engkau mendengar suara adzan (panggilan) shalat?’, ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Maka hendaklah kau penuhi (panggilah itu)’ “. (HR. Muslim)
“Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu ia berkata: ‘Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda, ‘Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Seandainya mereka itu mengetahui pahala kedua shalat tersebut, pasti mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Aku pernah berniat memerintahkan shalat agar didirikan kemudian akan kuperintahkan salah seorang untuk mengimami shalat, lalu aku bersama beberapa orang sambil membawa beberapa ikat kayu bakar mendatangi orang-orang yang tidak hadir dalam shalat berjama’ah, dan aku akan bakar rumah-rumah mereka itu’ “. (Muttafaq ‘alaih)
“Dari Abu Darda’ radhiallaahu anhu, ia berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda, ‘Tidaklah berkumpul tiga orang, baik di suatu desa maupun di dusun, kemudian di sana tidak dilaksanakan shalat berjama’ah, terkecuali syaitan telah menguasai mereka. Maka hendaklah kamu senantiasa bersama jama’ah (golongan yang banyak), karena sesungguhnya serigala hanya akan memangsa domba yang jauh terpisah (dari rombongannya)’ “. (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan lainnya, hadits hasan )
“Dari Ibnu Abbas , bahwasanya Nabi shallallaahu alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa mendengar panggilan adzan namun tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, ter-kecuali karena udzur (yang dibenarkan dalam agama)’ “. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan lainnya, hadits shahih)
“Dari Ibnu Mas’ud radhiallaahu anhu, ia berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam mengajari kami sunnah-sunnah (jalan-jalan petunjuk dan kebenaran) dan di antara sunnah-sunnah tersebut adalah shalat di masjid yang dikuman-dangkan adzan di dalamnya.(HR. Muslim)
Shalat berjama’ah mempunyai keutamaan dan pahala yang sangat besar, banyak sekali hadits-hadits yang menerangkan hal tersebut di antaranya adalah:
“Dari Ibnu Umar radhiallaahu anhuma , bahwasanya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda, ‘Shalat berjama’ah dua puluh tujuh kali lebih utama daripada shalat sendirian “. (Muttafaq ‘alaih)
“Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu, ia berkata,’Bersabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, ‘Shalat seseorang dengan berjama’ah lebih besar pahalanya sebanyak 25 atau 27 derajat daripada shalat di rumahnya atau di pasar (maksudnya shalat sendirian). Hal itu dikarenakan apabila salah seorang di antara kamu telah berwudhu dengan baik kemudian pergi ke masjid, tidak ada yang menggerakkan untuk itu kecuali karena dia ingin shalat, maka tidak satu langkah pun yang dilangkahkannya kecuali dengannya dinaikkan satu derajat baginya dan dihapuskan satu kesalahan darinya sampai dia memasuki masjid. Dan apabila dia masuk masjid, maka ia terhitung shalat selama shalat menjadi penyebab baginya untuk tetap berada di dalam masjid itu, dan malaikat pun mengu-capkan shalawat kepada salah seorang dari kamu selama dia duduk di tempat shalatnya. Para malaikat berkata, ‘Ya Allah, berilah rahmat kepadanya, ampunilah dia dan terimalah taubatnya.’ Selama ia tidak berbuat hal yang mengganggu dan tetap berada dalam keadaan suci’ “. (Muttafaq ‘alaih)
Shalat berjama’ah bisa dilaksanakan dengan seorang makmum dan seorang imam, sekalipun salah seorang di antaranya adalah anak kecil atau perempuan. Dan semakin banyak jumlah jama’ah dalam shalat semakin disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Dari Ibnu Abbas radhiallaahu anhuma , ia berkata, ‘Aku pernah bermalam di rumah bibiku, Maimunah (salah satu istri Nabi shallallaahu alaihi wasallam), kemudian Nabi shallallaahu alaihi wasallam bangun untuk shalat malam, maka aku pun ikut bangun untuk shalat bersamanya, aku berdiri di samping kiri beliau, lalu beliau menarik kepalaku dan menempatkanku di samping kanannya’ “. (Muttafaq ‘alaih)
“Dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiallaahu anhuma, keduanya berkata, ‘Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa ba-ngun di waktu malam hari kemudian dia membangunkan isterinya, kemudian mereka berdua shalat berjama’ah, maka mereka berdua akan dicatat sebagai orang yang selalu berdzikir kepada Allah’ “. (HR. Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih)
“Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallaahu anhu, ‘Bahwasanya seorang laki-laki masuk masjid sedangkan Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam sudah shalat bersama para sahabatnya, maka beliau pun bersabda, ‘Siapa yang mau bersedekah untuk orang ini, dan menemaninya shalat.’ Lalu berdirilah salah seorang dari mereka kemudian dia shalat bersamanya’ “. (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, hadits shahih)
“Dari Ubay bin Ka’ab radhiallaahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda, Shalat seseorang bersama orang lain (berdua) lebih besar pahalanya dan lebih mensucikan daripada shalat sendirian, dan shalat seseorang ditemani oleh dua orang lain (bertiga) lebih besar pahalanya dan lebih menyucikan daripada shalat dengan ditemani satu orang (berdua), dan semakin banyak (jumlah jama’ah) semakin disukai oleh Allah Ta’ala’ “. (HR. Ahmad, Abu Daud dan An-Nasai, hadits hasan)

Related Posts Plugin for 
WordPress, Blogger...