Showing posts with label Florent. Show all posts
Showing posts with label Florent. Show all posts

Wednesday, June 27, 2012

Dinamika Kelompok, Konsep Diri, Konsep Manusia, Keluarga

KONSEP DASAR KEPERAWATAN
(Dinamika Kelompok)

Oleh :

BAGIYO NUGROHO,S.Kep
Pengertian kelompok

Kelompok adalah kumpulan orang-orang yang merupakan kesatuan sosial yang mengadakan interaksi yang intensif dan mempunyai tujuan bersama.
   Interaksi antar anggota kelompok dapat menimbulkan kerja sama apabila masing-masing anggota kelompok:
Mengerti akan tujuan yang dibebankan di dalam kelompok tersebut
Adanya saling menghomati di antara anggota-anggotanya
Adanya saling menghargai pendapat anggota lain
Adanya saling keterbukaan, toleransi dan kejujuran di antara anggota kelompok

Menurut Reitz (1977) kelompok mempunyai karakteristik sebagai berikut:
Terdiri dari dua orang atau lebih
Berinteraksi satu sama lain
Saling membagi beberapa tujuan yang sama
Melihat dirinya sebagai suatu kelompok

Pengertian dinamika kelompok

   Dinamika kelompok didefinisikan sebagai konsep yang menggambarkan proses kelompok yang selalu bergerak, berkembang dan dapat menyesuaikan diri

dengan keadaan yang selalu berubah-ubah.
Tujuan dinamika kelompok antara lain:

Membangkitkan kepekaan diri seorang anggota kelompok terhadap anggota kelompok lain, sehingga dapat menimbulkan rasa saling menghargai
Menimbulkan rasa solidaritas anggota sehingga dapat saling menghormati dan saling menghargai pendapat orang lain
Menciptakan komunikasi yang terbuka terhadap sesama anggota kelompok
Menimbulkan adanya i’tikad yang baik diantara sesama anggota kelompok.

Proses dinamika kelompok
Individu

Ice Breaking

Storming

Forming

Norming

Performing

Pendekatan-pendekatan Dinamika Kelompok
1.Pendekatan oleh Bales dan Homans
   Pendekatan ini mendasarkan pada konsep  adanya aksi, interaksi, dan situasi yang ada dalam kelompok. Homans menambahkan, dengan adanya interaksi

dalam kelompok, maka kelompok yang bersangkutan merupakan sistem interdependensi, dengan sifat-sifat:


    Adanya stratifikasi kedudukan warga
    Adanya diferensiasi dalam hubungan dan pengaruh antara anggota kelompok yang satu dengan yang lain
    Adanya perkembangan pada sistem intern kelompok yang diakibatkan adanya pengaruh faktor-faktor dari luar.

2.Pendekatan oleh Stogdill
   Pendekatan ini lebih menekankan pada sifat-sifat kepemimpinan dalam bentuk organisasi formal.

3. Pendekatan dari ahli Psycho Analysis (Sigmund Freud dan Scheidlinger)

    Scheidlinger berpendapat bahwa aspek-aspek motif dan emosional memegang peranan penting dalam kehidupan kelompok.
    Freud berpendapat bahwa di dalam setiap kelompok perlu adanya kesatuan kelompok, agar kelompok tersebut dapat berkembang dan bertahan

lama.
4.Pendekatan dari Yennings dan Moreno
  Yennings mengungkapkan konsepsinya tentang pilihan bebas, spontan, dan efektif dari anggota kelompok yang satu terhadap angota kelompok yang lain dalam

rangka pembentukan ikatan kelompok. Moreno membedakan antara psikhe group dan sosio group sebagai berikut:


Psikhe group merupakan suatu kelompok yang terbentuk atas dasar suka/tidak suka, simpati, atau antipati antar anggota
Sosio group merupakan kelompok yang terbentuk atas dasar tekanan dari pihak luar.

Fungsi Dinamika Kelompok

Individu satu dengan yang lain akan terjadi kerjasama saling membutuhkan (individu tidak dapat hidup sendiri di dalam masyarakat)
Dinamika kelompok memudahkan segala pekerjaan (dalam dinamika kelompok ada saling bantu antara anggota satu dengan anggota yang lain)

Melalui dinamika kelompok segala pekerjaan yang membutuhkan pemecahan masalah dapat teratasi, mengurangi beban pekerjaan yang terlalu besar, sehingga

waktu untuk menyelesaikan pekerjaan dapat diatur secara tepat, efektif dan efisien (dalam dinamika kelompok pekerjaan besar akan dibagi-bagi sesuai dengan

bagian kelompoknya masing-masing)

Meningkatkan masyarakat yang demokratis, individu satu dengan yang lain dapat memberikan masukan atau berinteraksi dengan lainnya dan memiliki peran yang

sama dalam masyarakat.
Terimakasih………..


ONSEP DASAR KEPERAWATAN

(Konsep Diri)


Oleh :


BAGIYO NUGROHO,S.Kep

Pendahuluan

   Konsep diri merupakan hal yang kompleks dan abstrak, tidak dapat diraba dan tidak terwujud. “Diri” merupakan konsep seseorang sebagai orang yang

berbeda dengan orang lain dan objek sekitarnya, terpisah dari orang lain dan objek tetapi merupakan manusia yang utuh.
Konsep diri merupakan konsep dasar yang perlu diketahui perawat untuk mengerti perilaku dan pandangan klien terhadap dirinya, masalahnya serta lingkungan.

Pengertian Konsep Diri

   Konsep diri adalah semua ide-ide, pikiran, kepercayaan, dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan

dengan orang lain. ( Stuart dan Sundeen,1991).
  
Teori Perkembangan Konsep Diri
   Secara umum disepakati bahwa konsep diri belum ada sejak lahir tapi berkembang secara bertahap dan juga dipelajari melalui kontak sosial dan pengalaman

berhubungan dengan orang lain dan objek disekitarnya.
Konsep diri dipelajari dari pengalaman yang unik melalui proses eksplorasi diri sendiri, hubungan dengan orang dekat & berarti bagi dirinya
   Konsep diri berkembang dengan baik apabila budaya dan pengalaman dalam keluarga memberikan pengalaman yang positif, individu memperoleh kemampuan

yang berarti serta dapat menemukan aktualisasi diri sehingga individu menyadari potensi yang ada pada dirinya. Pengalaman awal dalam kehidupan keluarga

merupakan dasar pembentukan konsep diri karena keluarga dapat memberikan perasaan diri adekuat atau tidak adekuat, perasaan diterima atau ditolak,

kesempatan untuk identifikasi serta penghargaan tentang tujuan, perilaku dan nilai.

Rentang Respon Konsep Diri

   Respon individu terhadap konsep diri berfluktuasi sepanjang rentang respon dari adaftif sampai maladaftif

Konsep diri terdiri dari 5 komponen ( Stuart dan Sundeen,1991 ) yaitu :
1). Gambaran diri
Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar atau tidak sadar termasuk persepsi dan perasaan tentang ukuran dan bentuk, fungsi

penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu.

   Gambaran diri ini harus realistis karena lebih banyak seseorang menerima dan menyukai tubunnya akan lebih aman sehingga harga dirinya meningkat.
Perubahan pada tubuh seperti perkembangan payudara, perubahan suara, menstruasi dsb. Merupakan perubahan yang dapat mempengaruhi gambaran diri

seseorang.
2) Ideal diri
Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berprilaku sesuai dengan standar pribadi. Standar ini dapat berhubungan dengan tipe orang atau

sejumlah aspirasi cita-cita nilai yang di capai. Ideal diri mulai berkembang pada masa kanak-kanak yang dipengaruhi oleh orang penting dari dirinya yang

memberikan tuntutan atau harapan.

   Pada masa remaja, ideal diri akan dibentuk melalui proses identifikasi pada orang tua, guru dan teman. Ideal diri sebaiknya ditetapkan lebih tinggi dari

kemampuan individu saat ini tapi masih dalam batas yang dapat dicapai. Ini diperlukan oleh individu untuk memacu dirinya ketingkat yang lebih tinggi.
3) Harga diri
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh prilaku memenuhi ideal diri.
Harga diri yang tinggi berakar dari penerimaan diri tanpa syarat sebagai individu yang berarti dan penting walaupun salah, gagal atau kalah. Hargadiri diperoleh dari

penghargaan diri sendiri dan dari orang lain yaitu perasaan dicintai, dihargai dan dihormati.

   Frekuensi pencapaian tujuan akan menghasilkan harga diri tinggi atau juga harga diri rendah. Jika individu selalu berhasil maka cenderung mempunyai harga diri

yang tinggi dan jika individu sering mengalami kegagalan maka cenderung mempunyai harga diri yang rendah.

Untuk meningkatkan harga diri dapat dilakukan dengan cara:

a. Memberi kesempatan untuk berhasil yaitu dengan memberikan tugas yang kemungkinan dapat di selesaikan, kemudian diberi pujian atau penghargaan atas

keberhasilannya.

b. Menanamkan gagasan dengan memberi gagasan yang dapat memotivasi kreatifitas untuk berkembang.

c. Mendorong aspirasi dengan menanggapi pertanyaan dan pendapatnya serta memberi dukungan terhadap aspirasi yang positif sehingga merasa diterima.dll

4). Peran
Peran adalah pola sikap, prilaku, nilai dan tujuan yang di harapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat. Posisi di masyarakat dapat menjadikan

stressor terhadap peran karena struktur sosial yang menimbulkan kesukaran atau tuntutan posisi yang tidak mungkin dilaksanakan. Stres peran terdiri dari konflik

peran, peran yang tidak jelas, peran yang tidak sesuai dan peran yang berlebihan.

5). Identitas
Identitas adalah kesadaran akan diri yang bersumber dari observasi dan penilaian yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sebagai suatu kesatuan

yang utuh.
Seseorang yang mempunyai perasaan identitas diri yang kuat adalah seseorang yang memandang dirinya berbeda dengan orang lain termasuk persepsinya

terhadap jenis kelamin, memiliki otonomi yaitu mengerti dan percaya diri, respek diri, mampu dan menguasai diri, mengatur diri sendiri dan menerima diri.

Ciri-ciri individu dengan identitas diri positif adalah:
a. Mengenal diri sebagai organism yang utuh, terpisah dari orang lain.
b. Mengakui jenis kelamin sendiri
c. Memandang berbagai aspek diri sebagai suatu keselarasan
d. Menilai diri sesuai dengan penilaian masyarakat
e. Menyadari hubungan masa lalu, sekarang dan yang akan datang
f. Memiliki tujuan yang dapat direalisasikan

TERIMAKASIH…………
Konsep Dasar Keperawatan
(konsep manusia)

Oleh :


Bagiyo Nugroho,S.Kep

Falsafah keperawatan
Hakikat manusia yang dimaksud disini adalah manusia sebagai makhluk biologis,psikologis, sosial,dan spiritual, sedangkan esensinya adalah falsafah keperawatan

yang meliputi:
    Memandang bahwa pasien sebagai manusia yang utuh (holistik)
    Bentuk pelayanan keperawatan yang diberikan harus secara langsung dengan memperhatikan aspek kemanusiaan
    Setiap orang berhak mendapatkan perawatan tanpa memandang latar belakangnya
    Pelayanan keperawatan merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan
    Pasien merupakan mitra yang selalu aktif dalam pelayan kesehatan dan bukan penerima jasa pelayanan yang pasif                 

Paradigma keperawatan
Definisi I
   paradigma keperawatan adalah sebagai pandangan fundamental tentang persoalan dalam suatu cabang ilmu pengetahuan (Masterman 1970)
Definisi II
   paradigma keperawatan adalah
   sebagai suatu perangkat bantuan yang memiliki nilai tinggi dan sangat menentukan bagi penggunanya untuk dapat memiliki pola dan cara pandang dasar khas

dalam melihat, memikirkan, memberi makna, menyikapi dan memiliih tindakan mengenai suatu kenyataan atau fenomena kehidupan manusia
   (Poerwanto P 1997) 

Keperawatan sebagai Ilmu juga memiliki paradigma sendiri dan sampai saat ini paradigma keperawatan masih berdasarkan empat komponen yang diantaranya

adalah manusia, keperawatan,kesehatan dalam rentang sehat sakit dan lingkungan 
   Keperawatan                         kesehatan



                          manusia



                         lingkungan


                   Gambar.komponen paradigma keperawatan
Konsep manusia
Manusia bertindak sebagai klien yang merupakan makhluk bio-psiko-sosial dan spiritual yang terjadi merupakan aspek jasmani dan rohani yang memiliki sifat unik

dengan kebutuhan yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat perkembanganya masing-masing (konsorsium ilmu kesehatan,1992)
Manusia sebagai klien (Individu)
   sasaran pemenuhan kebutuhan dasarnya adalah bio-psiko-sosial dan spiritual yang berbeda dengan individu lainya

Manusia sebagai klien (keluarga)
   dalam memberikan asuhan keperawatan selalu memandang aspek keluarga karena melalui keluarga ini akan dapat diketahui faktor yang mempengaruhi masalah

kesehatan agar tujuan perawatan dalm rangka membantu meningkatkan kemampuan keluarga untuk mampu menyelesaikan masalah (tugas)kesehatan secara

mandiri dapat terpenuhi   
    
Manusia sebagai klien (masyarakat)
   bahwa melalui masyarakat kemampuan individu dapat mudah dipengaruhi dengan adanya fasilitas pelayanan kesehatan,pendidikan, tempat rekreasi,

transportasi,komunikasi dan sosial, sehingga masyarakat sangat diperlukan dalm proses perubahan untuk pemenuhan kebuthan dasar. 
Terimaksih……….
KONSEP DASAR KEPERAWATAN
(Konsep Keluarga Dlm Keperawatan)

Oleh :

BAGIYO NUGROHO,S.Kep
definisi
    Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan dan emosional dan individu mempunyai peran masing –

masing yang merupakan bagian dari keluarga (Friedman, 1998).

    Keluarga adalah suatu ikatan / persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seorang

laki-laki atau seorang perempuan yang sudah sendirian dengan atau tanpa anak, baik anaknya sendiri atau adopsi, dan tinggal dalam sebuah rumah tangga.

Suprajitno (2004)


TIPE KELUARGA

Tipe keluarga dibagi menjadi 2, yaitu :

A. Keluarga Tradisional
1. Keluarga inti (Nuclear family) adalah keluarga yang hanya terdiri ayah, ibu, dan anak yang diperoleh dari keturunannya atau adopsi atau keduanya.
2. Keluarga besar (Extended family) adalah keluarga inti ditambah anggota keluarga lain yang masih mempunyai hubungan darah (kakek, nenek, paman, bibi).

B. Keluarga Modern
1. Keluarga berantai (Serial Family) adalah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
2. Keluarga duda / janda (Single family) adalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.
3. Keluarga berkomposisi (Composite) adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama.


  4. Keluarga kabitas (Cohabitation) adalah dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.
5. Orang dewasa (laki-laki atau perempuan) yang tinggal sendiri tanpa pernah menikah (The single adult living alone).
6. Keluarga yang dibentuk oleh pasangan yang berjenis kelamin sama (Gay and lesbian family).

PEMEGANG KEKUASAAN DALAM KELUARGA

  1. Patriakal, adalah kekuasaan yang dominan dipegang oleh ayah.
2. Matriakal, adalah kekuasaan yang dominan dipegang oleh ibu.
3. Equalitarian, adalah kekuasaan yang dipegang bersama / seimbang antara ayah dan ibu.

PERANAN KELUARGA

  1. Peranan ayah, adalah sebagai suami dari istri dan ayah dari anak-anak, berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman sebagai

kepala keluarga.
2. Peranan Ibu, adalah sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peran mengurus rumah tangga, pengasuh, pendidik, anak-anaknya.
3. Peranan Anak, adalah melaksanakan peranan psiko-sosial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, social, dan spiritual.

TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA

   1. Keluarga antara : masa bebas (pacaran) dewasa muda. Tidak dididentifikasi karena periode waktu antara dewasa dan menikah tak dapat ditentukan.
2. Terbentuknya keluarga baru melalui suatu perkawinan, Keluarga baru menikah
3. Keluarga yang memiliki anak usia muda (anak usia bayi sampai usia sekolah), Keluarga dengan anak baru lahir (usia anak tertua sampai 30 bulan).
3. Keluarga dengan anak prasekolah (usia anak tertua 2,5 tahun – 5 tahun).
4. Keluarga dengan usia sekolah (usia anak tertua (6 – 12 tahun).

  5. Keluarga dengan anak remaja (usia anak tertua 13 – 20 tahun).
6. Keluarga mulai melepas anak sebagai dewasa (anak-anaknya mulai meninggalkan rumah).
7. Keluarga yang hanya terdiri dari orang tua saja/keluarga usia pertengahan (semua anak meninggalkan rumah).
8. Keluarga lansia

STRUKTUR KELUARGA

   1. Struktur peran keluarga, adalah menggambarkan peran masing – masing anggota keluarga dalam keluarga sendiri dan perannya di lingkungan masyarakat,

baik peran formal maupun informal.
2. Nilai atau norma keluarga, menggambarkan nilai dan norma yang dipelajari dan diyakini oleh keluarga, khususnya yang berhubungan dengan kesehatan.

   3. Pola komunikasi keluarga, menggambarkan bagaimana cara dan pola komunikasi ayah-ibu (orang tua), orang tua dengan anak, anak dengan anak, dan

anggota keluarga lain (pada keluarga besar) dengan keluarga inti.
   4. Struktur kekuatan keluarga, menggambarkan kemampuan anggota keluarga untuk mempengaruhi dan mengendalikan orang lain untuk mengubah perilaku

keluarga yang mendukung kesehatan.

FUNGSI KELUARGA

  1. Fungsi afektif (the affective function) adalah fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga

berhubungan dengan orang lain. Fungsi ini dibutuhkan untuk perkembangan individu dan psikososial anggota keluarga.
2. Fungsi sosialisasi dan tempat bersosialisasi (socialization and social placement function) adalah fungsi mengembangkan dan tempat melatih anak untuk

berkehidupan sosial sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan dengan orang lain di luar rumah.

   3. Fungsi reproduksi (the reproductive function) adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarga.
4. Fungsi ekonomi (the economic function), yaitu keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan

kemampuan individu meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

  5. Fungsi perawatan / pemeliharaan kesehatan (the health care function), yaitu fungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap

memiliki produktivitas tinggi. Fungsi ini dikembangkan menjadi tugas keluarga di bidang kesehatan.
TERIMAKASIH…………







Konsep Stress and Teori Dan Model Konseptual Keperawatan

KONSEP DASAR KEPERAWATAN
(Konsep Stress )



Oleh :


Bagiyo Nugroho,S.Kep

1.Definisi STRESS

Sarafino (1998), stres muncul akibat terjadinya kesenjangan antara tuntutan yang dihasilkan oleh transaksi antara individu dan lingkungan dengan sumber daya

biologis, psikologis atau sistem sosial yang dimiliki individu tersebut.

Stres merupakan penekanan pada peristiwa-peristiwa dan situasi-situasi negatif yang dialami individu yang dapat menimbulkan efek yang tidak teratur pada

perilakunya, (Lahey & Ciminero, 1998).

2.Dampak Stres pada Kesehatan
    Stres mempengaruhi kesehatan dalam dua cara:
 Cara pertama,
    perubahan yang diakibatkan oleh stress secara langsung mempengaruhi fisik sistem tubuh yang dapat mempengaruhi kesehatan.
 Cara kedua,
     secara tidak langsung stress mempengaruhi perilaku individu sehinggga menyebabkan timbulnya penyakit atau memperburuk kondisi yang sudah ada

(Baum dalam Safarino, 1998).

3.RESPON PSIKOLOGIS TERHADAP     STRESS

a. Kecemasan
Adalah emosi yang tidak menyenangkan(kuatir,tegang,prihatin,takutdan susah tidur)


b. Kemarahan dan Agresi
Kemarahan Adalah perasaan jengkel sebagai respon terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman.Merupakan reaksi umum lain terhadap situasi stress

yang mungkin dapat menyebabkan agresi,
 Agresi ialah kemarahan yang meluap-luap, dan orang melakukan serangan secara kasar dengan jalan yang tidak wajar.Kadang-kadang disertai perilaku kegilaan,

tindak sadis dan usaha membunuh orang

c. Depresi
    adalah Keadaan yang ditandai dengan hilangnya gairah dan semangat. Terkadang disertai rasa sedih

4.RESPON FISIOLOGI TERHADAP     STRESS
1.Local Adaptation Syndrom (LAS)
    Tubuh menghasilkan banyak respons setempat terhadap stress. Respon setempat ini termasuk pembekuan darah dan penyembuhan luka, akomodasi

mata terhadap cahaya, dll. Responnya berjangka pendek.

2. General Adaptation Syndrom (GAS)
a. Fase Alarm ( Waspada)
    Melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh dan pikiran untuk menghadapi stressor. Tanda fisik : curah jantung meningkat, peredaran

darah cepat. Banyak organ tubuh terpengaruh, gejala stress mempengaruhi denyut nadi, ketegangan otot dan daya tahan tubuh menurun

b. Fase Resistance (Melawan)
Tubuh berusaha menyeimbangkan kondisi fisiologis sebelumnya kepada keadaan normal dan tubuh mencoba mengatasi faktor-faktor penyebab stress. Bila teratasi

atau gejala stress menurun atau normal

c. Fase Exhaustion (Kelelahan)
    Merupakan fase perpanjangan stress yang belum dapat tertanggulangi pada fase sebelumnya. Energi penyesuaian terkuras. Timbul gejala penyesuaian

diri terhadap lingkungan seperti sakit kepala, gangguan mental, penyakit arteri koroner, dll. Bila usaha melawan tidak dapat lagi diusahakan, maka kelelahan dapat

mengakibatkan kematian

5.Strategi Mengatasi Stres
    Mengurangi tingkatan stres mengakibatkan berkurangnya resiko memburuknya atau kambuhnya suatu penyakit. Sealin itu keadaan yang diakibatkan

oleh kondisi stres seringkali menimbulkan perasaan tidak nyaman.Oleh karena itu, manusia termotivasi untuk melakukan sesuatu untuk mengurangi stres yang

disebut juga dengan coping. Coping merupakan usaha yang dilakukan individu untuk mengatur stres, kesulitan dan tantangan yang dialaminya (Blair, 1998).
TERIMAKASIH……..


KONSEP DASAR KEPERAWATAN
(Teori Dan Model Konseptual Keperawatan)

Oleh :

Bagiyo Nugroho,S.Kep
A. PENGERTIAN

Teori keperawatan adalah Sebagai usaha menguraikan dan menjelaskan berbagai fenomena dalam keperawatan.
    (sevens ,1984)
   Teori keperawatan berperan dalam membedakan keperawatan dengan disiplin ilmu lain dan bertujuan untuk menggambarkan, menjelaskan, memperkirakan, dan

mengontrol hasil asuhan atau pelayanan keperawatan yang dilakukan.

    Model konseptual keperawatan merupakan suatu cara untuk memandang situasi dan kondisi pekerjaan yang melibatkan perawat di dalamnya. Model

konseptual keperawatan memperlihatkan petunjuk bagi organisasi dimana perawat mendapatkan informasi agar mereka peka terhadap apa yang terjadi pada

suatu saat dengan apa yang terjadi pada suatu saat juga dan tahu apa yang harus perawat kerjakan.

B. GAMBARAN MODEL KONSEPTUAL  KEPERAWATAN

    Hampir semua model keperawatan yang diaplikasikan dalam praktik keperawatan professional menggambarkan empat jenis konsep yang sama, yaitu :

    1.    Orang yang menerima asuhan keperawatan
2.     Lingkungan (masyarakat)
3.     Kesehatan (sehat/sakit, kesehatan dan      penyakit)
4.     Keperawatan dan peran perawat     (tujuan/sasaran, peran dan fungsi)

    Model keperawatan dapat diaplikasikan dalam kegiatan praktik, penelitian dan pengajaran, oleh karena itu model harus diperkenalkan kepada perawat atau

calon perawat guna memperkuat profesi keperawatan khususnya dalam mengkoreksi pemikiran yang salah tentang profesi keperawatan seperti : perawat sebagai

pembantu dokter

C. MODEL KONSEPTUAL KEPERAWATAN MENURUT FLORENCE NIGHTINGALE

1. Biografi Florence Nightingale
Florence Nightingale dilahirkan  pada tanggal 12-Mei 1820 di sebuah kota di Italia
Florence Nightingale dibesarkan dalam sebuah keluarga kaya di Inggris Dia bertanya kepada seorang dokter tamu dari Amerika, dr. Samuel Howe, “Apakah

pantas bagi seorang gadis Inggris mencurahkan hidupnya untuk menjadi seorang perawat?” Dia menjawab, “Di Inggris, semua yang tidak biasa dianggap tidak

layak. Tetapi bukanlah sesuatu yang tidak mungkin terjadi atau tidak wajar bagi seorang wanita terhormat bila melakukan suatu pekerjaan yang membawa

kebaikan bagi orang lain.”
2. Gambaran model konseptual keperawatan Florence Nightingale:

     a. Definisi keperawatan adl. Profesi untuk wanita dengan tujuan menemukan dan menggunakan hukum alam dalam pembangunan kesehatan dan pelayanan

kesehatan. Ningtingale menegaskan bahwa keperawatan adl. Ilmu dan kiat yang memerlukan pendidikan formal untuk merawat orang yang sakit.

    b. Tujuan tindakan keperawatan adl. Memelihara, mencegah infeksi, dan cedera, memulihkan dari sakit, melakukan pendidikan kesehatan serta mengendalikan

lingkungan


    c. Alasan tindakan keperawatan yakni Menempatkan manusia pada kondisi yang terbaik secara alami untuk menyembuhkan atau meningkatkan kesehatan serta

mencegah penyakit dan luka.
   
    d. Konsep individu adl. Merupakan kesatuan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual yang lengkap dan berpotensi.

    e. Konsep sehat adl. Keadaan bebas dari penyakit dan dapat menggunakan kekuatannya secara penuh.

    f. Konsep lingkungan adl. Bagian eksternal yang mempengaruhi kesehatan dan sakitnya seseorang.

TERIMAKASIH………


Konsep kehilangan dan Pertahanan diri

KONSEP DASAR KEPERAWATAN
(Konsep kehilangan)

Oleh :


Bagiyo Nugroho,S.Kep
Definisi
   Kehilangan adalah penarikan sesuatu dan atau seseorang yang berharga / bernilai , baik sebagai pemisahan yang nyata maupun yang diantisipasi.

Jenis-jenis Kehilangan :

    1. ACTUAL LOSS
   Diakui orang lain dan sama-sama dirasakan  bahwa hal tsb merupakan suatu bentuk kehilangan.misal : kehilangan pekerjaan.

    2. PERCEIVED LOSS
   Dirasakan seseorang, tetapi tidak sama dirasakan  orang lain. Misal : kehilangan masa muda

    3. PHICHICAL LOSS
   Kehilangan secara fisik. misal : seseorang mengalami kecelakaan dan akibat luka yang parah tangan atau kaki harus diamputasi.

    4. PSYKHOLOGIS LOSS
   Kehilangan secara psykologis. Misal : orang yang cacat akibat kecelakaan membuatnya merasa tidak percaya diri.gambaran dirinya terganggu.

    5. ANTICIPATORY LOSS
   Kehilangan yang bisa dicegah. Misal : orang yang menderita penyakit ‘ terminal’.

PARKES ( 1986 ) dan PARKES ET AL ( 1991 ),membatasi 4 tahap dari reaksi berduka karena kematian seseorang yang dicintai :


    1. Mati Rasa Dan Mengingkari.

    Orang yang baru saja mengalami kehilangan akan merasa tidak nyata,penghentian waktu,segera setelah kematian orang yang penting dalam kehidupan mereka.

Perasaan ini digambarkan sebagai ‘mati rasa ‘.Ada kecenderungan untuk mengingkari kejadian dan keyakinan bahwa semuanya hanyalah mimpi buruk . Hal ini

berlangsung beberapa hari sampai berminggu-minggu.

    
    2. Kerinduan atau Pining.

    Fase ini ditandai dengan adanya kebutuhan untuk menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal.Hal ini dinyatakan dalam mimpi orang yang

kehilangan,dan orang seringkali mengatakan melihat orang yang sudah meninggal dalam keramaian.

    3. Putus Asa dan Depresi.

Jika orang yang kehilangan akhirnya menyadari kenyataan tentang kematian ,ada perasaan putus asa yangbhebat dan kadang terjadi depresi. Periode ini adalah

saat individu mengalami disorganisasi dalam batas tertentu dan merasa bahwa mereka tidak mampu melakukan tugas yang dimasa lalu dilakukan dengan sedikit

kesulitan.


    4. Penyembuhan dan Reorganisasi.

    Pada titik tertentu kebanyakan individu yang kehilangan menyadari bahwa hidup mereka harus berlanjut dan mereka harus mencari makna baru dari keberadaan

mereka.



TERIMAKASIH…………


KONSEP DASAR keperawatan
 (Pertahanan diri)


Oleh:
BAGIYO NUGROHO,S.Kep
1.pendahuluan
    Sebagian dari cara individu mereduksi perasaan tertekan, kecemasan, stress atau pun konflik adalah dengan melakukan mekanisme pertahanan diri

baik yang ia lakukan secara sadar atau pun tidak. Hal ini sesuai dengan pendapat dikemukakan oleh Sigmund Freud: "Such defense mechanisms are put into

operation whenever anxiety signals a danger that the original unacceptable impulses may reemerge." (Microsoft Encarta Encyclopedia 2002)

    Berikut ini beberapa mekanisme pertahanan diri yang biasa terjadi dan dilakukan oleh sebagian besar individu, terutama para remaja yang sedang

mengalami pergulatan yang dahsyat dalam perkembangannya ke arah kedewasaan. Dari mekanisme pertahanan diri berikut, diantaranya dikemukakan oleh Freud,

tetapi beberapa yang lain merupakan hasil pengembangan ahli psikoanalisis lainnya.

1. Represi

   Represi didefinisikan sebagai upaya individu untuk menyingkirkan frustrasi, tekanan, konflik batin, mimpi buruk, krisis keuangan dan sejenisnya yang

menimbulkan kecemasan.

misalnya:
Individu cenderung untuk tidak berlama-lama untuk mengenali sesuatu yang tidak menyenangkan, dibandingkan dengan hal-hal yang menyenangkan. Individu akan

membuang memori tentang hal tidak menyenangkan dari otaknya.
Berusaha sedapat mungkin untuk tidak melihat gambar  dan mengingat-inget kejadian yang menyesakkan dada.
Lebih sering mengkomunikasikan berita baik daripada berita buruk.
2.Supresi

    Supresi merupakan suatu proses pengendalian diri yang terang-terangan ditujukan menjaga agar impuls-impuls dan dorongan-dorongan yang ada tetap

terjaga (mungkin dengan cara menahan perasaan itu secara pribadi tetapi mengingkarinya secara umum).
3.Fiksasi

    Dalam menghadapi kehidupannya individu dihadapkan pada suatu situasi menekan yang membuatnya frustrasi dan mengalami kecemasan, sehingga

membuat individu tersebut merasa tidak sanggup lagi untuk menghadapinya dan membuat perkembangan normalnya terhenti untuk sementara atau selamanya.

  contoh : Individu yang sangat tergantung dengan individu lain merupakan salah satu pertahan diri dengan fiksasi.Pada remaja dimana terjadi perubahan yang

drastis seringkali dihadapkan untuk melakukan mekanisme ini.
4.Regresi

    Regresi merupakan respon yang umum bagi individu bila berada dalam situasi frustrasi, setidak-tidaknya pada anak-anak. Ini dapat pula terjadi bila

individu yang menghadapi tekanan kembali lagi kepada metode perilaku yang khas bagi individu yang berusia lebih muda. Misalnya anak yang baru memperoleh

adik,akan memperlihatkan respons mengompol atau menghisap jempol tangannya, padahal perilaku demikian sudah lama tidak pernah lagi dilakukannya.
5.Menarik Diri

    Reaksi ini merupakan respon yang umum dalam mengambil sikap. Bila individu menarik diri, dia memilih untuk tidak mengambil tindakan apapun.

Biasanya respons ini disertai dengan depresi dan sikap apatis.

6.Mengelak

    Bila individu merasa diliputi oleh stres yang lama, kuat dan terus menerus, individu cenderung untuk mencoba mengelak. Bisa saja secara fisik mereka

mengelak atau mereka akan menggunakan metode yang tidak langsung.

7.Denial (Menyangkal Kenyataan)

    Bila individu menyangkal kenyataan, maka dia menganggap tidak ada atau menolak adanya pengalaman yang tidak menyenangkan (sebenarnya

mereka sadari sepenuhnya) dengan maksud untuk melindungi dirinya sendiri. Penyangkalan kenyataan juga mengandung unsur penipuan diri
8.Fantasi

    Dengan berfantasi pada apa yang mungkin menimpa dirinya, individu sering merasa mencapai tujuan dan dapat menghindari dirinya dari peristiwa-

peristiwa yang tidak menyenangkan, yang dapat menimbulkan kecemasan dan yang mengakibatkan frustrasi.

9.Rasionalisasi

    Rasionalisasi sering dimaksudkan sebagai usaha individu untuk mencari-cari alasan yang dapat diterima secara sosial untuk membenarkan atau

menyembunyikan perilakunya yang buruk. Rasionalisasi juga muncul ketika individu menipu dirinya sendiri dengan berpura-pura menganggap yang buruk adalah

baik, atau yang baik adalah yang buruk.

10.Intelektualisasi

    Apabila individu menggunakan teknik intelektualisasi, maka dia menghadapi situasi yang seharusnya menimbulkan perasaan yang amat menekan

dengan cara analitik, intelektual dan sedikit menjauh dari persoalan. Dengan kata lain, bila individu menghadapi situasi yang menjadi masalah, maka situasi itu akan

dipelajarinya atau merasa ingin tahu apa tujuan sebenarnya supaya tidak terlalu terlibat dengan persoalan tersebut secara emosional.

11.Proyeksi

    Individu yang menggunakan teknik proyeksi ini, biasanya sangat cepat dalam memperlihatkan ciri pribadi individu lain yang tidak dia sukai dan apa

yang dia perhatikan itu akan cenderung dibesar-besarkan. Teknik ini mungkin dapat digunakan untuk mengurangi kecemasan karena dia harus menerima

kenyataan akan keburukan dirinya sendiri.

Terimakasih.........





Konsep sehat dan sakit dan Proses Keperawatan

KONSEP DASAR KEPERAWATAN
(Konsep sehat dan sakit)

Komponen ini memandang  bahwa keperawatan itu adalah bentuk pelayanan yang diberikan pada manusia dalam rentang sehat-sakit, yang dapat digambarkan

sebagai berikut :



                                    rentang sehat                                                rentang sakit

   Sejahtera              sehat       sehat                 setengah                    sakit            mati                       
                                 sekali       normal                sakit    
                                                                                                             krronis

Rentang sehat
Rentang ini diawali dari status kesehatan sehat normal, sehat sekali dan sejahtera. Dikatakan sehat bukan hanya bebas dari penyakit akan tetapi juga meliputi

seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek fisik,emosi,sosial dan spiritual.
•    Batasan sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik,mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit

atau kelemahan
    (WHO 1947)

Berdasarkan pengertian diatas maka dapat diketahui karakterisrik sehat sebenarnya adalah :
•    Memiliki kemampuan merefleksikan  perhatian pada individu sebagai manusia.
•    Memiliki pandangan terhadap sehat dalam konteks lingkungan, baik secara internal dan eksternal.
•    Memiliki hidup yang kreatif dan produktif.

Faktor pengaruh status kesehatan
  1. Perkembangan
  2. Sosial dan kultural
  3. Pengalaman masa lalu
  4. Harapan seseorang tentang dirinya
  5. Keturunan
  6. Lingkungan
  7. Pelayanan
Rentang sakit
Rentang sakit merupakan rangkaikan dalam konsep sehat – sakit. Rentang ini di mulai dari keadaan setengah sakit,sakit,sakit kronis dan kematian.
•    Sakit pada dasarnya merupakan keadaan terganggunya seseorang dalam proses tumbuh kembang fungsi tubuh secara keseluruhan atau sebagian,serta

terganggunya proses penyesuaian diri manusia,sakit juga bisa dikatakan sebagai gangguan dalam fungsi
    Yang normal dimana individu sebagai totalitas dari keadaan organisme sebagai sistem biologis dan adaptasi sosial (Parsons, 1972)


Sehat-->Sakit-->Penyakit-->Sembuh-->Sehat


Gambar. Hubungan sehat sakit
Tahapan proses sakit
•    Tahap gejala
•    Tahap asumsi terhadap sakit
•    Tahap kontak dengan pelayanan kesehatan
•    Tahap ketergantungan
•    Tahap penyembuhan
Dampak sakit
•    Terjadi perubahan peran pada keluarga
•    Terjadinya gangguan psikologis
•    Masalah keuangan
•    Kesepian akibat perpisahan
•    Terjadianya perubahan kebiasaan sosial
•    Terganggunya privasi seseorang
•    Otonomi
•    Terjadinya perubahan gaya hidup
Perilaku pada orang sakit
•    Adanya perasaan ketakutan
•    Menarik diri
•    Egosentris
•    Sensitif pada persoalan kecil
•    Reaksi emosional tinggi
•    Perubahan persepsi
•    Berkurangnya minat
Terimakasih……..


KONSEP DASAR KEPERAWATAN
(Proses Keperawatan)

PENGERTIAN

    Banyak pakar telah merumuskan definisi dari proses keperawatan (Weitzel, Marriner, Murray, Yura, Herber, dll). Secara umum dapat dikatakan

bahwa proses keperawatan adalah metode pengorganisasian yang sistematis, dalam melakuan asuhan keperawatan pada individu, kelompok dan masyarakat yang

berfokus pada identifikasi dan pemecahan masalah dari respon pasien terhadap penyakitnya
     (Tarwoto & Wartonah, 2004).
Proses keperawatan adalah :
    1. Suatu pendekatan sistematis untuk mengenal masalah-masalah pasien dan mencarikan alternatif pemecahan masalah dalam memenuhi kebutuhan-

kebutuhan pasien.
    2. Merupakan proses pemecahan masalah yang dinamis dalam memperbaiki dan meningkatkan kesehatan pasien sampai ke tahap maksimum.
   
3. Merupakan pendekatan ilmiah
4. Terdiri dari 4 tahap : pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Atau, ada pula yang menterjemahkannya ke dalam 5 tahap : pengkajian, perumusan

diagnosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

ALASAN PENGGUNAAN PROSES KEPERAWATAN

    1. Meningkatnya tuntutan masyarakat akan pelayanan keperawatan
    2. Profesionalisme, sesuai dengan konsep keperawatan bahwa perawatan merupakan pelayanan esensial yang diberikan oleh perawat profesional di

mana dalam melaksanakan kegiatannya menggunakan pendekatan proses keperawatan
   
    3. Untuk efektifitas dan efisiensi pelayanan keperawatan
    4. Untuk meningkatkan peran serta dan keterlibatan pasien dalam pelayanan keperawatan.

HUBUNGAN ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN HAK-HAK KLIEN

    The American Hospital Association’s (1972) menerbitkan tulisan tentang pernyataan hak-hak pasien. Menyadari hal tersebut, National Leaque For

Nursing (NLN, 1959), sejenis Persatuan Perawat Nasional di Amerika, menyusun suatu rancangan awal pernyataan hak-hak pasien dengan asumsi dasar sebagai

berikut :

    1. Asuhan keperawatan mencakup promosi kesehatan, asuhan dan pencegahan penyakit, ketidakmampuan dan rehabilitasi. Asuhan keperawatan

dapat diberikan melalui proses pengajaran, penyuluhan, dan dukungan emosional, serta perawatan pada waktu ia sakit.
    2. Asuhan keperawatan merupakan bagian integral dari asuhan kesehatan secara menyeluruh dan direncanakan, serta diberikan dalam kombinasi

dengan pelayanan medis, pendidikan, dan kesejahteraan.
   

    3.Tenaga keperawatan menghadapi individualitas, martabat, dan hak-hak setiap orang tanpa memandang ras, warna kulit, derajat, kebangsaan, status

sosial dan ekonomi.
TUJUAN PROSES KEPERAWATAN

TUJUAN UMUM :
    Memberikan suatu kerangka kerja berdasarkan kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat, sehingga kebutuhan perawatan kesehatan klien, keluarga

dan masyarakat dapat terpenuhi.
TUJUAN KHUSUS :
    1. Mempraktekkan metode pemecahan masalah dalam praktek keperawatan (problem solving)
    2. Menggunakan standart dalam praktek keperawatan
   
    3. Memperoleh metode yang baku, rasional dan sistematis
    4. Memperoleh metode yang dapat digunakan dalam berbagai macam situasi
    5. Memperoleh asuhan keperawatan yang berkualitas tinggi

KARAKTERISTIK PROSES KEPERAWATAN

1.Tujuan : proses keperawatan mempunyai tujuan yang jelas melalui suatu tahapan dalam meningkatkan kualitas asuhan keperawatan
2. Sistematik : menggunakan suatu pendekatan yang terorganisir untuk mencapai suatu tujuan — meningkatkan kualitas asuhan keperawatan dan menghindari

masalah yang bertentangan dengan tujuan pelayanan kesehatan / keperawatan
    3. Dinamik : proses keperawatan ditujukan dalam mengatasi masalah-masalah kesehatan klien yang dilaksanakan secara berkesinambungan. Proses

keperawatan ditujukan pada suatu perubahan respon klien yang diidentifikasi melalui hubungan antara perawat dan klien
    4. Interaktif : dasar hubungannya adalah hubungan timbal balik antar perawat, klien, keluarga dan tenaga kesehatan lainnya
   
    5. Fleksibel : dapat diadopsi pada praktik keperawatan dalam situasi apapun dan bisa digunakan secara berurutan
    6.Teoritis : setiap langkah dalam proses keperawatan selalu didasarkan pada suatu ilmu yang luas, khususnya ilmu dan model keperawatan yang

berlandaskan pada filosofi keperawatan dan ditekankan pada aspek : humanisti, holistik dan care.     

FUNGSI PROSES KEPERAWATAN

    1. Sebagai kerangka berpikir untuk fungsi dan tanggung jawab keperawatan dalam ruang lingkup yang sangat luas
    2. Sebagai alat untuk mengenal masalah klien, merencanakan secara sistematis, melaksanakan rencana dan menilai hasil.

SASARAN

    Sasaran dalam proses keperawatan adalah individu, keluarga dan masyarakat yang mempunyai masalah keperawatan, karena ketidak mampuannya

dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, baik secara fisik, mental, sosial dan spiritual. Dapat juga yang diakibatkan oleh kurangnya pengetahuan dan faktor

ketidaktahuan klien tentang perawatan diri atau karena kelemahan fisik, mental dan sosial.


Komponen yang terkait adalah :
    1. Klien (individu, keluarga, masyarakat)
    2. Provider atau pemberi pelayanan keperawatan
    3. Anggota tim kesehatan lainnya.
KEUNTUNGAN MENGGUNAKAN PROSES KEPERAWATAN

    A. Bagi Pelayanan Kesehatan :
    1. Pedoman yang sistematis bagi terselenggaranya pelayanan kesehatan
    2.Sebagai alat untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
B.Bagi Pelaksana Keperawatan
    1. Meningkatkan mutu pelayanan keperawatan
    Bila semua kebutuhan klien dapat dipenuhi, tentu akan dapat mempercepat proses penyembuhan klien dan kepuasan bagi klien akan pelayanan

keperawatan yang diberikan. Dengan demikian, mutu asuhan keperawatan akan meningkat.
    2. Pengembangan ketrampilan intelektual dan teknis bagi tenaga pelaksana keperawatan.
   
3. Peningkatan citra keperawatan dan tenaga keperawatan.
    Jalan yang paling tepat untuk meningkatkan citra keperawatan dan profesi keperawatan adalah dengan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.

Kepuasan konsumen terhadap pelayanan keperawatan menunjukkan keyakinannya terhadap profesi keperawatan.
4. Meningkatkan peran dan fungsi perawatan dalam pengelolaan asuhan keperawatan.
    5. Pengakuan otonomi keperawatan oleh masyarakat dan profesi lain.
    Profesi keperawatan memberikan kesempatan kepada tenaga keperawatan untuk melaksanaan otonomi profesinya, yang didasari oleh tanggung gugat

dan tanggung jawab, penerapan etika profesi dan standart praktek keperawatan.
    6. Peningkatan rasa solidaritas.
    Kesamaan metode praktek keperawatan yang digunakan oleh semua tenaga keperawatan akan memperkuat persatuan serta menggambarkan otonomi

dan identitas keperawatan.

    7. Peningkatan kepuasan tenaga keperawatan.
    Kepuasan konsumen terhadap pelayanan keperawatan dengan sendirinya akan menimbulkan kepuasan bagi tenaga perawatan.
    8. Memupuk rasa percaya diri dalam memberikan asuhan keperawatan
   

9. Untuk pengembangan ilmu keperawatan.
    Proses keperawatan dapat mendukung dan memberi sumbangan dalam pengembangan penelitian ilmu keperawatan, sehingga dapat dikembangkan

metode-metode yang baku dalam memberikan asuhan keperawatan.

C. Bagi Pasien :
    1. Aspek keperawatan yang diterima bermutu dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah
    2. Merangsang partisipasi pasien dalam perawatan dirinya (self care)
    3. Kelanjutan asuhan
    4. Terhindar dari mal-praktik

TERIMAKASIH……………


Related Posts Plugin for 
WordPress, Blogger...