Showing posts with label Pesan Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Pesan Kehidupan. Show all posts

Wednesday, March 27, 2013

Tafsir Surat Al ‘Ashr: Membebaskan Diri Dari Kerugian Dari artikel 'Tafsir Surat Al ‘Ashr: Membebaskan Diri Dari Kerugian — Muslim.Or.Id'


Allah ta’ala berfirman,
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).
Surat Al ‘Ashr merupakan sebuah surat dalam Al Qur’an yang banyak dihafal oleh kaum muslimin karena pendek dan mudah dihafal. Namun sayangnya, sangat sedikit di antara kaum muslimin yang dapat memahaminya. Padahal, meskipun surat ini pendek, akan tetapi memiliki kandungan makna yang sangat dalam. Sampai-sampai Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,
لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّوْرَةَ لَوَسَعَتْهُمْ
”Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka.” [Tafsir Ibnu Katsir 8/499].
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Maksud perkataan Imam Syafi’i adalah surat ini telah cukup bagi manusia untuk mendorong mereka agar memegang teguh agama Allah dengan beriman, beramal sholih, berdakwah kepada Allah, dan bersabar atas semua itu. Beliau tidak bermaksud bahwa manusia cukup merenungkan surat ini tanpa mengamalkan seluruh syari’at. Karena seorang yang berakal apabila mendengar atau membaca surat ini, maka ia pasti akan berusaha untuk membebaskan dirinya dari kerugian dengan cara menghiasi diri dengan empat kriteria yang tersebut dalam surat ini, yaitu beriman, beramal shalih, saling menasehati agar menegakkan kebenaran (berdakwah) dan saling menasehati agar bersabar” [Syarh Tsalatsatul Ushul].
Iman yang Dilandasi dengan Ilmu
Dalam surat ini Allah ta’ala  menjelaskan bahwa seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kerugian yang dimaksud dalam ayat ini bisa bersifat mutlak, artinya seorang merugi di dunia dan di akhirat, tidak mendapatkan kenikmatan dan berhak untuk dimasukkan ke dalam neraka. Bisa jadi ia hanya mengalami kerugian dari satu sisi saja. Oleh karena itu, dalam surat ini Allah mengeneralisir bahwa kerugian pasti akan dialami oleh manusia kecuali mereka yang memiliki empat kriteria dalam surat tersebut [Taisiir Karimir Rohmaan hal. 934].
Kriteria pertama, yaitu beriman kepada Allah. Dan keimanan ini tidak akan terwujud tanpa ilmu, karena keimanan merupakan cabang dari ilmu dan keimanan tersebut tidak akan sempurna jika tanpa ilmu.  Ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar’i (ilmu agama). Seorang muslim wajib (fardhu ‘ain) untuk mempelajari setiap ilmu yang dibutuhkan oleh seorang mukallaf dalam berbagai permasalahan agamanya, seperti prinsip keimanan dan syari’at-syari’at Islam, ilmu tentang hal-hal yang wajib dia jauhi berupa hal-hal yang diharamkan, apa yang dia butuhkan dalam mu’amalah, dan lain sebagainya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلىَ كُلِّ مَسْلَمٍ
”Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah nomor 224 dengan sanad shahih).
Imam Ahmad rahimahullah berkata,
يَجِبُ أَنْ يَطْلَبَ مِنَ الْعِلْمِ مَا يَقُوْمُ بِهِ دِيْنَهُ
”Seorang wajib menuntut ilmu yang bisa  membuat dirinya mampu menegakkan agama.”  [Al Furu’ 1/525].
Maka merupakan sebuah kewajiban bagi setiap muslim untuk mempelajari berbagai hal keagamaan yang wajib dia lakukan, misalnya yang berkaitan dengan akidah, ibadah, dan muamalah. Semua itu tidak lain dikarenakan seorang pada dasarnya tidak mengetahui hakikat keimanan sehingga ia perlu meniti tangga ilmu untuk mengetahuinya. Allah ta’ala  berfirman,
مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلا الإيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ  نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا
”Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Quran itu dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (Asy Syuura: 52).
Mengamalkan Ilmu
Seorang tidaklah dikatakan menuntut ilmu kecuali jika dia berniat bersungguh-sungguh untuk mengamalkan ilmu tersebut. Maksudnya,  seseorang dapat mengubah ilmu yang telah dipelajarinya tersebut menjadi suatu perilaku yang nyata dan tercermin dalam pemikiran dan amalnya.
Oleh karena itu, betapa indahnya perkataan Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah
لاَ يَزَالُ الْعَالِمُ جَاهِلاً حَتىَّ يَعْمَلَ بِعِلْمِهِ فَإِذَا عَمِلَ بِهِ صَارَ عَالِمًا
”Seorang yang berilmu akan tetap menjadi orang bodoh sampai dia dapat mengamalkan ilmunya. Apabila dia mengamalkannya, barulah dia menjadi seorang alim” (Dikutip dari Hushul al-Ma’mul).
Perkataan ini mengandung makna yang dalam, karena apabila seorang memiliki ilmu akan tetapi tidak mau mengamalkannya, maka (pada hakikatnya) dia adalah orang yang bodoh, karena tidak ada perbedaan antara dia dan orang yang bodoh, sebab ia tidak mengamalkan ilmunya.
Oleh karena itu, seorang yang berilmu tapi tidak beramal tergolong dalam kategori yang berada dalam kerugian, karena bisa jadi ilmu itu malah akan berbalik menggugatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتىَّ يَسْأَلَ عَنْ عِلْمِهِ مَا فَعَلَ بِهِ
,”Seorang hamba tidak akan beranjak dari tempatnya pada hari kiamat nanti hingga dia ditanya tentang ilmunya, apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu tersebut.” (HR. Ad Darimi nomor 537 dengan sanad shahih).
Berdakwah kepada Allah
Berdakwah, mengajak manusia kepada Allah ta’ala, adalah tugas para Rasul dan merupakan jalan orang- orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik. Allah ta’ala berfirman,
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (١٠٨)
“Katakanlah, “inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108).
Jangan anda tanya mengenai keutamaan berdakwah ke jalan Allah. Simak firman Allah ta’ala berikut,
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. Fushshilat : 33).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
فَوَاللَّهِ لَأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
Demi Allah, sungguh jika Allah memberikan petunjuk kepada seseorang dengan perantara dirimu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah” (HR. Bukhari nomor 2783).
Oleh karena itu, dengan merenungi firman Allah dan sabda nabi di atas, seyogyanya seorang ketika telah mengetahui kebenaran, hendaklah dia berusaha menyelamatkan para saudaranya dengan mengajak mereka untuk memahami dan melaksanakan agama Allah dengan benar.
Sangat aneh, jika disana terdapat sekelompok orang yang telah mengetahui Islam yang benar, namun mereka hanya sibuk dengan urusan pribadi masing-masing dan “duduk manis” tanpa sedikit pun memikirkan kewajiban dakwah yang besar ini.
Pada hakekatnya orang yang lalai akan kewajiban berdakwah masih berada dalam kerugian meskipun ia termasuk orang yang berilmu dan mengamalkannya. Ia masih berada dalam kerugian dikarenakan ia hanya mementingkan kebaikan diri sendiri (egois) dan tidak mau memikirkan bagaimana cara untuk mengentaskan umat dari jurang kebodohan terhadap agamanya. Ia tidak mau memikirkan bagaimana cara agar orang lain bisa memahami dan melaksanakan ajaran Islam yang benar seperti dirinya. Sehingga orang yang tidak peduli akan dakwah adalah orang yang tidak mampu mengambil pelajaran dari sabda rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
”Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian, hingga ia senang apabila saudaranya memperoleh sesuatu yang juga ia senangi.” (HR. Bukhari nomor 13).
Jika anda merasa senang dengan hidayah yang Allah berikan berupa kenikmatan mengenal Islam yang benar, maka salah satu ciri kesempurnaan Islam yang anda miliki adalah anda berpartisipasi aktif dalam kegiatan dakwah seberapapun kecilnya sumbangsih yang anda berikan.
Bersabar dalam Dakwah
Kriteria keempat adalah bersabar atas gangguan yang dihadapi ketika menyeru ke jalan Allah ta’ala. Seorang da’i (penyeru) ke jalan Allah mesti menemui rintangan dalam perjalanan dakwah yang ia lakoni. Hal ini dikarenakan para dai’ menyeru manusia untuk mengekang diri dari hawa nafsu (syahwat), kesenangan dan adat istiadat masyarakat yang menyelisihi syari’at [Hushulul ma’mul hal. 20].
Hendaklah seorang da’i mengingat firman Allah ta’ala berikut sebagai pelipur lara ketika berjumpa dengan rintangan. Allah ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ (٣٤)
”Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) para rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka” (QS. Al-An’am : 34).
Seorang da’i wajib bersabar dalam berdakwah dan tidak menghentikan dakwahnya. Dia harus bersabar atas segala penghalang dakwahnya dan bersabar terhadap gangguan yang ia temui. Allah ta’ala menyebutkan wasiat Luqman Al-Hakim kepada anaknya (yang artinya),
”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (QS. Luqman :17).
Pada akhir tafsir surat Al ‘Ashr ini, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata,
فَبِالِأَمْرَيْنِ اْلأَوَّلِيْنَ، يُكَمِّلُ اْلإِنْسَانُ نَفْسَهُ، وَبِالْأَمْرَيْنِ اْلأَخِيْرِيْنَ يُكَمِّلُ غَيْرَهُ، وَبِتَكْمِيْلِ اْلأُمُوْرِ اْلأَرْبَعَةِ، يَكُوْنُ اْلإِنْسَانُ قَدْ سَلِمَ تعل مِنَ الْخُسَارِ، وَفَازَ بِالْرِبْحِ [الْعَظِيْمِ]
”Maka dengan dua hal yang pertama (ilmu dan amal), manusia dapat menyempurnakan dirinya sendiri. Sedangkan dengan dua hal yang terakhir (berdakwah dan bersabar), manusia dapat menyempurnakan orang lain. Dan dengan menyempurnakan keempat kriteria tersebut, manusia dapat selamat dari kerugian dan mendapatkan keuntungan yang besar” [Taisiir Karimir Rohmaan hal. 934].
Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk menyempurnakan keempat hal ini, sehingga kita dapat memperoleh keuntungan yang besar di dunia ini, dan lebih-lebih di akhirat kelak. Amiin

Sunday, July 15, 2012

Tetaplah Lapar Tetaplah Bodoh!

“Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh”.

Kutipan di atas diucapkan oleh Steve Jobs, CEO Apple Computer dan Pixar Animation Studios dalam sebuah acara wisuda pada tanggal 12 Juni 2005. Sepintas lalu kutipan di atas tampaknya biasa saja, namun jika direnungkan lebih dalam ada sesuatu yang istimewa. Keistimewaannya terletak pada kata “lapar” dan kata “bodoh”. Mengapa demikian? Mari kita renungkan! Orang lapar adalah orang yang begitu mensyukuri arti sesuap nasi. Demikian juga orang bodoh adalah orang yang menghargai makna sebuah pengetahuan. Orang lapar berjuang mendapatkan makanan yang akan mengenyangkan perutnya. Sementara orang bodoh takkan berhenti untuk selalu belajar. Orang lapar selalu berusaha menjadikan keadaan hidupnya lebih baik. Orang bodoh tak mengenal kata lelah untuk terus menimba ilmu. Orang lapar senantiasa memutar otak untuk tetap survive agar tak digilas zaman. Dan orang bodoh selalu open mind akan hal-hal baru agar tidak ketinggalan zaman.

Setiap manusia pada awalnya tidak tahu apa-apa. Saat jabang bayi lahir ke dunia tak satu pun tiba-tiba bicara fasih meski orang tuanya ahli bahasa. Tidak ada bayi yang sekonyong-konyong piawai berpidato walau ayah-ibunya orator ulung. Dan belum pernah pula kita dengar ada bayi yang mahir menulis novel meskipun ia terlahir dari rahim seorang novelist best seller. Ketidaktahuan kita akan segala sesuatu kala lahir benar-benar sempurna sebagaimana pengetahuan kita yang tidak pernah sempurna pula. Jika dulu kita adalah makhluk-makhluk mungil yang begitu awam, lugu, dan tak mengerti apapun, pantaskah kita jumawa dengan apa yang kita ketahui hari ini? Dan layak pulakah kita merasa cukup kaya dengan segudang ilmu yang telah diraih bila dibandingkan dengan pengetahuan Tuhan yang tanpa batas?

Saya teringat ucapan Imam Syafi’i, “Setiap kali bertambah pengetahuanku, semakin aku sadar akan kebodohanku.” Ungkapan beliau ini kurang lebih senada dengan apa yang dikatakan Steve Jobs di atas. Keduanya sama-sama menekankan pentingnya belajar terus dan terus belajar. Semangat untuk menimba ilmu tidak boleh padam. Bahkan bagi kita umat Islam, Nabi Muhammad telah mengajarkan prinsip belajar dari sejak buaian sampai liang lahad. Itulah yang oleh kalangan pendidik di Barat sekarang disebut Long Life Education (pendidikan sepanjang hayat). Rosulullah sendiri adalah model manusia paripurna yang haus akan ilmu. Coba kita renungkan kembali kalimat “Robbii zidnii ilman” yang termaktub dalam al-qur’an. Bukankah seruan itu adalah lantunan do’a yang disampaikan Sang Nabi kepada Robb-nya agar beliau senatiasa ditambahi ilmu. Jika Rosul yang dikaruniai kecerdasan (fathonah) luar biasa saja masih minta ditransfer ilmu melalui wahyu-Nya, apalagi kita yang bukan nabi pilihan-Nya. Jauh lebih pantas, bukan? So, apakah Anda sudah merasa kenyang dan merasa pandai? Atau Anda masih tetap lapar dan tetap bodoh?

Saturday, August 6, 2011

Kedamaian Hati Adalah Kedamaian Sejati


Seorang Raja mengadakan sayembara dan akan memberi hadiah yang melimpah kepada siapa saja yang bisa melukis tentang kedamaian. Ada banyak seniman dan pelukis berusaha keras untuk memenangkan lomba

tersebut. Sang Raja berkeliling melihat-lihat hasil karya mereka.

Hanya ada dua buah lukisan yang benar-benar paling disukainya. Tapi, sang Raja harus memilih satu diantara keduanya.

Lukisan pertama menggambarkan sebuah telaga yang tenang. Permukaan telaga yang itu bagaikan cermin sempurna yang mematulkan kedamaian gunung-gunung yang tenang menjulang mengitarinya.

Di atasnya terpampang langit biru dengan awan putih berarak-arak. Semua yang memandang lukisan ini akan berpendapat, inilah lukisan terbaik mengenai kedamaian.

Lukisan kedua menggambarkan pegunungan juga. Namun tampak kasar dan gundul. Di atasnya terlukis langit yang gelap dan merah menandakan turunnya hujan badai, sedangkan tampak kilat menyambar-nyambar liar. Disisi gunung ada air terjun deras yang berbuih-buih, sama sekali tidak menampakkan ketenangan dan kedamaian. Tapi, sang raja melihat sesuatu yang menarik, di balik air terjun itu tumbuh semak-semak kecil diatas sela-sela batu. Didalam semak-semak itu seekor induk burung pipit meletakkan sarangnya. Jadi, ditengah-tengah riuh rendahnya air terjun, seekor induk Pipit sedang mengerami telurnya dengan damai. Benar-benar damai.

Lukisan manakah yang memenangkan lomba?

Sang Raja memilih lukisan nomor dua.

Tahukah Anda mengapa? karena jawab sang Raja, “Kedamaian bukan berarti Anda harus berada di tempat yang tanpa keributan, kesulitan atau pekerjaan yang keras dan sibuk. Kedamaian adalah hati yang tenang dan damai, meski Anda berada di tengah-tengah keributan luar biasa.”

Thursday, August 4, 2011

Pentingnya Syukur Dalam Hidup

 Sering kali kita melupakan banyak sekali nikmat yang Tuhan anugerahkan pada kita. Nikmat tidur, nikmat makan, nikmat bernafas, nikmat melihat, nikmat mendengar, dan banyak lagi nikmat hidup lainnya yang tidak mungkin bisa kita hitung seluruhnya. Namun jarang sekali kita meluangkan waktu untuk sekedar merenungkannya, apalagi untuk mengucapkan terimakasih pada yang maha memberiNya. Setiap hari kita lebih banyak mengeluh daripada bersyukur, padahal syukur akan membuat hati kita tentram dan sebaliknya dengan mengeluh akan membuat hati kita semakin resah dan gelisah.

Syukur itu untuk kebaikan kita sendiri, bukan untuk Tuhan maupun orang lain. Seperti yang dikatakan dalam Al-Quran bahwa manfaat syukur  kembali kepada  orang  yang  bersyukur. “Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan   barangsiapa yang kufur (tidak bersyukur), maka  sesungguhnya Tuhanku Mahakaya (tidak membutuhkan sesuatu) lagi Mahamulia (QS An-Naml [27]: 40)”. Lalu apa sih manfaat syukur itu,? banyak sekali manfaat yang akan di rasakan oleh pribadi yang pandai bersyukur. Dengan syukur sesulit apapun kehidupan yang kita lewati akan tetap terasa indah, dengan syukur sesuap nasi walau hanya dengan garam yang kita telan akan terasa begitu nikmat, dengan syukur gubuk rapuh yang kita miliki akan terasa nyaman seperti istana. Pribadi ahli syukur akan senantiasa menemukan hikmah dalam setiap cobaan hidup yang ia hadapi maupun dalam setiap kekurangan yang ia miliki. Namun bagi pribadi yang menutup mata pada setiap nikmat Tuhan yang dianugerahkan kepadanya, walaupun dia terlihat memiliki banyak hal, tapi hatinya tetap resah, gelisah, tidak tenang karena dia selalu berfikir pada berbagai target yang belum dia dapatkan. Lalu apalah arti memiliki banyak harta jika tetap saja merasa kurang dengan apa yang kita miliki.

Seperti halnya saya, saya yakin sahabat pun memiliki banyak keinginan dan cita-cita. Karena memang itulah sifat kita sebagai manusia, selalu menginginkan hal yang lebih. Sudah punya sepeda motor, ingin punya mobil. Setelah punya computer PC, ingin punya laptop. Setelah promosi jadi supervisor, ingin jadi manager. Setelah punya istri, apa coba? Hehe…….

Namun sahabat, kita harus menyadari bahwa tidak selalu apa yang kita inginkan itu bisa kita dapatkan. Jika memang begitu, kenapa kita harus pusing-pusing memikirkan yang belum tentu kita dapatkan, sementara banyak nikmat Tuhan yang kita miliki kita abaikan.

Bagaimana agar kita menjadi pribadi bahagia yang pandai bersyukur?

Pertama, fokuslah pada apa yang kita miliki, jangan fokus pada apa yang tidak kita miliki. Karena itulah cara agar kita senantiasa bersyukur. Dengan fokus pada apa yang kita miliki, walaupun kita sebenarnya dalam kesulitan kita akan merasa tetap bahagia. Sebaliknya orang yang lebih fokus pada kekurangannya, walaupun dia memiliki banyak harta tapi dia akan tetap merasa kurang, merasa resah, gesilah karena menurutnya masih banyak keinginan yang belum tercapai. Lebih baik orang miskin yang selalu bersyukur daripada orang kaya yang kufur, tapi alangkah lebih indahnya menjadi orang yang kaya dan selalu bersyukur. Sejatinya orang kaya itu bukan orang yang sekedar memiliki banyak uang, tapi mereka adalah orang yang pandai bersyukur dan bisa menikmati apa yang mereka miliki.

Kedua, seringlah melihat ke bawah jangan sering melihat ke atas. Maksudnya bukan menundukan kepala ke bawah ya, tapi maksudnya begini, coba renungkan di luar sana lebih banyak orang yang tidak seberuntung kita. Jika kita masih bisa makan enak, coba renungkan banyak orang diluar sana yang untuk membeli nasi bungkus pun susahnya minta ampun. Jangan membanding-bandingkan diri kita dengan orang yang menurut kita lebih kaya, lebih pintar, atau lebih menarik. Karena inilah awal dari rasa resah dan gelisah yang disebabkan oleh kurangnya rasa bersyukur. Mungkin rumput tetangga memang kelihatannya lebih hijau, tapi seperti dalam sebuah iklan “rumput gue lebih asik daripada rumput tetangga”.

Dengan syukur kita akan mendapatkan nikmat yang lebih besar, karena dengan bersyukur maka Allah SWT akan menambah anugerah nikmatNya pada kita, seperti dalam firmanNya : “Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku)  untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih” . Allah SWT memberikan syarat jika kita menginginkan anugerah nikmat yang lebih dari-Nya maka kita harus pandai bersyukur. Jika kita rasa apa yang kita dapatkan selama ini masih begitu-begitu saja mungkin kita perlu introspeksi diri apakah kita sudah bersyukur? Atau sebaliknya kita malah sering mengeluh?. Allah SWT tidak akan menganugerahkan nikmat yang lebih besar pada kita jika nikmat yang kecil-kecil saja tak pernah kita syukuri.

Bagaimana caranya mengungkapkan rasa syukur? Cara yang paling mudah adalah dengan mengucapkannya dengan lisan, diantaranya dengan sering mengucapkan Alhamdulillah. Kemudiaan dengan hati, yaitu kita benar-benar menyadari bahwa semua anugerah nikmat itu berasal dari tuhan, sekecil apapun nikmat itu harus kita terima dan kita syukuri. Selanjutnya rasa syukur itu kita buktikan dengan perbuatan, yaitu dengan menggunakan nikmat tersebut untuk mengabdi pada yang maha memberiNya dan untuk melakukan kebaikan pada sesama manusia.

Maka marilah kita bersyukur sahabat, karena dengan bersyukur kita akan bahagia menikmati apa yang kita miliki.

Related Posts Plugin for 
WordPress, Blogger...