Wednesday, April 11, 2012

Fikih

14 September 2008

Satu hal penting dalam pembahasan shalat adalah fikih. Karena fikih sebagai kompilasi hukum Islam di dalamnya memuat aturan-aturan, tata cara dan prosedur penyelenggraan ibadah, termasuk penyelenggaraan ibadah shalat. Sholat dalam fiqih adalah rangkaian gerak gerik yang kita mulai dengan niyat, talbiratul ihram, dan lalu diahiri dengan salam, diawali dengan “Allahu akbar” yang diahiri dengan ucapan “assalamu alaikum”. Artinya kita tidak akan dapat melakukan sholat tanpa melakukan tahap serta syarat dalam fiqihiyah tersebut. Akan tetapi rutinitas sholat fiqiyah tersebut hanya menonjolkan sisi fisik dari penyembahan terhadap Tuhan, serta kecendrungan yang muncul adalah shalat hanya dimaknai sebagai sebuah kewajiban hamba terhadap Tuhannya, sehingga sholat hanya rutinitas yang menjemukan bagi umat manusia.

Kalau diperhatikan dari maknanya “fiqh” berasal dari bahasa Arab “fiqhun”, berarti pemahaman yang mendalam atas tujuan gerakan (perbuatan) dan perkataan. Makna ini diambil dari pengertian kata Fiqh dalam Al qur’an.
Famali haa ulaai al qaumi yakaduna yafqahuna hadiitsa ……
…..maka mengapa orang-orang itu (kaum munafiq) hampir-hampir tidak memahami (yafqahuna) pembicaraan sedikitpun ( QS, An Nisa, ’: 78)
…..mereka memilki hati, akan tetapi tidak dapat memahami (QS, Al A’raf [7] : 179 )
waman yuridillahu bihi khairan yufaqqihu fi addin …..
…..barangsiapa yang dikehendaki Allah suatu kebaikan, maka Allah pahamkan dalam beragama.
Fiqh shalat secara khusus memiliki kelengkapan makna dan pemahaman yang terkandung dalam setiap gerakan dan ucapan yang disyariatkan oleh Allah Swt. Sehingga setiap gerakan seperti takbir, rukuk, sujud, iftirasy, tahiyyat dan salam tidak hanya sekedar bergerak. Akan tetapi merupakan sebuah simbol-simbol gerak rasa kepatuhan dan kecintaan hati seorang hamba kepada tuhannya. Itu sebabnya mengapa Rasulullah menyuruh umatnya shalat dengan gerakan yang tumakninah, dan tidak dilakukan dengan terburu-buru. Karena setiap gerakan dalam setiap rakaat mempunyai faidah yang berpengaruh terhadap tubuhnya. Pada saat berdiri tumakninah maupun rukuk dan sujud dengan tumakninah, tulang-tulang maupun otot akan merasakan istirahat. Demikian juga setiap bacaan yang diucapkan akan memberikan pengaruh kepada perubahan jiwa bagi yang shalat dengan merendahkan hatinya. Karena setiap berdoa, berarti berhubungan dengan Yang Maha Menciptakan.

Rasulullah menuntun tata cara shalat secara khusus dan bersifat mahdhah. Yaitu suatu syariat yang bersifat baku dan tidak boleh ada seorangpun yang merubah tatanan shalat ini. Dasar ini mengacu kepada sabda Rasulullah “shallu kama raitumuni ushalli, shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat Aku shalat”.

Tuntunan praktis yang diajarkan rasulullah kepada para sahabat ini, disampaikan turun-temurun sampai kepada umat Islam sekarang. Walaupun ada perbedaan sedikit masalah furu’ (cabang-cabang) tetapi tidak merubah rukun ketetapan prinsip syar’i. Hal ini hanya disebabkan karena perbedaan dalam memahami peristiwa yang dilakukan Nabi dalam menjalankan ibadah shalat yang memang menyesuaikan kondisi jamaah pada waktu itu.

Banyak hadist Rasulullah yang menceritakan bahwa beliau selalu mengkontrol gerakan shalat dan kekhusyu’an para sahabat ketika melakukan shalat. Ketika diantara ada jamaah yang salah melakukan ruku’ atau sujud. Beliau langsung menegur dan membetulkan shalatnya, lalu jamaah yang lainnya mengikutinya. Namun berita-berita pengajaran Nabi kepada jamaah tidak selalu lengkap yang kita peroleh dari ahli fiqh. Karena dalam setiap pengajaran dan praktek yang dilakukan oleh nabi kepada para sahabat berbeda-beda. Terkadang nabi shalat gerakannya agak dipercepat ketika menghadapi jamaah yang sepuh. Dan terkadang pula Nabi shalat membutuhkan waktu yang lama, sehingga pernah dikeluhkan oleh sahabat yang mengikuti berjamaah dengan Beliau. Dengan adanya perbedaan kondisi dan situasi yang dibawakan oleh Nabi, menyebabkan seolah-olah shalat yang dilakukan diberbagai negara Islam itu berbeda-beda. Karena kebanyakan umat mengira shalat nabi hanya melakukan satu gaya saja. Sehingga ketika ada seorang dari mazhab yang lainnya melaksanakan shalat yang berbeda, dianggap bid’ah dan sesat. Hal inilah yang menyebabkan perdebatan pada kalangan masyarakat, karena ketidaktahuan proses sejarah rilwayah dan dirayah hadist maupun mustahul hadist.
Sahabat Nabi memperoleh kedudukan sangat penting dalam fikih.

Pertama, sebagai ahli hadits karena mereka adalah orang yang berjumpa dengan Rasulullah saw dan meninggal dunia sebagai orang Islam. Karena itu, dari mereka pula kita mewarisi ikhtilaf (perbedaan) di kalangan kaum Muslim.

Kedua, era sahabat juga dikenal sebagai masa berakhirnya masa tasyri’. Inilah embrio ilmu fiqh yang pertama. Bila pada zaman tasyri’ orang memverifikasi pemahaman agamanya atau mengakhiri perbedaan pendapat dengan merujuk pada Rasulullah, maka pada zaman sahabat rujukan itu adalah diri mereka sendiri. Sementara itu, perluasan kekuasaan Islam dan interaksi antara Islam dengan peradaban-peradaban lain menimbulkan masalah-masalah baru. Dan para sahabat merespon situasi ini dengan mengembangkan fiqh (pemahaman) mereka.

Ketika menceritakan ijtihad pada zaman sahabat, Abu Zahrah menulis: Di antara sahabat ada yang berijtihad dalam batas-batas al-Kitab dan al-Sunnah, dan tidak melewatinya; ada pula yang berijtihad dengan ra’yu bila tidak ada nash, dan bentuk ra’yu-nya bermacam-macam; ada yang berijtihad dengan qiyas seperti Abdullah bin Mas’ud; dan ada yang berijtihad dengan metode mashlahat, bila tidak ada nash.

Dengan demikian, zaman sahabat juga melahirkan prinsip-prinsip umum dalam mengambil keputusan hukum (istinbath; al-hukm); yang nanti diformulasikan dalam kaidah-kaidah ushul fiqh.
Ketiga, ijtihad para sahabat menjadi rujukan yang harus diamalkan, perilaku mereka menjadi sunnah yang diikuti. Al-Syathibi menulis, “Sunnah sahabat r.a. adalah sunnah yang harus diamalkan dan dijadikan rujukan”. Dalam perkembangan ilmu fiqh, madzhab sahabat – sebagai ucapan dan perilaku yang keluar dari para sahabat – akhirnya menjadi salah satu sumber hukum Islam di samping istihsan, qiyas, mashalih mursalah dan sebagainya. Madzhab sahabat pun menjadi hujjah. Tentang hal ini, ulama berbeda pendapat. Sebagian menganggapnya sebagai hujjah mutlak; sebagian lagi sebagai hujjah bila bertentangan dengan qiyas; sebagian lainnya hanya menganggap hujjah pada pendapat Abu Bakar dan Umar saja, berdasarkan hadits “berpeganglah pada dua orang sesudahku, yakni Abu Bakar dan Umar”; dan sebagian yang lain, berpendapat bahwa yang menjadi hujjah hanyalah kesepakatan khulafa’ al-Rasyidin.

Karena posisi sahabat begitu istimewa, maka tidak mengherankan bila mazhab sahabat menjadi rujukan penting bagi perkembangan fiqh Islam sepanjang sejarah. Tentu saja, menurut kesepakatan ahl al-sunnah, di antara para sahabat itu yang paling penting adalah khulafa al-rasyidun. Bila mereka sepakat, pendapat mereka dapat membantu memecahkan masalah fiqh; bila mereka ikhtilaf, mazhab sahabat menimbulkan kemusykilan yang sulit diatasi.

Fiqh para sahabat (khulafa rasyidun) adalah fondasi utama dari seluruh bangunan fiqh Islam sepanjang zaman. Fiqih shahabi memberikan dua macam pola pendekatan terhadap syari’ah yang kemudian melahirkan tradisi fiqh yang berbeda. Ikhtilaf di antara para sahabat, selain mewariskan kemusykilan bagi kita sekarang, juga – seperti kata ‘Umar ibn Abdul Aziz – menyumbangkan khazanah yang kaya untuk memperluas pemikiran.

Setelah Nabi Muhammad saw meninggal dunia, orang-orang Islam bertanya pada sahabat dalam urusan hukum-hukum agama. Tidak semua sahabat menjawab pertanyaan mereka, dan mereka pun tidak bertanya pada semua sahabat. Sebagian sahabat sedikit sekali memberi fatwa, mungkin karena ketidaktahuan, kehati hatian, atau lagi-lagi pertimbangan politis. Sebagian lagi banyak sekali memberi fatwa, mungkin karena pengetahuan mereka, atau karena posisinya memungkinkan untuk itu.
Menarik untuk dicatat, bahwa dalam khazanah fiqh ahl al-Sunnah para khalifah sedikit sekali memberi fatwa atau meriwayatkan al-hadits. Abu bakar meriwayatkan hanya 142 hadits, Umar 537 hadits, Utsman 146 hadits, Ali 586 hadits. Jika semua hadits mereka disatukan hanya berjumlah 1411 hadits, kurang dari 27% hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah (Abu Huraiah meriwayatkan 5374 hadits). Itu karena para tabi’in, yakni mereka yang berguru pada sahabat, umumnya bukanlah murid al-Khulafa al-Rasyidin.

Esa

14 September 2008

Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Dialah Tuhan seluruh makhluk, dan tiada sekutu bagiNya. Dalam Al Quran surat Ali Imran ayat 18 disebutkan:

“Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana “.

Pengakuan hamba terhadap keesaan Allah SWT tertuang dalam kalimat tauhid Laa ilaaha ilallah, yang berarti tidak ada sesuatu (tuhan) yang berhak disembah kecuali Allah.

Dikisahkan dalam Hadis Riwayat Bukhari, dan Muslim, bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada Mu’adz bin Jabal ra,

“Jadikanlah perkara yang pertama kali kamu dakwahkan ialah agar mereka mentauhidkan Allah “.

Satu sikap penting dalam ibadah shalat adalah pengesaan seorang hamba akan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang disembah. Ungkapan ini dirangkum dalam dua kalimat syahadat yang selalu dibaca ketika dalam posisi tasyahud; baik tasyahud awal atau pun pada tasyahud akhir.

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui “. (QS. Al Baqarah [2]: 21-22).

Definisi ESA (tauhid) menurut bahasa adalah mengetahui bahwa sesuatu (Tuhan) itu satu. Sedangkan secara umum, tauhid dipahami sebagai pengesaan Allah SWT. Agar dalam mengabdi kepada-Nya tidak menduakan-Nya.

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan satu jua pun dalam beribadat kepada Tuhannya. “. (QS. Al Kahfi [18]: 110).

Pengesaan yang diungkapkan dengan kalimat Laa ilaaha ilallah (Tidak ada sesuatu yang kita cintai atau kita sembah selain Allah); dalam hal ini bisa saja berupa anak kita, pasangan hidup kita, ataupun pangkat, jabatan, materi berlimpah, maupun hobi, dan lain sebagainya, yang kemudian menghantui dan menguasai pikiran kita.
Rasulullah diutus Allah, untuk memperbaiki kembali tatanan kehidupan manusia dalam berketuhanan dan menyempurnakan syariat sebelumnya. Karena sepeninggal para nabi sebelumnya, masyarakat telah banyak merubah konsep ketuhanan yang murni (hanif) menjadi menuhankan para pendeta, rahib-rahib, bahkan menuhankan para nabi sang pembawa risalah. Masalah ini telah terungkap dalam Al qur’an:

“Mereka itu menjadikan rahib-rahib dan pendetanya sebagai tuhan selain Allah …” [QS. At Taubah [9]:31)

“Manusia menjadikan sesembahan selain Allah, dan mereka mencitai Tuhan seolah seperti mencitai Allah. Sedangkan orang-orang mukmin mencitai Allah lebih dahsyat lagi ….” [QS. Al Baqarah [2]:165)

Kemudian Al qur’an meluruskan kembali dengan menurunkan surat Al Ikhlas, qul huwa Allahu ahad, Allahu ash shamad,…….

Keberhasilan Rasulullah untuk menciptakan kondisi kemurnian spiritual masyarakat Arab, ditandai dengan pembersihan berhala-berhala yang disimpan di dalam Ka’bah. Langkah ini menandakan agama tauhid telah tegak kembali. Sehingga didalam shalat, seorang hamba menyerahkan dirinya dengan tertuju langsung kepada Allah tanpa perantara. Sebagaimana didalam sebuah doa iftitah diungkapkan,
“Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharassamawati wal ardh, hanifan musliman wama ana minal musyrikin, inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbail ‘alamin”.
“Aku hadapkan wajahku kepada Wajah Tuhan Yang Menciptakan Langit dan Bumi dengan lurus sebagai orang yang berserah diri dan tidak menyekutukan-Nya. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Tuhan Sekalian Alam”.

Konsep ini telah menjadi baku didalam ajaran Islam sampai sekarang. Oleh karenanya, Allah sangat keras ancamannya bagi orang yang melakukan dosa syirik (menyekutukan Allah). Hal ini untuk menegaskan bahwa Tuhan Sang Pencipta Alam semesta hanyalah satu adanya (monoteisme). Islam tidak mengakui dan menolak adanya perantara didalam beribadah shalat maupun berdzikir kepada Allah. Sehingga shalat merupakan ibadah yang sangat individual, walaupun dilaksanakan secara berjamaah.

Ketauhidan ini (mengesakan Allah) sangat penting dipelajari. Sebab jika tidak, arah spiritual seseorang akan terjebak kedalam spiritual yang tidak bisa dipertanggungjawabkan sehingga tersesat. Ketika ruhani seseorang mencari Tuhan, kemudian menemukan pendapat bahwa Tuhan adalah seorang laki-laki atau berwujud manusia, maka ruhani sang pencari Tuhan tersebut akan mengarah kepada persepsi apa yang dipikirkan. Apabila arah pikirannya berkonsentrasi kepada benda-benda seperti lilin, suara musik, patung dan lain-lain, maka jiwanya berhenti kepada benda-benda yang dipikirkan dalam samadinya. Sebagaimana seseorang yang sedang mencintai sebuah benda, misalnya mobil. Pikiran dan jiwanya pasti akan selalu teringat mobil tersebut, dan jiwanya tidak bisa keluar dari apa yang dipikirkan. Akan tetapi apabila seseorang yang mengarahkan jiwanya kepada yang bukan benda, yaitu Zat Mutlak Penguasa Alam Semesta, maka jiwa akan menembus dan meluas tak terbatas melampaui ruang dan waktu.

Pikiran manusia tidak mampu menghayalkan wujud Tuhan, karena mata tidak pernah melihatnya, telinga tidak pernah mendengarkan suaranya. Sehingga otak kita tidak pernah menerima informasi melalui reseptor indria kita. Ketika indria manusia tidak memberikan informasi tentang keadaan Wujud Tuhan, maka otak tidak akan bergetar memberikan persepsi tentang Tuhan. Akan tetapi kalau kita bertuhan dengan perantara benda-benda, indria kita akan memberikan informasi kepada otak melalui neurotransmiter dan disimpan dalam memori otak. Sehingga setiap kali mengingat Tuhan, pasti yang bergetar adalah impuls listrik pada temporal lobes.

Inilah yang diyakini oleh Michael Persinger sebagai Titik Tuhan (God Spot). Dalam penelitiannya, seseorang yang sedang membicarakan Tuhan atau mendengarkan tentang ketuhanan maka temporal lobes-nya akan bergetar. Persinger lalu tertarik untuk menciptakan ruangan laboratorium spiritual untuk membantu orang yang ingin menggetarkan titik tuhan dalam otaknya. Caranya dengan membuat alat ukur elektromagnetik scranial yang ditempelkan pada otaknya agar ia bisa berjumpa Tuhan. Penelitian ini telah menghebohkan dunia spiritual klasik yang dilakukan para sufi dan ahli ketuhanan murni. Karena pendapat Persinger ini justru mengaburkan nilai ketuhanan Islam yang tidak bisa dipersepsikan oleh otaknya. Menurutnya, siapapun bisa berspiritual tanpa harus beragama formal. Karena itu spiritual yang dikembangkan oleh Persinger adalah spiritual digital, yang berasal dari getaran otak yang berspiritual dengan perantara benda-benda. Sehingga benda-benda (berhala) itulah yang menggetarkan impuls listrik pada temporal lobes si penyembah berhala yang dikirim melalui reseptor mata dan telinga. Berbeda dengan penyembah Tuhan Yang Maha Esa, yaitu Tuhan yang tidak bisa ditangkap oleh reseptor mata, telinga, penciuman sehingga temporal lobes pada otak tidak bergetar.

Kerancuan ini menjadi masalah baru didalam berketuhanan, dan merusak tatanan agama formal sehingga semua agama sama, atau berspiritual tidak harus berketuhanan. Maka semakin jelaslah, bahwa “keesaan” Allah menjadi kabur akibat pemahaman persepsi yang salah, karena konsep spiritual yang dikembangkan adalah spiritual digital.

Niat

29 September 2008

Sahabat-sahabat Rasulullah adalah generasi terbaik ummat ini. Mereka terus belajar dari Rasulullah apa-apa saja yang harus dikerjakan dan apa saja yang mesti mereka tinggalkan. Soal menjaga lurusnya niat di dalam hidup dan perjuangan mereka, tak bosan-bosan para sahabat itu berguru kepada Rasulullah. Seperti dikisahkan oleh Umamah radhiyallahu ‘anhu.

Ada seorang laki-laki yang datang menemui Rasulullah dan bertanya, “Wahai Rasulullah, Apakah pendapat engkau tentang seseorang yang berperang dengan tujuan mencari pahala dan popularitas diri. Kelak, apa yang akan ia dapat di akhirat?” Rasulullah menjawab, “Dia tidak mendapatkan apa-apa “.Orang itu mengulangi lagi pertanyaannya sampai tiga kali. Tetapi Rasulullah tetap menjawabnya, “Ia tidak menerima apa-apa!” Kemudian beliau bersabda, Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal perbuatan, kecuali yang murni dan yang mengharapkan ridha-Nya. (HR. Abu Daud dan Nasa’i).

Dalam kesempatan lain Abu Said Al-Khudri telah mengambil pelajaran berharga dari Rasulullah pada saat haji wada’.

“Tiga perkara yang menjadikan seorang mukmin tidak akan menjadi pengkhianat: Ikhlas beramal karena Allah, memberikan nasihat yang baik kepada para pemimpin kaum Muslimin, dan senantiasa komitmen terhadap jama’ah “.(HR Ibnu Hibban).

Seni menjaga lurusnya niat tidaklah mudah. Karenanya, seperti dikatakan oleh Fudhail bin “lyadh “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, dan beramal karena manusia adalah syirik. Maka, ikhlas adalah apabila Allah menyelamatkan kamu dari keduanya “.

Urgensi niat sangatlah mendasar bagi kehidupan dan perjuangan setiap mukmin. Dengannya segala amal akan diukur. Inilah yang didengar dan diamalkan Umar bin Khatab dari Rasulullah, “Bahwa amal itu tergantung niat-nya”. Maka, tak berlebihan kalau Imam Syafi’i menyebut hadits Rasulullah ini adalah sepertiga dari seluruh ilmu.

Niat yang baik sering mengubah sesuatu yang mubah menjadi ibadah, Wajar bila perhatian para salafusshalih kepada niat begitu besar. Dengarlah apa yang dikatakan oleh Yahya bin Katsir, “Pelajarilah niat dalam beramal, karena niat itu lebih cepat sampai kepada Allah dari pada amal yang engkau lakukan itu “.

Meski upaya menjaga lurusnya niat telah diupayakan, namun mereka tak merasa puas dan cukup begitu saja. Iman yang benar telah menjadikan mereka memadukan antara rasa pengharapan dan kecemasan. Karenanya, mereka masih menambahinya dengan istighfar. Imam Hasan Al-Bashri berkata: “Perbanyaklah istighfar di rumahmu, di ruang makan, di tengah perjalanan, di pasar, tempat kerja, di pertemuan-pertemuan dan di mana pun dirimu berda saat itu. Sebab engkau tidak akan tahu di temapt manakah turunnya maghfirah Rabb-mu”. Nah bagaimana dengan kita?

Sebuah masyarakat muslim yang utuh menjadi dambaan setiap sahabat. Tindak tanduk ucapan mereka bisa menjadi cermin bagi ucapan di atas. Apalagi sebuah jama’ah da’wah. Ibnu Mas’ud, misalnya, pernah memberi nasehat, “Wahai sekalian manusia, hendaklah kalian selalu taat dengan jama’ah kaum muslimin. Karena sesungguhnya ia adalah tali Allah yang kokoh yang diperintahkan untuk dipegang. Sesungguhnya apa yang tidak engkau sukai dalam kebersamaan di jama’ah itu, adalah lebih baik dari apa yang engkau sukai dalam keadaan terpecah belah “.

Hal serupa juga dilakukan para sahabat lainnya. Para sahabat lebih suka memutuskan masalah dengan syura, agar barisan masyarakat muslim tetap rapat. Suatu hari Umar ber-pidato,

“Sesungguhnya Allah telah mengumpulkan untuk Islam ini orang-orang yang layak untuk memeluknya. Lalu Allah menyatukan hati mereka dan menjadikan mereka bersaudara. Seorang muslim dengan muslim yang lain bagaikan satu tubuh. Bila yang satu terkena sakit yang lain tak akan tinggal diam. Karenanya, sangat layak bila mereka menjadikan perkara mereka diputuskan dengan syura bersama para ahli di antara mereka,”

Demikian Imam Ibnu Jarir meriwayatkan. Karenanya, Umar bin Khatab dalam menjalankan pemerintahannya, menjadikan para sahabat senior, khususnya pengikut perang Badr, untuk menjadi tim penasihatnya. Mereka bahkan tak boleh tinggal jauh di luar Madinah.
Saat genting setelah wafatnya Rasulullah juga menjadi waktu penting para sabahat untuk menjaga agar barisan da’wah Islam tetap utuh, seperti yang ditunjukkan oleh Ali bin Abi Thalib, misalnya. Kisahnya, setelah Abu Bakar di angkat menjadi Khalifah, Abu Sufyan menemui Ali seraya berkata, “Engkau dikalahkan dalam urusan kekuasaan ini oleh suku Quraisy yang jumlah warganya sedikit? Demi Allah, kalau engkau mau, kami akan memenuhi kampungnya dengan laki-laki dan kuda-kuda (menyerbu), jika engkau mau “. Mendengar itu, Ali bin Abi Thalib menjawab lantang, “Apakah engkau ini masih menjadi musuh Islam dan kaum muslimin. Sesungguhnya semua ini (pengangkatan Abu Bakar) tak merugikan Islam dan umatnya sedikitpun. Dan sesungguhnya kami mengetahui bahwa Abu Bakar memang layak untuk itu “.

Untuk menjaga agar masyarakat mereka selalu rapi, para sahabat itu selalu berusaha untuk dekat antara yang satu dengan yang lain. Menghindari perselisihan dan mengutamakan persatukan. Sebagai pengikatnya, mereka menepatkan kerinduan akan ridha Allah untuk mengalahkan potensi-potensi konflik di antara mereka. Seperti yang diucapkan oleh Ibnu Mas’ud, “esungguhnya Allah, dengan keadilan dan pengetahuan-Nya menjadikan kebahagian dan suka cita di dalam sikap yang yakin dan ridha, dan menjadikan duka dan nestapa di dalam sikap ragu-ragu dan benci terhadap ketentuan-Nya”.

Mereka saling menghibur bila ada yang diuji oleh Allah. Suatu hari Ali bin Abi Thalib menemui ‘Adi bin Hatim yang nampak kusut masai. Raut mukanya menggambarkan kesedihan yang berat. “Mengapa engkau tampak bersedih hati?” Adi menjawab, “span style=”font-style: italic;”>Bagaimana aku tidak sedih, sedangkan dua orang anakku terbunuh dan mataku tercongkel dalam pertempuran”. Ali menyahut, “Barang siapa ridha terhadap takdir Allah, maka takdir itu tetap berlaku atasnya dan ia mendapatkan pahala-Nya. Dan barangsiapa yang tidak ridha terhadap takdir-Nya, maka takdir itu pun tetap berlaku atasnya dan terhapuslah pahalanya”.

Sikap ini juga kemudian diwarisi oleh para tabi’in. Lihatlah apa yang dikatakan Hasan Al-Bashri, “Barangsiapa yang ridha terhadap apa yang sudah menjadi suratan hidupnya, maka jiwanya akan merasa lapang menerima hal itu, dan Allah pun akan memberkahinya. Tetapi, barangsiapa yang tidak ridha, maka pandangannya menjadi sempit dan Allah juga tidak memberkahinya”.

Selain itu, para sahabat itu juga menjauhi berlaku curang. Al-Baihaqi meriwayatkan, bahwa setiap tahun Abdullah bin Rawahah datang menemui Yahudi Khaibar untuk menetapkan berapa bagian dari panen kurma yang harus mereka setor kepada Rasulullah. Abdullah bin Rawahah menetapkan separoh hasil panen yang harus disetorkan. Maka mereka mengeluh. Orang-orang Yahudi itu juga berusaha menyuap Abdullah bin Rawahah. Dengan marah Abdullah menolak, “Wahai musuh-musuh Allah. Kalian akan memberiku makanan kotor? Demi Allah, aku ini datang dari orang yang paling tercinta di antara seluruh manusia. Dan sesungguhnya kalian lebih aku benci dari pada kera dan babi. Namun ketahuilah, kebencianku kepada kalian, juga kecintaanku kepada Rasulullah, tidak akan membuatku berbuat tidak adil dengan menerima suap itu”. Mendengar itu orang-orang Yahudi itu berkata “Dengan sikap seperti itulah langit dan bumi tegak”.

Jama’ah

22 September 2008

Ada begitu banyak dalil yang menunjukkan keutamaan shalat berjamaah. Lengkapnya demikian: Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya shalat yang paling berat buat orang munafik adalah shalat Isya dan Shubuh. Seandainya mereka tahu apa yang akan mereka dapat dari kedua shalat itu, pastilah mereka akan mendatanginya meski dengan merangkak.
Sungguh aku punya keinginan untuk memerintahkan shalat dan didirikan, lalu aku memerintahkan satu orang untuk jadi imam. Kemudian pergi bersamaku dengan beberapa orang membawa seikat kayu bakar menuju ke suatu kaum yang tidak ikut menghadiri shalat dan aku bakar rumah-rumah mereka dengan api “.
(HR Bukhari 644, 657, 2420, 7224. Muslim 651 dan lafaz hadits ini darinya).
Hadits ini adalah hadits yang shahih, karena terdapat di dalam dua kitab tershahih di dunia, yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Sehingga kebenaran riwayat hadits ini tidak perlu diotak-atik lagi. Seluruh umat Islam sepanjang masa sepakat atas keshahihan kedua kitab shahih ini.

Selain hadits merangkak di atas, Rasulullah SAW juga bersabda tentang keutamaan shalat jamaah dalam hadits lainnya, seperti: shalatnya seseorang dengan berjamaah lebih banyak dari pada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh kali. (HR Muslim dalam kitab al-masajid wa mawwadhiusshalah no. 650). Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari jilid 2 halaman 133 dalam kitab azan telah menyebutkan secara rinci apa saja yang membedakan keutamaan seseorang shalat berjamaah dengan yang shalat sendirian. Di antaranya adalah ketika seseorang menjawab azan, bersegera shalat di awal waktu, berjalannya menuju masjid dengan sakinah, masuknya ke masjid dengan berdoa, menunggu jamaah, shalawat malaikat atas orang yang shalat, serta permohonan ampun dari mereka, kecewanya syetan karena berkumpulnya orang-orang untuk beribadah, adanya pelatihan untuk membaca Al-Quran dengan benar, pengajaran rukun-rukun shalat, keselamatan dari kemunafikan dan seterusnya. Semua itu tidak didapat oleh orang yang melakukan shalat dengan cara sendirian di rumahnya.
Dalam hadits lainnya disebutkan juga keterangan yang cukup tentang mengapa shalat berjamaah itu jauh lebih berharga dibandingkan dengan shalat sendirian. Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Shalatnya seseorang dengan berjamaah lebih banyak dari pada bila shalat sendirian atau shalat di pasarnya dengan dua puluh sekian derajat. Hal itu karena dia berwudhu dan membaguskan wudhu`nya, kemudian mendatangi masjid di mana dia tidak melakukannya kecuali untuk shalat dan tidak menginginkannya kecuali dengan niat shalat. Tidaklah dia melangkah dengan satu langkah kecuali ditinggikan baginya derajatnya dan dihapuskan kesalahannya hingga dia masuk masjid….dan malaikat tetap bershalawat kepadanya selama dia berada pada tempat shalatnya seraya berdoa, “Ya Allah berikanlah kasihmu kepadanya, Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah ampunilah dia… “.
(HR Muslim dalam kitab al-masajid wa mawwadhiusshalah no. 649)
Pada kesempatan lain, Rasulullah SAW bersabda dengan hadits yang lainnya:
Dari Abi Darda` ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah 3 orang yang tinggal di suatu kampung atau pelosok tapi tidak melakukan shalat jamaah, kecuali syetan telah menguasai mereka. Hendaklah kalian berjamaah, sebab srigala itu memakan domba yang lepas dari kawanannya “. (HR Abu Daud 547 dan Nasai 2/106 dengan sanad yang hasan);
Dari Ibnu Mas`ud ra berkata bahwa aku melihat dari kami yaitu tidaklah seseorang meninggalkan shalat jamaah kecuali orang-orang munafik yang sudah dikenal kemunafikannya atau seorang yang memang sakit yang tidak bisa berjalan “. (HR Muslim);
Dari Ibni Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mendengar azan namun tidak mendatanginya untuk shalat, maka tidak ada shalat baginya. Kecuali bagi orang yang uzur “. (HR Ibnu Majah 793, Ad-Daruquthuni 1/420, Ibnu Hibban 2064, Al-Hakim 1/245 dan sanadnya shahih).
Dengan adanya hadits-hadits ini, akhirnya para ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat berjamaah. Ada yang bilang fardhu ‘an, ada yang bilang fardhu kifayah, ada yang bilang sunnah muakkadah dan ada juga yang bilang syarth.
Shalat berjama’ah itu adalah wajib bagi tiap-tiap mukmin, tidak ada keringanan untuk meninggalkannya terkecuali ada udzur (yang dibenarkan dalam agama). Hadits-hadits yang merupakan dalil tentang hukum ini sangat banyak, di antaranya:
“Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu, ia berkata,Telah datang kepada Nabi shallallaahu alaihi wasallam seorang lelaki buta, kemudian ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak punya orang yang bisa menuntunku ke masjid, lalu dia mohon kepada Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam agar diberi keringanan dan cukup shalat di rumahnya.’ Maka Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam memberikan keringanan kepadanya. Ketika dia berpaling untuk pulang, beliau memanggilnya, seraya berkata, ‘Apakah engkau mendengar suara adzan (panggilan) shalat?’, ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Maka hendaklah kau penuhi (panggilah itu)’ “. (HR. Muslim)
“Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu ia berkata: ‘Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda, ‘Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Seandainya mereka itu mengetahui pahala kedua shalat tersebut, pasti mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Aku pernah berniat memerintahkan shalat agar didirikan kemudian akan kuperintahkan salah seorang untuk mengimami shalat, lalu aku bersama beberapa orang sambil membawa beberapa ikat kayu bakar mendatangi orang-orang yang tidak hadir dalam shalat berjama’ah, dan aku akan bakar rumah-rumah mereka itu’ “. (Muttafaq ‘alaih)
“Dari Abu Darda’ radhiallaahu anhu, ia berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda, ‘Tidaklah berkumpul tiga orang, baik di suatu desa maupun di dusun, kemudian di sana tidak dilaksanakan shalat berjama’ah, terkecuali syaitan telah menguasai mereka. Maka hendaklah kamu senantiasa bersama jama’ah (golongan yang banyak), karena sesungguhnya serigala hanya akan memangsa domba yang jauh terpisah (dari rombongannya)’ “. (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan lainnya, hadits hasan )
“Dari Ibnu Abbas , bahwasanya Nabi shallallaahu alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa mendengar panggilan adzan namun tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, ter-kecuali karena udzur (yang dibenarkan dalam agama)’ “. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan lainnya, hadits shahih)
“Dari Ibnu Mas’ud radhiallaahu anhu, ia berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam mengajari kami sunnah-sunnah (jalan-jalan petunjuk dan kebenaran) dan di antara sunnah-sunnah tersebut adalah shalat di masjid yang dikuman-dangkan adzan di dalamnya.(HR. Muslim)
Shalat berjama’ah mempunyai keutamaan dan pahala yang sangat besar, banyak sekali hadits-hadits yang menerangkan hal tersebut di antaranya adalah:
“Dari Ibnu Umar radhiallaahu anhuma , bahwasanya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda, ‘Shalat berjama’ah dua puluh tujuh kali lebih utama daripada shalat sendirian “. (Muttafaq ‘alaih)
“Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu, ia berkata,’Bersabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, ‘Shalat seseorang dengan berjama’ah lebih besar pahalanya sebanyak 25 atau 27 derajat daripada shalat di rumahnya atau di pasar (maksudnya shalat sendirian). Hal itu dikarenakan apabila salah seorang di antara kamu telah berwudhu dengan baik kemudian pergi ke masjid, tidak ada yang menggerakkan untuk itu kecuali karena dia ingin shalat, maka tidak satu langkah pun yang dilangkahkannya kecuali dengannya dinaikkan satu derajat baginya dan dihapuskan satu kesalahan darinya sampai dia memasuki masjid. Dan apabila dia masuk masjid, maka ia terhitung shalat selama shalat menjadi penyebab baginya untuk tetap berada di dalam masjid itu, dan malaikat pun mengu-capkan shalawat kepada salah seorang dari kamu selama dia duduk di tempat shalatnya. Para malaikat berkata, ‘Ya Allah, berilah rahmat kepadanya, ampunilah dia dan terimalah taubatnya.’ Selama ia tidak berbuat hal yang mengganggu dan tetap berada dalam keadaan suci’ “. (Muttafaq ‘alaih)
Shalat berjama’ah bisa dilaksanakan dengan seorang makmum dan seorang imam, sekalipun salah seorang di antaranya adalah anak kecil atau perempuan. Dan semakin banyak jumlah jama’ah dalam shalat semakin disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Dari Ibnu Abbas radhiallaahu anhuma , ia berkata, ‘Aku pernah bermalam di rumah bibiku, Maimunah (salah satu istri Nabi shallallaahu alaihi wasallam), kemudian Nabi shallallaahu alaihi wasallam bangun untuk shalat malam, maka aku pun ikut bangun untuk shalat bersamanya, aku berdiri di samping kiri beliau, lalu beliau menarik kepalaku dan menempatkanku di samping kanannya’ “. (Muttafaq ‘alaih)
“Dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiallaahu anhuma, keduanya berkata, ‘Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa ba-ngun di waktu malam hari kemudian dia membangunkan isterinya, kemudian mereka berdua shalat berjama’ah, maka mereka berdua akan dicatat sebagai orang yang selalu berdzikir kepada Allah’ “. (HR. Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih)
“Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallaahu anhu, ‘Bahwasanya seorang laki-laki masuk masjid sedangkan Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam sudah shalat bersama para sahabatnya, maka beliau pun bersabda, ‘Siapa yang mau bersedekah untuk orang ini, dan menemaninya shalat.’ Lalu berdirilah salah seorang dari mereka kemudian dia shalat bersamanya’ “. (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, hadits shahih)
“Dari Ubay bin Ka’ab radhiallaahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda, Shalat seseorang bersama orang lain (berdua) lebih besar pahalanya dan lebih mensucikan daripada shalat sendirian, dan shalat seseorang ditemani oleh dua orang lain (bertiga) lebih besar pahalanya dan lebih menyucikan daripada shalat dengan ditemani satu orang (berdua), dan semakin banyak (jumlah jama’ah) semakin disukai oleh Allah Ta’ala’ “. (HR. Ahmad, Abu Daud dan An-Nasai, hadits hasan)

Lillahi Ta’ala

29 September 2008

Lillahi ta’ala, secara sederhana dapat diartikan dengan “hanya karena Allah yang suci”. Kalimat ini bukan hanya menjadi ungkapan lisan tapi seharusnya menjadi prinsip dalam hidup dan kehidupan setiap hamba kepada Allah. Kalimat Lillahi ta’ala kerap muncul dalam setiap ibadah dalam Islam termasuk juga shalat. Dan biasanya kalimat Lillahi ta’ala (karena Allah), selalu diucapkan pada saat awal-awal melakukan suatu pekerjaan (ibadah); dalam hal ini disebut niat.

Allah menjadikan kita pada hakekatnya berfungsi sebagai khalifah-Nya diatas dunia ini. Tugas kekhalifahan inilah yang apabila dijalankan dengan semestinya dengan dilandasi oleh petunjuk-petunjuk yang Dia sampaikan dalam bentuk wahyu tekstual maupun pemahaman kita terhadap ayat-ayat universal-Nya, maka akan menjadi ibadah buat kita.

Sistematika kehidupan kita ini dimulai dari setetes mani yang bercampur untuk kemudian seiring dengan sunnatullah atau hukum alamnya, terus mengalami perkembangan tahap demi tahap sehingga menjadi sosok manusia sempurna. Itupun baru pada tahapan bayi kecil tak berdaya. Kemudin kita tunduk pada kaidah sunnatullah yang berproses sampai menjadi dewasa dan tua. Demikian seterusnya. Ini hendaknya menjadi bagian dari pembelajaran atas kedewasaan pola pikir dan pola pemahaman kita terhadap segala sesuatunya. Jika awalnya kita bertindak hanya karena ikut-ikutan, maka mulailah kita belajar kenapa kita melakukan sesuatu atau kenapa kita harus mempercayai sesuatu itu sebagai sebuah kebenaran. Demikian pula misalnya dalam hal ibadah, jika sebelumnya kita beribadah hanya karena mengharap surga atau takut karena neraka, maka belajarlah untuk mulai menyikapi fenomena surga dan neraka sebagai motivator kita kepada tingkat ibadah yang lebih tinggi lagi yaitu tingkat ibadah yang hanya berharap ridho-Nya Allah. Dengan demikian, maka tingkat keikhlasan kita beribadahpun secara berangsur-angsur tumbuh dengan sendirinya. Karena yang ada dipikiran kita selama ini, ibadah itu untuk menyenangkan Allah dan bukan untuk menyenangkan diri kita.

Salah atau tidak akhirnya kembali kepada seberapa jauh good-will kita melakukannya. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan dengan surga dan nerakanya, tapi mulailah kita belajar untuk mencapai maqam lebih tinggi dari sekedar itu. Anggaplah ibadah karena mengharap pahala tertentu itu adalah ibadahnya anak kecil, dan karena kita sudah tidak lagi kecil, maka kitapun harus meng-update sasaran ibadah kita. Demikianlah yang seharusnya seperti yang tercantum dalam surah 6 ayat 162. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Robb semesta alam” – Qs. al-An’am 6:162

Khusyuk

29 September 2008

Khusyu Hampir semua umat beragama mencari atau berlomba-lomba mencari kekhusyuan dalam ibadahnya, bahkan bila mungkin juga khusyu dalam kehidupannya, namun apa dan dimana serta bagaimanakah khusyu itu sebenarnya, banyak orang berusaha konsentrasi dalam ibadahnya, ada juga yang berusaha menyatu dengan alam agar mendapatkan apa yang dinamakan khusyu tersebut, namun kenyataannya apa yang terjadi, mengapa sang khusyu tiada kunjung tiba, sehingga orang akhirnya ada yang merasa frustasi karena tidak pernah berhasil mencapainya, tentu saja akibat dari rasa frustasi ini akan sulit diperkirakan akibatnya.

Benarkah hingga sedemikian sulitnya untuk mendapatkan apa yang dinamakan khusyu tersebut?, Ataukah disebabkan oleh ketidaktahuan bahwa sebenarnya khusyu adalah hadiah, sehingga tidak akan didapatkan dengan cara memaksakan, melainkan harus ditunggu kedatangannya dengan sabar, syukur, berserah diri serta tertib. Jika khusyu adalah hadiah, mengapa ada sebagian orang yang konsentrasi dengan cara-cara shalat panjang ataupun dengan berdzikir panjang ternyata dapat juga mencapai khusyu, walaupun dengan pengorbanan yang besar baik itu dari segi waktu maupun tenaga, sekiranya untuk mendapatkan khusyu haruslah sedemikian besar pengorbanannya, tentu akan sulitlah bagi orang-orang biasa yang mempunyai kesibukan keseharian yang cukup banyak, sedangkan khusyu itu sendiri adalah hak bagi semua orang.

Bagi mereka yang berkeluangan waktu dan tenaga, mereka dapat melakukan pengkonsentrasian dengan melakukan shalat taupun dzikir panjang, sehingga dengan terkurasnya tenaga hingga habis. Maka tanpa terasa, mereka telah bersih diri, sabar serta berserah diri. Dalam hal ini khusyu bisa didapatkan walaupun mereka hanya mendapatkan khusyu ibadah dan bukan khusyu kehidupan.

Di sisi lain, ada orang yang berusaha meraih khusyuk dengan cara menyatu dengan alam. Mereka merasa mendapatkan ketenangan jiwa yang mereka anggap kekhusyuan walaupun sebenarnya adalah bukan. Semua itu dikarenakan menyatu dengan alam adalah menyatukan jiwa dengan bumi, ataupun sejauh-jauhnya menyatukan jiwa dengan alam semesta, yang kedua-duanya masih termasuk hitungan dunia. Sedangkan khusyu kaitannya adalah dengan akhirat.

Kesalahan-kesalahan tersebut memang umum terjadi. Tentu saja penyebabnya adalah kesulitan dalam membedakan yang mana mata bathin dengan yang mana mata terbuka hijab ghaib. Mata terbuka hijab ghaib adalah mata yang dapat melihat mahluk ghaib, tentu saja yang terlihat bukanlah yang Maha Ghaib, ataupun akhirat yang jauh diluar alam semesta. Sedangkan mata bathin tentu saja tidak melihat melalui kedua matanya itu, karena pada saat mata bathin terbuka, semua panca indera tetap berfungsi seperti biasanya dan tidaklah seperti orang yang kehilangan kesadarannya.

Sekarang pertanyaannya adalah, jadi dapatkah dan atau bagaimanakah kita sebagai orang-orang biasa saja dapat mencapai apa yang dinamakan khusyu beribadah, bahkan khusyu dalam kehidupan. Jawabannya tentu saja dapat. Masalah bagaimana mendapatkannya, kita harus menelaah lebih dahulu dasar-dasar pendukung pemberian hadiah khusyu itu sendiri.

Pada dasarnya islam adalah pola hidup yang harus di dukung oleh kesadaran yang setinggi-tingginya. Oleh karena itulah maka umat islam diwajibkan melaksanakan shalat lima waktu sebagai pembentukan pola beribadah, yang harus dilakukan dengan kesadaran sepenuhnya. Karena itu, sangat tidak disarankan kita shalat sambil menutup mata. Bahkan pergerakannya pun haruslah dilakukan dengan setertib-tertibnya agar lisan maupun pergerakan shalat itu senantiasa tetap terjaga niat. Arti serta tujuan shalat, tidak menjadi susut dimakan lalai karena sudah terbiasa atau begitu rutinnya. Segala sesuatu perbuatan manusia itu, yang pertama-tama di lihat adalah niatnya.

Seperti yang sudah umum kita lihat dalam keseharian, bagaimana salam yang begitu sering di ucapkan menjadi berubah fungsi dan artinya menjadi “say halo” saja, padahal saling memberi salam itu sebenarnya adalah saling mendo’a kan. Niat bersalam itu niat mendo’akan orang, tujuannya adalah agar orang yang dido’akan tersebut selamat dunia akherat, mendapat rahmat serta berkah dari Allah. Hukumnya bagi orang yang mendo’akan akan mendapat pahala yang sama, tanpa mengurangi sedikitpun pahala dari orang yang dido’akannya.

Adapun dalam kehidupan keseharian kita juga diajarkan untuk membaca Basmallah setiap kali hendak melakukan sesuatu, serta do’a-do’a harian yang dapat menjadi pagar kehidupan kita. Asalkan semuanya itu dilakukan dengan selalu menyadari sepenuhnya akan niat, maksud serta tujuan setiap segala sesuatu yang kita lakukan.

Oleh karena itu, dalam melaksanakan shalat usahakanlah senantiasa melaksanakannya penuh dengan kesadaran serta ketertiban, tertib dalam setiap gerakan serta lisan. Tidak kehilangan niat, maksud, tujuan serta melakukannya hanya karena Allah. Demikian pula dalam melaksanakan kehidupan keseharian kita, lakukanlah semua karena Allah serta jelas niat, maksud, tujuannya. Jadikanlah segala sesuatu dalam kehidupan kita menjadikan kita mengingat Allah. Mengejar pahala karena di suruh Allah melalui rosulnya, menghindari dosa karena dilarang Allah melalui rosulnya, berdo’a meminta kepada Allah yang Maha Kaya serta Maha Pengasih lagi Penyayang. Kata rosulNya, Basmallah menempatkan Allah menemani serta mengawasi kita. Begitulah yang disampaikan Rosul Allah tentang keseharian. Ingatlah, bahwa mengingat Allah dan rosulNya akan senantiasa memperkuat syahadat kita. Sedangkan pola hidup islami akan membuat kita otomatis berdzikir mengingat Allah pada saat berdiri, duduk dan tidur.

Dengan demikian, dapat dikatakan, bahwa dengan melakukan ibadah yang penuh dengan kesadaran dan ketertiban, ditambah hidup dengan pola islami, tawadhu, sabar serta pandai bersyukur dan senantiasa berprasangka baik pada Allah, istiqomah dalam menjalankan semua itu, InsyaAllah hadiah khusyu dalam beribadah maupun khusyu dalam keseharian yang didambakan akan kita didapatkan.

Ciri-ciri khusyu, bila kita mendapatkannya adalah terbukanya mata bathin kita, yang dapat dirasakan sebagai rasa haru yang sangat, apabila kita sedang mengingat Allah, akhirat, surga, Rasulullah, dosa-dosa yang telah lalu serta lain-lain hal yang berkaitan dengan ruhani kita. Rasa haru tersebut membuat kita merasa hati tergores rindu, menetes airmata, banjir airmata, bahkan bisa sampai menangis tersedu-sedu. Sebagai catatan tambahan, dalam keseharian kita di jalanan, baik dalam berkendaraan maupun berjalan kaki, seringkali tanpa disadari kita menghancurkan pola hidup islami kita dengan menghinakan diri menjadi preman bahkan menjadi perampok, yang merampas atau merampok hak orang lain dengan memotong, memepet, mengambil jalan orang lain, menghalangi, menyebrang dengan berlambat-lambat, saling memaki atau mengumpat serta lain-lain perangai tidak terpuji yang kita lakukan, perlu kita sadari bahwa semua orang ingin cepat sampai ke tujuan dengan tenang, tentram dan aman di jalan, menjalin dan menjaga silaturahmi sangatlah di sarankan bagi orang Islam.

Otak

29 September 2008

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. Al Baqarah [2]:164).

Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka “. (QS. Al ‘Aqla [96]:15-16).

Ungkapan “ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka” dalam ayat di atas sungguh menarik. Penelitian yang dilakukan di tahun-tahun belakangan mengungkapkan bahwa bagian prefrontal, yang bertugas mengatur fungsi-fungsi khusus otak, terletak pada bagian depan tulang tengkorak. Para ilmuwan hanya mampu menemukan fungsi bagian ini selama kurun waktu 60 tahun terakhir, sedangkan Al Qur’an telah menyebutkannya 1400 tahun lalu. Jika kita lihat bagian dalam tulang tengkorak, di bagian depan kepala, akan kita temukan daerah frontal cerebrum (otak besar).

Buku berjudul Essentials of Anatomy and Physiology, yang berisi temuan-temuan terakhir hasil penelitian tentang fungsi bagian ini, menyatakan: Dorongan dan hasrat untuk merencanakan dan memulai gerakan terjadi di bagian depan lobi frontal, dan bagian prefrontal. Ini adalah daerah korteks asosiasi. Berkaitan dengan keterlibatannya dalam membangkitkan dorongan, daerah prefrontal juga diyakini sebagai pusat fungsional bagi perilaku menyerang.

Jadi, daerah cerebrum ini juga bertugas merencanakan, memberi dorongan, dan memulai perilaku baik dan buruk, dan bertanggung jawab atas perkataan benar dan dusta. Jelas bahwa ungkapan “ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka” benar-benar merujuk pada penjelasan di atas. Fakta yang hanya dapat diketahui para ilmuwan selama 60 tahun terakhir ini, telah dinyatakan Allah dalam Al Qur’an sejak dulu.

Otak manusia dan Shalat

Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa menghadap Allah (meninggal dunia), sedangkan ia biasa melalaikan shalatnya, maka Allah tidak mempedulikan sedikit-pun perbuatan baiknya (yang telah ia kerjakan tsb)”. Hadist Riwayat Tabrani.

Sholat itu bikin otak kita sehat

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah” (QS. Al Kautsar [108]:2)

Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat, anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya.

Seorang Doktor di Amerika (Dr. Fidelma) telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran. Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu telah membuka sebuah klinik yang bernama “Pengobatan melalui Al Qur’an”. Kajian pengobatan melalui Al-Quran dengan menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat didalam Al-Quran. Di antara berpuasa, madu, biji hitam (jadam) dan sebagainya.

Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal. Setelah membuat kajian yang memakan waktu akhirnya dia menemukan, bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang waktu yang diwajibkan oleh Islam. Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam “sepenuhnya” karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.

Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal. Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan untuk melakukan hal hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan secara lebih normal.

Shalat sunat awwabin

Shalat sunat awwabin adalah shalat sunat yang dikejakan selesai mengerjakan shalat sunat ba’da magrib, dilakukan sebanayak 6 sampai dengan 20 rakaat.

Adapun tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut:

1.    Shalat 2 rakaat dengan niat:

Ushallii ral’ataini shalaatal-awwaabiina sunnatal lillaahi ta’aallaa.

Artinya: “Aku niat shalat dua rakaat sunat awwabin, karena Allah.

2.    Sesudah membaca Fatihah pada rakaat pertama, bacalah:

    surat Al-Ikhlas 6x
    surat Al-Falaq 1x
    surat An-Naas 1x

begitupun dengan rakaat kedua.

3.    Sehabis salam dua rakaat, maka shlat lagi 2 rakaat. Dan dibaca pada rakaat pertama dan kedua setelah Al-Fatihah mana saja surat yang dikehendaki. Niatnya, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

4.   Sesudah itu, berdiri lagi dengan niat sama seperti sebelumnya, dilaksanakan 2 rakaat, dengan bacaan pada rakaat pertama sesudah Al-Fatihah, bacalah surat Al-Kafirun dan pada rakaat kedua sesudah membaca Al-Fatihah bacalah surat Al-Ikhlas.

Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

“Barang siapa shalat 6 rakaat setelah magrib, di sela-selanya tidak berbicara kotor, maka ia mendapatkan pahala ibadah selama12 tahun.”

Kemudian beliau juga meriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa shalat 20 rakaat setelah maka Allah mambangun rumah di sorga untuknya”, Tirmidzi berkata, hadist Abu Harairah “gharib” (hanya diriwayatkan seorang rawi yang tidak kuat).”

Tabrani juga meriwayatkan dari Ammar bin Yasir, Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa melakukan shalat 6 rakaat setelah maghrib, maka diampuni dosanya meskipun sebanyak ombak lautan.”

sumber: AnneAhira
Comments (3)   
3 Comments »

    assalamu’alaikum,
    s

Introspeksi Diri (tafakkur)

Setiap kita tentu pernah berbuat salah, melakukan dosa. Tapi, tak banyak di antara kita yang mau sibuk mengkalkulasi kesalahan-kesalahannya itu. Padahal, introspeksi diri, yakni mencoba menghitung jumlah kealpaan yang pernah kita perbuat baik kepada Tuhan maupun kepada sesama, tidak kalah pentingnya dengan menjumlah kebaikan dan jasa yang kita lakukan. Introspeksi diri (tafakkur) itu, menurut ulama besar Mesir almarhum Abbas Mahmud al-Akkad, dalam agama hukumnya wajib. Rasulullah SAW sendiri berulangkali menekankan pentingnya bertafakkur sejenak yang, kata beliau, nilainya bisa melebihi ibadah setahun.

Lalu, bagaimanakah cara bertafakkur itu menurut agama? Para ulama menyatakan, dengan salat tahajud setelah lewat tengah malam. Sebelum salat tahajud, hendaknya didahului dengan salat taobat (tobat) dua rakaat. Setelah itu, barulah dimulai bertafakkur, bermuhasabah. Untuk bertafakkur atau bermuhasabah ini, Rasulullah juga terbiasa menggedor-gedor rumah Ali r.a. dan mengajaknya melakukan amalan sunat itu. Sedang tolok ukur untuk bermuhasabah itu, Nabi SAW menjelaskan: Barangsiapa kualitas hidupnya hari ini lebih baik dari kemarin, dialah orang yang beruntung. Barangsiapa kualitas hidupnya hari ini sama dengan kemarin, maka dia termasuk orang yang rugi. Dan barangsiapa kualitas hidupnya hari ini lebih buruk dari kemarin, maka terkutuklah dia.

Tidak bisa dibantah, bahwa dosa-dosa yang kita perbuat (kalau kita jujur mengkalkulasinya) pasti tidak sedikit. Dari yang (kelihatannya) remeh seperti berkata jorok, ngomongin orang lain, prasangka, bohong, pandangan buruk sampai yang lebih berat seperti ihwal kehalalan rezeki kita, manipulasi, saling menjatuhkan, dan lain-lain.

Menjadi orang yang tidak pernah bersalah tentu mustahil. Yang penting, kita tidak berputus asa dan segera bertobat setiap kali melakukan kesalahan. Rasulullah yang dikenal maksum (bersih diri) saja, menurut sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Said dari Abu Hurairah, saban hari lebih 100 kali meminta pengampunan dari Allah SWT. Beliau mengatakan: Orang yang bertobat dari dosa, ibarat orang yang tidak punya dosa sama sekali (HR Ibnu Majah).

Abu Nawas, penyair istana Khalifah Harun al-Rasyid dari Dinasti Abbasiyah pernah mengeluh bahwa dirinya tidaklah pantas masuk surga, tapi tidak kuat dimasukkan dalam neraka. Menjelang mayatnya dimandikan, di balik dadanya ditemukan bait-bait syair yang ia tulis sebelum wafat: Dosaku bak bilangan pasir, kesalahanku terus bertambah. Ilahi, bagaimana hamba memikulnya?

Antara Iman dan Malu

Sesungguhnya malu itu sebagian dari iman

(HR. Bukhari Muslim)

Agama Islam adalah agama yang mengatur seluruh sistem kehidupan, baik iu berkaitan dengan keyakinan, penyembahan, ibadah ritual, adab, serta akhlak kemanusiahaan. Malahan inti daripada keimanan dan sikap keagamaan. Firman ALLAH SWT dalam surah Al-Ahzab ayat 53;

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَدۡخُلُواْ بُيُوتَ ٱلنَّبِىِّ إِلَّآ أَن يُؤۡذَنَ لَكُمۡ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيۡرَ نَـٰظِرِينَ إِنَٮٰهُ وَلَـٰكِنۡ إِذَا دُعِيتُمۡ فَٱدۡخُلُواْ فَإِذَا طَعِمۡتُمۡ فَٱنتَشِرُواْ وَلَا مُسۡتَـٔۡنِسِينَ لِحَدِيثٍۚ إِنَّ ذَٲلِكُمۡ ڪَانَ يُؤۡذِى ٱلنَّبِىَّ فَيَسۡتَحۡىِۦ مِنڪُمۡۖ وَٱللَّهُ لَا يَسۡتَحۡىِۦ مِنَ ٱلۡحَقِّۚ وَإِذَا سَأَلۡتُمُوهُنَّ مَتَـٰعً۬ا فَسۡـَٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ۬ۚ ذَٲلِڪُمۡ أَطۡهَرُ لِقُلُوبِكُمۡ وَقُلُوبِهِنَّۚ وَمَا كَانَ لَڪُمۡ أَن تُؤۡذُواْ رَسُولَ ٱللَّهِ وَلَآ أَن تَنكِحُوٓاْ أَزۡوَٲجَهُ ۥ مِنۢ بَعۡدِهِۦۤ أَبَدًاۚ إِنَّ ذَٲلِكُمۡ ڪَانَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمًا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumahNabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu di undang maka masuklah dan bila kamu selesai makan,  keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan ALLAH tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir, cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak pula mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi ALLAH.“

Dalam ayat ini iman dihubungkan dengan adab memasuki rumah dengan meminta izin, dan juga menjaga perasaan Rasulullah. Rasulullah sebagai manusia sempurna memiliki perasaan malu yang sangat besar, sehingga beliau tidakdapat menegur tamu yang terus mengobrol, sehingga ALLAH memberikan teguran dengan turunnya ayat di atas.

Rasulullah sangat mementingkan agar umatnya memiliki rasa malu dalam kehidupan, Rasulullah SAW bersabda yang diriwayatkan Ibnu Umar r.a. “Sesungguhnya malu itu sebagian dari iman.” (hadist ini juga diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah).

Sikap malu kepada sesuatu yang tidak baik itu merupakan kunci kebaikan dalam masyarakat, sehingga menurut hadist dari Umar ibn Husain r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda; “Malu itu akan mendatangkan kebaikan.” (HR Bukhari dan Muslim), dan daalam hadist yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan bahwa “malu itu adalah kebaikan seluruhnya.“

Dari Qurah bin Ilyas r.s. berkata bahwa kami bersama Nabi, ada yang mengingatkan tentang malu, mereka berkata: Ya Rasulullah malu itu bagian dari agama, maka Rasulullah SAW bersabda; “Bahkan malu itu adalah agama seluruhnya“, kemudian Rasulullah SAW melanjutkan “Sesungguhnya malu, wara’, sedikit berbicara, adalah bagian dari iman dan itu semua akan menambahkan kehidupan akhirat dan mengurangkan kehidupan dunia dan yang ditambahkan kepada akhirat itu lebih banyak dari pada yang dikurangkan di dunia. Dan pelit, lemah, dan kasar bagian dari sifat munafik dan itu menambah dunia dan mangurangkan akhirat dan apa yang dikurangkan di dunia lebih daripada apa apa yang ditambahnkan di akhirat.”(HR: Thabrani).

Sikap malu dari perbuatan buruk dan keji juga merupakan inti dari ajaran agama Islam, dan akhlak utama dalam Islam adalah malu, sebagai mana dinyatakan oleh hadist dari Zaid bin Talhah bin Rukanah; Rasulullah bersabda; “Sesungguhnya setiap agama aitu mempunyai akhlak, dan akhlak Islam adalah MALU” (HR: Malik dan Ibnu Majah).

Oleh sebab itu jika rasa malu sudah tidak dimiliki oleh seorang muslim. berarti ALLAH telah mencabut keimanan dalam hatinya, sabda Rasulullah SAW; “Sesungguhnya Allah Ta’ala apabila hendak menghancurkan seorang hamba maka Dia mencabut rasa malu, dan apa bila rasa malu telah dicabut, maka dia akan dibenci orang, dan apa bila dia dibenci maka akan dicabit darinya sifat amanah, dan apa bila amanah telah dicabut, maka engkau akan berkhianat, dan dicabut darinya rasa kasih sayang, dan apabila kasih sayang telah dicabut, maka engkau akan melihatnya menjadi orang yang terkutuk, dan apa bila engkau melihatnya terkutuk, maka lepaslah tali Islam dari pegangannya.“(HR: Ibnu Majah).

Semoga kita dapat melihat sejauh mana rasa malu masih ada dalam diri kita, dan dalam masyarakat kita. Karena selama ini, banyak pemimpin  yang tidak malu membohongi rakyatnya, banyak yang tidak malu bermaksiat, banyak yang tidak malu jika auratnya terlihat oleh orang yang bukan muhrimnya, banyak pegawai yang tidak malu berbuat korupsi, dan lain sebagainya. Sehingga, dapat dikatakan bahwa, karena degradasi malu itulah penyebab segala krisis yang terjadi selama ini.

Dan Insya ALLAH kita masih dalam golongan orang-orang yang menjaga malu dalam hidup dan kehidupan. Amiin Ya Rabbal ‘alamiin.

Yang Membutakan Kebenaran

Suatu ketika seorang lelaki datang kepada Rasulullah dan memohon sesuatu, “Ya Rasulullah, suruhlah aku dengan amal pekerjaan, tetapi sedikitkanlah,” pintanya. Rasul pun menjawab, ‘Jangan marah!’. Lelaki itu kemudian mengulangi lagi permohonannya. Tetapi, Rasulullah menjawabnya dengan jawaban yang sama, ‘Jangan marah’ (HR. Bukhari).

Di lain pihak Allah SWT pun menurunkan perintah berperang di jalan-Nya, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci.” Allah melanjutkan firman-Nya dengan satu peringatan yang menisbikan penilaian manusia atas sesuatu, Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal dia amat buruk bagimu.

Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 216).Di sisi lain, Allah pun berfirman, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (bagimu).” (QS. At-Taaghabun: 15)Sahabat, tenyata ada tiga hal yang diperingatkan Allah dan Rasul-Nya agar kita tidak tergelincir ke dalam jurang kehinaan. Ketiga hal tersebut adalah marah, benci, dan cinta.

Islam tidak melarang kita marah, benci, dan mencintai sesuatu, karena itu manusiawi. Bahkan ketiganya harus dipelihara dan diarahkan agar membawa kebaikan. Yang dilarang itu adalah kemarahan, kebencian, dan rasa cinta yang akan membuat kita buta pada kebenaran dan keadilan. Kita tidak normal, bila tidak pernah marah dan benci.

Misal, bila istri kita digoda orang lain dan kita diam saja tidak melakukan reaksi apa pun. Ini jelas tidak normal. Demikian juga, bila tiba-tiba uang atau pakaian kita diambil orang di depan mata, lalu kita malah tersenyum. Ini jelas tidak normal juga. Sangat wajar bila dalam hati muncul perasaan marah dan benci, dan diekspresikan dengan menegur orang tersebut. Istri dan harta merupakan titipan Allah yang harus kita jaga.

Jadi, kita harus memiliki kemarahan dan kebencian. Tapi marah dan benci yang bagaimana? Tentu marah dan benci yang proporsional. Tepat waktu dan tepat sasarannya. Kita harus marah dan benci terhadap kekufuran, bukan kepada orangnya, karena dia pun hamba Allah juga.

Kita harus marah dan benci terhadap kejahatan, bukan kepada orang yang melakukan kejahatannya. Justru kita harus merasa iba dan berbelaskasihan kepada orang yang melakukan kemaksiatan tersebut. Mungkin ia melakukannya karena belum tahu, terpaksa, atau karena sebab lainnya. Kita harus terus berempati dan tidak berburuk sangka terlebih dahulu.

Dan, kita harus memiliki keinginan untuk menyadarkan mereka terhadap nikmatnya berperilaku sesuai dengan nilai-nilai kebenaran yang diajarkan agama.Kita bersyukur kepada Allah, karena kita tidak ditakdirkan tergelincir ke dalam jurang kemaksiatan seperti yang mereka lakukan.

Padahal, sangat mudah bagi Allah untuk menenggelamkan kita dalam kenistaan. Hasilnya, kita dituntut untuk dapat menempatkan kemarahan dan kebencian pada tempatnya sambil sekuat-kuatnya mengendalikan diri agar tidak berlebihan. Karena, segala sesuatu yang berlebihan biasanya sudah tercampuri oleh hawa nafsu.

Hal lain yang juga dapat membahayakan kita adalah perasaan cinta dan kasih sayang yang berlebihan. Semakin melewati takaran, seperti halnya perasaan marah dan benci, perasaan cinta pun dapat membutakan kebenaran. Cinta yang berlebihan dari seorang istri terhadap suaminya, akan melahirkan perasaan cemburu yang berlebihan pula.

Hatinya akan menjadi kotor dan terus bertambah kekotorannya lantaran berkecamuk perasaan curiga dan buruk sangka terhadap apapun yang dilakukan suami. Setiap saat timbul perasaan waswas, cemas, dan gelisah tanpa sebab, serta sangat berkeinginan untuk membatasi ruang gerak suaminya. Dengan demikian, butalah ia dari kebenaran.

Situasi seperti ini akan terjadi pula pada seorang suami yang terlalu mencintai istrinya.Terlalu cinta kepada anak, juga sangat tidak baik. Pernah ada seorang ikhwan yang begitu bangga dan sayang terhadap anak pertamanya yang masih bayi, sehingga hampir di setiap ada kesempatan selalu menggendong dan menimang-nimang sang bayi.

Bahkan setiap usai shalat pun ia sering lupa berzikir seperti biasanya dan segera melompat pulang ke rumah. Ketika gurunya yang mursyid mengetahui kelalaian tersebut, ia pun segera diingatkan, “Awas, berhati-hatilah! Jangan sampai cinta kepada makhluk menjauhkan dirimu dari cinta kepada Allah”.

Kecintaan yang berlebihan pada harta juga dapat membuat kita tergelincir dari nilai-nilai kebenaran. Bukankah sifat riya, ujub, sum’ah (ingin populer), dan takabur bisa muncul dalam hati karena melimpahnya harta yang kita miliki? Demikian juga sifat kikir, enggan menolong orang yang lemah, dan malas mengeluarkan infak dan zakat timbul karena takut jatuh miskin.

Bila ini terjadi, kita tidak akan pernah sadar bahwa sebenarnya harta yang kita genggam itu hanyalah titipan Allah SWT. Sekali lagi ketamakan terhadap harta akan membutakan kebenaran dan berujung pada kerusakan.
Oleh karena itu, Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang jauh-jauh hari telah memperingatkan hamba-hamba-Nya, “Hai orang-orang yang beriman janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu mengingat Allah.

Barangsiapa yang berbuat demikian itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Munaafiquun [63]: 9).Sahabat, adapun kebenaran itu, tidaklah perlu diragukan lagi, pasti datangnya dari Allah, Zat Pemilik alam semesta ini. Al haqqu min rabbika falaa takuunanna minal mumtariin. Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu, demikian firman Allah dalam Surat Al-Baqarah [2]: 147.

Karenanya, agar kita bisa memahami hakikat kebenaran dari Allah, maka kita harus bersikap proporsional dan tidak berlebihan mencintai makhluk. Demikian pula dalam mengungkapkan perasaan marah dan benci, janganlah kita berlebihan. Islam mengajarkan kita untuk tidak bersikap berlebihan dalam beramal dan berperilaku.

Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

Bila aku jatuh cinta

Allahu Rabbi aku minta izin

Bila suatu saat aku jatuh cinta

Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang

Hingga membuat lalai akan adanya engkau

Allahu Rabbi….

Aku punya pinta….

Bila suatu saat aku jatuh cinta

Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas

Biar rasaku pada-Mu tetap utuh

Allahu Rabbi….

Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta

Pilihkanlah untukku seseorang yang hatinya penuh dengan kasih-Mu

Dan membuatku semakin mengagumi-Mu

Allahu Rabbi….

Bila suatu saat aku jatuh hati

Pertemukanlah kami

Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu

Allahu Rabbi….

Pintaku yang terakhir adalah seandainya kujatuh hati

Jangan pernah kau palingkan wajah-Mu dariku

Anugerahilah aku dengan cinta-Mu

Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu

Rahasia Allah Dibalik Sakit

Rahasia ALLAH dibalik sakit
Filed under: Dakwah — talazoft @ 3:08 pm

Tak perlu Anda bersedih dalam sakit karena itu adalah ujian dalam ibadah Anda. Salah satu bukti kasih sayang-NYA adalah, Tuhan mengutus 4 malaikat untuk selalu menjaga kita dalam sakit. Berikut adalah penjelasannya;

“Apabila seorang hamba yang beriman menderita sakit, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis perbuatan yang terbaik yang dikerjakan hamba mukmin itu pada saat sehat dan pada saat waktu senangnya.”

Ujaran Rasulullah SAW tsb diriwayatkan oleh Abu Imamah al Bahili. Dalam hadist yang lain Rasulullah bersabda :

“Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 malaikat untuk datang padanya.”
Allah memerintahkan :
1. Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.
2. MAlaikat kedua untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya
3. Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat pasi.
4. Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.

Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah memerintahkan kepada malaikat 1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lezat, dan cahaya di wajah sang hamba.

Namun untuk malaikat ke 4 , Allah tidak memerintahkan untuk mengembalikan dosa2nya kepada hamba mukmin. Maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah seraya berkata : “Ya Allah mengapa dosa2 ini tidak Engkau kembalikan?”

Allah menjawab : “Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa2nya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa2 tersebut ke dalam laut.”
Dengan ini , maka kelak si sakit itu berangkat ke alam akhirat dan keluar dari dunia dalam keadaan suci dari dosa sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Sakit panas dalam sehari semalam, dapat menghilangkan dosa selama setahun.”

“Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengan dosa-dosanya”(HR Bukhari dan Muslim).

18 Tingkatan Manusia di Akhirat

Sebuah Ijtihad Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, tentang tingkatan dan kedudukan manusia di akhirat, sebagai sarana muhasabah bagi setiap manusia yang merindukan surga..

- Peringkat pertama : Ulul Azmi, mereka adalah Nabi Nuh as, Nabi Ibrahim as, Nabi Musa as, Nabi Isa as dan Nabi Muhammad saw, mereka adalah penghuni paling atas (peringkat tertinggi) dan syafa’at berputar pada mereka hingga mereka menyerahkannya pada penutup para Nabi dan Rasul Nabi Muhammad saw.

- Peringkat kedua : Nabi dan Rasul yaitu nabi dan rasul selain Ulul Azmi ; Nabi Adam as, Nabi Idris as, Nabi Hud as, Nabi Luth as, Nabi Shalih as, Nabi Ismail as, Nabi Ishaq as,  Nabi Yaqup as, Nabi Yusuf as, Nabi Syu’aib as, Nabi Harun as, Nabi Yunus as, Nabi Ayub as, Nabi Dzulkifli as, Nabi Ilyas as, Nabi Ilyasa as, Nabi Daud as, Nabi Sulaiman as, Nabi Zakaria as dan Nabi Yahya as. Peringkat mereka berdasarkan keutamaan mereka.

- Peringkat ketiga : Para nabi yang tidak tercantum dalam Al-Qur’an, mereka memiliki nubuwwah (kenabian) tapi tidak memiliki risalah karena tidak diutus kepada satu ummat, Allah swt mengutamakan mereka dengan mengutus malaikat kepada mereka, jumlah mereka dalam riwayat Abu Dzar ada 100ribuan lebih.

- Peringkat keempat : Pewaris para rasul dan pengganti mereka dimasing-masing ummatnya.  Mereka adalah pengganti rasul, wali rasul,  orang-orang pilihan rasul, penjaga rasul dan kelompok yang dijamin selalu berada dalam kebenaran (sahabat) QS An Nisa : 69

- Peringkat kelima : Para pemimpin yang adil. Mereka adalah 1 dari 7 golongan yang akan mendapat perlindungan. Sabda Rasul : Sesungguhnya orang yang adil berada pada mimbar-mimbar dari cahaya pada hari kiamat disebelah kanan Ar-Rahman, dan kedua tangannya adalah kanan, yaitu mereka yang adil dalam pemerintahannya, keluarganya dan jabatan yang diamanahkan kepada mereka –HR Muslim-

- Peringkat keenam : Mujahidin, mereka adalah orang-orang yang berjuang dijalan Allah swt QS At Taubah : 120

- Peringkat ketujuh : Ahlul Itsar, mereka adalah orang-orang yang senantiasa mendahulukan kepentingan orang lain, bershadaqah dan berlaku baik kepada manusia sesuai dengan kemashlahatan orang yang dibantunya QS 2 : 261,  2 : 274, 57 : 11

- Peringkat kedelapan : Orang-orang yang Allah swt bukakan pintu-pintu kebaikan yang banyak. Mereka adalah orang yang disamping mengerjakan shalat, puasa, haji, tilawah, I’tikaf, dzikir dll. Mereka juga sangat serius dalam meningkatan buku catatan amal perbuatan mereka, seperti amal jariyah yang akan terus mengalir kepadanya walaupun ia telah kembali ke sisi Allah azza wa jalla

- Peringkat kesembilan : Ahlul Najat, mereka adalah orang-orang yang hanya sebatas mengerjakan perintah yang wajib dari Allah swt. Dan meninggalkan larangan-larangan Allah swt. QS An Nisa : 31

- Peringkat kesepuluh : Orang yang mendapatkan karunia taubat dari Allah swt sebelum kematiannya, mereka adalah orang-orang yang telah menzalimi diri dengan dosa-dosa besar namun mereka menutup kehidupannya dengan taubatan nashuha. QS Maryam : 60

- Peringkat kesebelas : Orang sekali waktu berbuat kebaikan, tapi diwaktu yang lain berbuat kejahatan. Mereka adalah orang-orang yang belum sempat bertaubat dari dosa dan kemaksiatan yang diperbuatnya, akan tetapi setelah ditimbang dosanya lebih ringan dari dari amal kebaikannya sehingga Allah swt memasukkannya ke surga QS Al A’raaf : 8-9

- Peringkat keduabelas : Orang amal kebaikannya berimbang dengan keburukannya, mereka adalah orang yang terakhir masuk surga dari kelompok yang tidak api neraka, selama penantian mereka berada di Al A’raaf (antara surga dan neraka) QS Al A’raaf : 46-47

- Peringkat ketigabelas : Kelompok yang penuh dengan kemaksiatan dan sangat ringan timbangan amal kebaikannya. Mereka adalah orang yang akan masuk surga namun harus merasakan adzab neraka disebabkan kemaksiatan mereka yang sangat banyak, kemudian mereka mendapatkan syafa’at dari Nabi Muhammad saw dan masuk kedalam surga

- Peringkat keempatbelas : Kelompok manusia yang tidak memiliki keimanan, tidak juga ketaatan, tidak kemaksiatan dan tidak pula amal shalih. Mereka adalah orang gila, yang tidak sampai dakwah kepada mereka, orang tuli dan anak-anak orang musyrik yang meninggal waktu kecil

- Peringkat kelimabelas sampai dengan kedelapanbelas :
Orang munafik zindik, pemimpin kafir, para pengikut kekafiran, golongan jin yang kafir. Mereka adalah makhluk yang kekal didalam neraka Allah swt, karena keingkaran mereka dan penolakan mereka terhadap agama Allah swt. QS Al A’raaf : 38, Al Baqarah : 166-167, Al Hadid  : 13-14

4 Amalan Kecil yang Berpahala Besar


1. Ucapan Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syarikalah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir 100 X(Tiada tuhan selain Allah yang pantas disembah, tiada sekutu baginya, baginya-lah seluruh kerajaan, dan baginya-lah seluruh pujian. Dan dialah yang mahakuasa di atas segala sesuatunya)Maka kalimat itu baginya seratus kebaikan dihapuskan baginya seratus kejelekan dan seperti membebaskan sepuluh orang budak
2. Dzikir setelah shalat, MENGUCAPKAN subhanallah (maha suci Allah ) 33X, Alhamdulillah(Segala puji bagi Allah) 33X, serta Allahuakbar (Allah maha besar) 33X, lalu ditutup dengan ucapan Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syarikalah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir (Tiada tuhan selain Allah yang pantas disembah, tiada sekutu baginya, baginya-lah seluruh kerajaan, dan baginya-lah seluruh pujian. Dan dialah yang mahakuasa di atas segala sesuatunya)1X. maka dengan itu genap 100 kalimatMaka akan diampuni dosanya walaupun dosanya itu sebanyak bilangan buih di lautan.
3. Membangun masjid atau ikut serta dalam pembangunannya. (misalnya juragan amal buat pembangunan masjid)Maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga.
4. Menyingkirkan duri di jalan. Rasulullah SAW. bersabda : “sungguh, aku melihat sesorang yang bebas berlarian di surga karena pada hidupnya di dunia ia hanya memotong dan menyingkirkan pohon di jalan karena menggangu orang-orang melintas”

Dialog Rasulullah SAW Dengan Iblis

Diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal r.a. dari Ibn Abbas r.a., ia berkata : ” Kami bersama Rasululah SAW berada di rumah seorang sahabat dari golongan Anshar dalam sebuah jamaah. Tiba-tiba, ada yang memanggil dari luar : “ Wahai para penghuni rumah, apakah kalian mengizinkanku masuk, karena kalian membutuhkanku ”. Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat :” Apakah kalian tahu siapa yang menyeru itu ?”. Para sahabat menjawab , ” Tentu Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui ”. Rasulullah berkata : “ Dia adalah Iblis yang terkutuk – semoga Allah senantiasa melaknatnya”. Umar bin Khattab r.a. berkata :” Ya, Rasulullah, apakah engkau mengijinkanku untuk membunuhnya?”. Nabi SAW berkata pelan :” Bersabarlah wahai Umar, apakah engkau tidak tahu bahwa dia termasuk mereka yang tertunda kematiannya sampai waktu yang ditentukan ?. Sekarang silakan bukakan pintu untuknya, karena ia sedang diperintahkan Allah SWT. Fahamilah apa yang dia ucapkan dan dengarkan apa yang akan dia sampaikan kepada kalian ! ”.
Ibnu Abbas berkata : “ Maka dibukalah pintu, kemudian Iblis masuk ke tengah-tengah kami. Ternyata dia adalah seorang yang sudah tua bangka dan buta sebelah mata. Dagunya berjanggut sebanyak tujuh helai rambut yang panjangnya seperti rambut kuda, kedua kelopak matanya memanjang , kepalanya seperti kepala gajah yang sangat besar, gigi taringnya memanjang keluar seperti taring babi, kedua bibirnya seperti bibir macan / kerbau . Dia berkata, “ Assalamu ‘alaika ya Muhammad, assalamu ‘alaikum ya jamaa’atal-muslimin ”. Nabi SAW menjawab :” Assamu lillah ya la’iin AKU telah mengetahui, engkau punya keperluan kepada kami. Apa keperluanmu wahai Iblis”.
Iblis berkata :” Wahai Muhammad, aku datang bukan karena keinginanku sendiri, tetapi aku datang karena terpaksa .”
Nabi SAW berkata :” Apa yang membuatmu terpaksa harus datang kesini, wahai terlaknat?”.
Iblis berkata,” Aku didatangi oleh seorang malaikat utusan Tuhan Yang Maha Agung, ia berkata kepada-ku ‘Sesungguhnya Allah SWT menyuruhmu untuk datang kepada Muhammad SAW dalam keadaan hina dan bersahaja. Engkau harus memberitahu kepadanya bagaimana tipu muslihat, godaanmu dan rekayasamu terhadap Bani Adam, bagaimana engkau membujuk dan merayu mereka. Engkau harus menjawab dengan jujur apa saja yang ditanyakan kepa-damu’. Allah SWT bersabda,” Demi kemulia-an dan keagungan-Ku, jika engkau berbohong sekali saja dan tidak berkata benar, niscaya Aku jadikan kamu debu yang dihempas oleh angin dan Aku puaskan musuhmu karena bencana yang menimpamu”. Wahai Muhammad, sekarang aku datang kepadamu sebagaimana aku diperintah. Tanyakanlah kepadaku apa yang kau inginkan. Jika aku tidak memuaskanmu tentang apa yang kamu tanyakan kepadaku, niscaya musuhku akan puas atas musibah yang terjadi padaku. Tiada beban yang lebih berat bagiku daripada leganya musuh-musuhku yang menimpa diriku”.
Rasulullah kemudian mulai bertanya :” Jika kamu jujur, beritahukanlah kepada-ku, siapakah orang yang paling kamu benci ?”.
Iblis menjawab :” Engkau, wahai Muhammad, engkau adalah makhluq Allah yang paling aku benci, dan kemudian orang-orang yang mengikuti agamamu”.
Rasulullah SAW :” Siapa lagi yang kamu benci?”.
Iblis :” Anak muda yang taqwa, yang menyerahkan jiwanya kepada Allah SWT”.
Rasulullah :” Lalu siapa lagi ?”.
Iblis :” Orang Alim dan Wara yang saya tahu, lagi penyabar”.
Rasulullah :” Lalu, siapa lagi ?”.
Iblis :” Orang yang terus menerus menjaga diri dalam keadaan suci dari kotoran”.
Rasulullah :” Lalu, siapa lagi ?”.
Iblis :” Orang miskin yang sabar, yang tidak menceritakan kefakirannya kepada orang lain dan tidak mengadukan keluh-kesahnya “.
Rasulullah :” Bagaimana kamu tahu bahwa ia itu penyabar ?”.
Iblis :” Wahai Muhammad, jika ia mengadukan keluh kesahnya kepada makhluq sesamanya selama tiga hari, Tuhan tidak memasukkan dirinya ke dalam golongan orang-orang yang sabar “.
Rasulullah :” Lalu, siapa lagi ?”.
Iblis :” Orang kaya yang bersyukur “.
Rasulullah bertanya :” Bagaimana kamu tahu bahwa ia bersyukur ?”.
Iblis :” Jika aku melihatnya meng-ambil dari dan meletakkannya pada tempat yang halal”.
Rassulullah :”Bagaimana keadaanmu jika umatku mengerjakan shalat ?”.
Iblis :”Aku merasa panas dan gemetar”.
Rasulullah :”Kenapa, wahai terlaknat?”.
Iblis :” Sesungguhnya, jika seorang hamba bersujud kepada Allah sekali sujud saja, maka Allah mengangkat derajatnya satu tingkat”. Rassulullah :”Jika mereka shaum ?”.
Iblis : ” Saya terbelenggu sampai mereka berbuka puasa”.
Rasulullah :” Jika mereka menunaikan haji ?”.
Iblis :” Saya menjadi gila”.
Rasulullah :”Jika mereka membaca Al Qur’an ?’.
Iblis :’ Aku meleleh seperti timah meleleh di atas api”.
Rasulullah :” Jika mereka berzakat ?”.
Iblis :” Seakan-akan orang yang berzakat itu mengambil gergaji / kapak dan memotongku menjadi dua”.
Rasulullah :” Mengapa begitu, wahai Abu Murrah ?”.
Iblis :” Sesungguhnya ada empat manfaat dalam zakat itu. Pertama, Tuhan menurunkan berkah atas hartanya. Kedua, menjadikan orang yang bezakat disenangi makhluq-Nya yang lain. Ketiga, menjadikan zakatnya sebagai penghalang antara dirinya dengan api neraka. Ke-empat, dengan zakat, Tuhan mencegah bencana dan malapetaka agar tidak menimpanya”.
Rasulullah :”Apa pendapatmu tentang Abu Bakar?”.
Iblis :” Wahai Muhammad, pada zaman jahiliyah, dia tidak taat kepadaku, bagaimana mungkin dia akan mentaatiku pada masa Islam”.
Rasulullah :” Apa pendapatmu tentang Umar ?”.
Iblis :” Demi Tuhan, tiada aku ketemu dengannya kecuali aku lari darinya”.
Rasulullah :”Apa pendapatmu tentang Utsman ?”.
Iblis :” Aku malu dengan orang yang para malaikat saja malu kepadanya”.

Jangan takut jadi orang aneh


“Dunia memang aneh”, Gumam Pak Ustadz

“Apanya yang aneh Pak?” Tanya Penulis yang fakir ini..

“Tidakkah antum (kamu/anda) perhatikan di sekeliling antum, bahwa dunia
menjadi terbolak-balik, tuntunan jadi tontonan, tontonan jadi tuntunan,
sesuatu yang wajar dan seharusnya dipergunjingkan, sementara perilaku
menyimpang dan kurang ajar malah menjadi pemandangan biasa”

“Coba antum rasakan sendiri, nanti Maghrib, antum ke masjid, kenakan
pakaian yang paling bagus yang antum miliki, pakai minyak wangi, pakai
sorban, lalu antum berjalan kemari, nanti antum ceritakan apa yang antum
alami” Kata Pak Ustadz.

Tanpa
banyak tanya, penulis melakukan apa yang diperintahkan Pak Ustadz,
menjelang maghrib, penulis bersiap dengan mengenakan pakaian dan wewangian
dan berjalan menunju masjid yang berjarak sekitar 200 M dari rumah.

Belum setengah perjalanan, penulis berpapasan dengan seorang ibu muda yang
sedang jalan-jalan sore sambil menyuapi anaknya”

“Aduh, tumben nih rapi banget, kayak pak ustadz. Mau ke mana, sih?” Tanya
ibu muda itu.

Sekilas pertanyaan tadi biasa saja, karena memang kami saling kenal, tapi
ketika dikaitkan dengan ucapan Pak Ustadz di atas, menjadi sesuatu yang
lain rasanya…

“Kenapa orang yang hendak pergi ke masjid dengan pakaian rapi dan memang
semestinya seperti itu dibilang “tumben”?

Kenapa justru orang yang jalan-jalan dan memberi makan anaknya di tengah
jalan, di tengah kumandang adzan maghrib menjadi biasa-biasa saja?

Kenapa orang ke masjid dianggap aneh?

Orang yang pergi
ke masjid akan terasa “aneh” ketika orang-orang lain
justru tengah asik nonton reality show “TAKE ME OUT”.

Orang ke masjid akan terasa “aneh” ketika melalui kerumunan orang-orang
yang sedang ngobrol di pinggir jalan dengan suara lantang seolah meningkahi
suara panggilan adzan.

Orang ke masjid terasa “aneh” ketika orang lebih sibuk mencuci motor dan
mobilnya yang kotor karena kehujanan.

Ketika hal itu penulis ceritakan ke Pak Ustadz, beliau hanya tersenyum,
“Kamu akan banyak menjumpai “keanehan-keanehan” lain di sekitarmu,” kata
Pak Ustadz.

“Keanehan-keanehan” di sekitar kita?

Cobalah ketika kita datang ke kantor, kita lakukan shalat sunah dhuha,
pasti akan nampak “aneh” di tengah orang-orang yang sibuk sarapan, baca
koran dan mengobrol.

Cobalah kita shalat dhuhur atau Ashar tepat waktu, akan terasa “aneh”,
karena masjid masih kosong melompong, akan terasa aneh di
tengah-tengah
sebuah lingkungan dan teman yang biasa shalat di akhir waktu.

Cobalah berdzikir atau tadabur al Qur’an ba’da shalat, akan terasa aneh di
tengah-tengah orang yang tidur mendengkur setelah atau sebelum shalat. Dan
makin terasa aneh ketika lampu mushola/masjid harus dimatikan agar tidurnya
nyaman dan tidak silau. Orang yang mau shalat malah serasa menumpang di
tempat orang tidur, bukan malah sebaliknya, yang tidur itu justru menumpang
di tempat shalat. Aneh, bukan?

Cobalah hari ini shalat Jum’at lebih awal, akan terasa aneh, karena masjid
masih kosong, dan baru akan terisi penuh manakala khutbah ke dua menjelang
selesai.

Cobalah anda kirim artikel atau tulisan yang berisi nasehat, akan terasa
aneh di tengah-tengah kiriman e-mail yang berisi humor, plesetan, asal
nimbrung, atau sekedar gue, elu, gue, elu, dan test..test, test
saja.

Cobalah baca artikel atau tulisan yang berisi nasehat atau hadits, atau
ayat al Qur’an, pasti akan terasa aneh di tengah orang-orang yang membaca
artikel-artikel lelucon, lawakan yang tak lucu, berita hot atau lainnya.

Dan masih banyak keanehan-keanehan lainnya, tapi sekali lagi jangan takut
menjadi orang “aneh” selama keanehan kita sesuai dengan tuntunan syari’at
dan tata nilai serta norma yang benar.

Jangan takut dibilang “tumben” ketika kita pergi ke masjid, dengan pakaian
rapi, karena itulah yang benar yang sesuai dengan al Qur’an (Al A’raf:31)

Jangan takut dikatakan “sok alim” ketika kita lakukan shalat dhuha di
kantor, wong itu yang lebih baik kok, dari sekedar ngobrol ngalor-ngidul
tak karuan.

Jangan takut dikatakan “Sok Rajin” ketika kita shalat tepat pada
waktunya,
karena memang shalat adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya
terhadap orang-orang beriman.

“Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu
berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.. Kemudian apabila kamu Telah
merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya
shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang
beriman.” (Annisaa:103)

Jangan takut untuk shalat Jum’at/shalat berjama’ah berada di shaf terdepan,
karena perintahnya pun bersegeralah. Karena di shaf terdepan itu ada
kemuliaan sehingga di jaman Nabi Salallahu’alaihi wassalam para sahabat
bisa bertengkar cuma gara-gara memperebutkan berada di shaf depan.

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at,
maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli
[1475]. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (Al
Jumu’ah:9)

Jangan takut kirim artikel berupa nasehat, hadits atau ayat-ayat al Qur’an,
karena itu adalah sebagian dari tanggung jawab kita untuk saling
menasehati, saling menyeru dalam kebenaran, dan seruan kepada kebenaran
adalah sebaik-baik perkataan;

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada
Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya Aku termasuk
orang-orang yang menyerah diri?” (Fusshilat:33)

Jangan takut artikel kita tidak dibaca, karena memang demikianlah Allah
menciptakan ladang amal bagi kita. Kalau sekali kita menyerukan, sekali
kita kirim artikel,
lantas semua orang mengikuti apa yang kita serukan,
lenyap donk ladang amal kita….

Kalau yang kirim e-mail humor saja, gue/elu saja, test-test saja bisa kirim
e-mail setiap hari, kenapa kita mesti risih dan harus berpikir ratusan atau
bahkan ribuan kali untuk saling memberi nasehat. Aneh nggak, sih?

Jangan takut dikatain sok pinter, sok menggurui, atau sok tahu. Lha wong
itu yang disuruh kok, “sampaikan dariku walau satu ayat” (potongan dari
hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3461 dari hadits Abdullah Ibn
Umar).

Jangan takut baca e-mail dari siapapun, selama e-mail itu berisi kebenaran
dan bertujuan untuk kebaikan. Kita tidak harus baca e-mail dari orang-orang
terkenal, e-mail dari manager atau dari siapapun kalau isinya sekedar dan
ala kadarnya saja, atau dari e-mail yang isinya asal kirim saja. Mutiara
akan tetap jadi mutiara terlepas dari siapapun pengirimnya. Pun sampah
tidak akan
pernah menjadi emas, meskipun berasal dari tempat yang mewah
sekalipun.

Lakukan “keanehan-keanehan” yang dituntun manhaj dan syari’at yang benar.

Kenakan jilbab dengan teguh dan sempurna, meskipun itu akan serasa aneh
ditengah orang-orang yang berbikini dan ber ‘you can see’.

Jangan takut mengatakan perkataan yang benar (Al Qur’an & Hadist), meskipun
akan terasa aneh ditengah hingar bingarnya bacaan vulgar dan tak bermoral.

Lagian kenapa kita harus takut disebut “orang aneh” atau “manusia langka”
jika memang keanehan-keanehan menurut pandangan mereka justru yang akan
menyelamatkan kita?

Selamat jadi orang aneh yang bersyari’at dan bermanhaj yang benar…

NB: Silahkan menyebarkan email ini. Tidak ada embel-embel apapun melainkan
“DAKWAH” mengharap Ridho Allah.

Tuesday, April 10, 2012

Manfaat Ngulet Saat Bangun Tidur

Ini Dia Manfaat Ngulet Saat Bangun TidurSetiap pagi setelah bangun tidur, hampir semua orang merasa terdorong untuk melakukan peregangan alias ngulet. Tahukah Anda manfaat ngulet setelah bangun tidur?

Selain membuat orang merasa lebih baik, peregangan atau ngulet saat bangun tidur benar-benar membuat orang menjadi 'bangun'. Tak hanya itu, masih ada beberapa manfaat lain dari kebiasaan ngulet.

Berikut manfaat ngulet yang biasa dilakukan saat bangun tidur, seperti dilansir Livestrong, Rabu (4/4/2012):

1. Otot lebih fleksibel

Setelah tidur sepanjang malam, orang sering terbangun dalam keadaan kaku dan otot tegang. Hal ini biasanya disebabkan karena melakukan posisi berbaring yang sama dalam waktu yang lama.

Setelah terjaga, Anda secara tidak sadar akan meregangkan tubuh untuk mengembalikan fleksibilitas di tangan, belakang leher dan kaki. Otot yang lebih fleksibel akan membuat Anda terbangun lebih mudah dan bersemangat menjalani tugas sehari-hari.

2. Fleksibilitas sendi

Penyebab kekakuan tubuh adalah kurangnya aktivitas fisik sehari-hari, kelebihan berat badan, pola makan yang buruk, pola tidur yang tidak baik dan lingkungan yang dingin atau lembab, menurut Healthy Back Institute.

Peregangan di pagi hari membantu meningkatkan jangkauan gerak sendi, serta kekakuan yang sering menyertai orang yang tidak aktif dan kegemukan. Penurunan fleksibilitas pada sendi dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami arthritis atau memiliki keseimbangan yang rendah, yang dapat mengakibatkan cedera.

3. Meningkatkan sirkulasi darah

Peregangan di pagi hari secara dramatis meningkatkan sirkulasi darah. Ketika melakukan pereganga, darah akan bergerak lebih cepat dan beredar ke otot-otot. Sirkulasi darah yang baik akan membantu Anda untuk bergerak dan melakukan fungsi aktivitas sepanjang hari.

4. Menghilangkan stres

Peregangan juga membantu menghilangkan stres dan ketegangan. Kadang-kadang sulit untuk beranjak dari tempat tidur di pagi hari, terutama bila Anda harus menghadapi hari yang menegangkan.

Melakukan beberapa menit peregangan di pagi hari akan membantu meredakan ketegangan dan memungkinkan Anda menghadapi hari yang lebih positif.

(mer/ir)

Cukup 2 Detik Melirik Warna Hijau Bikin Orang Lebih Kreatif

Bagi orang-orang yang dituntut untuk selalu berpikir kreatif, sangat dianjurkan untuk mendekor ruangannya dengan warna hijau. Menurut ahli psikologi, kreativitas bisa meningkat hanya dengan sekilas memandangi warna hijau selama 2 detik.

Efek yang dikenal juga dengan istilah green-effect ini dibuktikan dalam penelitian Prof Stephanie Lichtenfeld, seorang ahli psikologi dari Ludwig-Maximilians-University. Penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam buletin Personality and Social Psychology.

Dalam penelitiannya, Prof Lichtenfeld melibatkan 69 orang partisipan dengan perbandingan yang kurang lebih merata antara laki-laki dan perempuan. Tugas para partisipan sangat sederhana, yakni menulis sebuah karangan yang menunjukkan tingkat kreativitasnya.

Selama mengerjakan tugas, para partisipan diperlihatkan secara sepintas obyek-obyek dengan warna yang berbeda untuk tiap partisipan. Sebagian melihat obyek berwarna hijau, sedangkan yang lain ada yang putih merah dan yang lain tetapi sama-sama hanya melihatnya secara sepintas yakni selama 2 detik.

Hasil pengamatan menunjukkan, partisipan yang melihat obyek berwarna hijau cenderung menulis karangannya dengan lebih kreatif dibandingkan partisipan yang melihat warna lain. Prof Lichtenfeld menyimpulkan, efek ini terjadi karena pengaruh warna hijau yang disebutnya green effect.

Menurut Prof Lichtenfeld, warna hijau adalah warna tumbuh-tumbuhan sehingga tanpa disadari bisa merangsang persepsi tertentu soal pertumbuhan. Bukan hanya pertumbuhan fisik, tetapi juga pertumbuhan psikologis termasuk dalam berpikir kreatif.

Berbagai penelitian sebelumnya memang menunjukkan bahwa warna bisa mempengaruhi kejiwaan, misalnya merah bisa membangkitkan gairah seksual. Meski demikian, Prof Lichtenfeld tidak ingin serta merta menyarankan agar orang melihat warna hijau hanya untuk membuat pikirannya jadi lebih kreatif.

"Efeknya sangat halus. Kalau dengan sengaja melihat warna hijau supaya lebih kreatif, itu masih dipertanyakan," kata Prof Lichtenfeld seperti dikutip dari MSNBC, Kamis (29/3/2012).

7 Prinsip Sukses

Pernah begitu sering, ketika saya membahas aturan untuk sukses dalam bisnis, seseorang di penonton akan bertanya padaku “Bagaimana saya bisa sukses tidak hanya dalam bisnis tapi juga sebagai pribadi? Pertanyaan ini selalu mengejutkan saya karena bagi saya, jika Anda dalam bisnis memberikan layanan terutama jika itu di sektor informasi, maka Anda dan bisnis Anda adalah satu dan sama. Tapi tidak menjadi salah satu melewatkan kesempatan untuk menambah wawasan, saya memutuskan bahwa jika Anda dan bisnis Anda begitu terhubung, keberhasilan pribadi harus sama dengan kesuksesan bisnis.

Jadi saya bertanya kepada diri sendiri apa yang membuat saya sukses sebagai seorang manusia? Bagaimana saya bisa benar-benar menjawab pertanyaan Anda? Nah, dengan asumsi bahwa Anda hanya seperti saya, saya berbagi dengan Anda atas saya 7 prinsip sukses yang saya andalkan untuk membantu saya untuk menjadi orang tersebut dan kemudian orang bisnis yang saya, berharap bahwa mereka akan membantu Anda juga. Apakah Anda siap? Ini dia:

1. Putuskan untuk sukses. Ya! Cukup memutuskan untuk menjadi sukses. Jika Anda tidak membuat keputusan ini, maka Anda akan menemukan bahwa Anda menyerah dan menyerah bahkan sebelum Anda mulai. Hal ini membantu saya untuk mengabaikan penentang dan membuka mata saya ke banyak, banyak cara untuk mencapai tujuan saya.

2. Tetapkan tujuan. Ini benar-benar gerbang Anda menuju sukses. Ada sesuatu tentang menuliskan tujuan Anda, maksud saya yang nyata pena dan kertas menulis yang tampaknya untuk menanamkan mereka sehingga sepenuhnya pada jiwa Anda. Dan ketika Anda menentukan langkah-langkah yang harus diambil untuk mencapai mereka dan bersedia untuk mengambil langkah-langkah, seperti yang kita katakan di Karibia “Yuh pergi jelas!” atau lebih tenang, kesuksesan terjamin.

3. Lakukan apa yang harus dilakukan ketika itu harus dilakukan. Dalam kata – fokus!Fokus dan disiplin diri pergi tangan di tangan dan ketika saya menerapkan mereka berdua, saya dapat menolak godaan untuk memiliki waktu yang baik dan kehilangan “garis hidup” dengan mana aku mengatakan kepada klien bahwa saya akan mengajukan proposal. Bagi saya, melakukan apa yang harus dilakukan ketika itu harus dilakukan adalah jarang dinegosiasikan.

4. Mengambil tindakan – terutama dalam menghadapi ketidakpastian. Bagi saya cara tercepat untuk mendapatkan sepotong besar real estate di Jalan Kegagalan adalah untuk mengetahui apa yang harus dilakukan dan menjadi lumpuh oleh ketakutan untuk bertindak. Aku tahu kau harus yakin tentang hasilnya; langkah-langkah sikap perfeksionis Anda masuk Tapi dalam kata-kata Michael Port, Penulis Buku Diri Padat: Seringkali orang-orang yang sangat perfeksionis, aneh kontrol kita juga bisa menyebutnya, dan karenanya berpikir bahwa mereka menyelesaikan proyek-proyek akan sempurna tidak dapat proyek benar-benar menyelesaikan, apalagi memulai, dalam banyak kasus. Saya belajar untuk mengambil tindakan, bahkan seperti Aku takut tantangan, dan belajar saat aku pergi ke depan.

5. Tahu aturan. Saya tidak pernah berhenti menjadi jengkel, kagum dan geli oleh tingkat di mana orang memasuki arena tertentu dan mencoba untuk bertahan hidup tanpa banyak melirik aturan. Ada aturan untuk hidup, untuk orangtua untuk menggunakan kamar mandi, untuk hubungan dan ada aturan untuk melakukan bisnis. Pada titik tertentu, sebagian besar di dekat permulaan, saya belajar aturan-aturan dalam ke luar dan karena ini, saya belajar bahwa mengetahui aturan dan menerapkan mereka lebih mungkin untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan daripada melanggar aturan yang Anda bahkan tidak tahu.

6. Dapatkan berhubungan dengan semangat Anda. Perhatikan Aku tidak mengatakan bergabung dengan agama atau pergi ke gereja – meskipun ini bisa menjadi bagian dari proses untuk menemukan semangat Anda. Ketika Anda berhubungan dengan semangat Anda seluruh dunia tampak begitu benar-benar berbeda. Drama jatuh pergi, tidak ada masalah yang tidak memiliki solusi dan harapan yang benar-benar, benar-benar mata air abadi di payudara Anda. Ya, untuk berhubungan dengan jaminan keberhasilan semangat Anda.

7. Tertawa. Anda mendengar saya benar, TERTAWA. Aku menertawakan kehidupan. Aku tertawa ketika dokumen yang saya bekerja selama dua hari menghilang di lubang komputer gelap dan saya tertawa ketika orang membacakan kepada saya semua hal yang aku harus berubah tentang aku. Aku tertawa di kejenakaan cucu saya dan saya tertawa ketika sayangku Persik anjing membutuhkan waktu 5 detik untuk jijik menolak makan malam, aku khusus disiapkan dengan cinta untuknya. Dan di atas semua, saya menertawakan saya dan mengingatkan diri sendiri bahwa tidak ada yang meninggal dan membuat saya Tuhan.

Jadi di sana Anda memiliki mereka, tujuh atas prinsip-prinsip hidup oleh yang membuat saya sukses dan saya percaya bahwa jika Anda menggunakan mereka juga anda bisa sukses.

Harap mengerti bahwa kesuksesan bukan tujuan karena aku masih tumbuh dan belajar dan mau tidak mau, aku terus bergerak tiang gawang dan terus-menerus mendefinisikan ulang kesuksesan. Saya juga ingin mengingatkan Anda bahwa pengukuran keberhasilan individu untuk individu tetapi dunia tampaknya sepakat bahwa tolok ukur paling obyektif adalah uang.

Sekarang semua saya minta dari Anda adalah untuk mengambil 7 saya prinsip-prinsip dan membuat mereka dasar Anda. Tambahkan ke mereka, kurangi dari mereka tetapi mengambil beberapa tindakan SEKARANG!

Selanjutnya...

Sumber Konten: http://www.sejutablog.com/7-prinsip-sukses-pribadi/#ixzz1rcl0eop7

Tips Untuk Atasi Mata Lelah di Kantor

Duduk di depan komputer dalam ruang ber-AC kabarnya dapat membuat mata menjadi kering. Pendapat ini benar adanya karena memelototi komputer untuk waktu yang lama membuat mata lebih jarang terlumasi. Apalagi ditambah terpaan angin dari AC membuat cairan mata lebih cepat kering.

Pekerja kantoran seringkali harus memandangi layar komputer untuk waktu yang lama dengan posisi duduk yang salah. Akibatnya persebaran kekuatan otot-otot punggung tidak terdistribusi secara merata dan membebani tubuh. Akhirnya, badan menjadi cepat lelah. Ujung-ujungnya, bagian yang paling terpengaruh adalah mata.

"70% bagian otak berhubungan dengan mata, yaitu daerah korteks serebral. Proses belajar dan mengingat juga berkaitan dengan mata. Jadi mata sangat mudah terpengaruh oleh kondisi fisik tubuh," kata dr Gilbert WS Simanjuntak, Sp.M(K), dokter mata dan bedah retina RS PGI Cikini dalam acara diskusi publik yang diselenggarakan radio KBR68H di Kedai Tempo, Utan Kayu, Jakarta, Selasa (10/4/2012).

Kelelahan yang dialami pada mata tersebut sebenarnya juga berasal dari kelelahan fisik, dan sebaliknya. Ditambah dengan mata kering akibat terkena AC dan lama menatap komputer, maka mata terasa cepat lelah.

Untuk mengatasinya, dr Gilbert menyarankan agar tidak menghadapkan AC atau kipas angin ke arah mata. Selain itu, pastikan postur duduk yang tegak agar otot punggung tidak cepat capek. Kalau perlu, gunakan kaca mata yang lebar untuk menahan terpaan angin dari AC atau kipas angin. Apabila mata terasa lelah, istirahatkan mata dengan memejamkan mata selama 5 menit. Terakhir, rajin berolahraga untuk memperkuat otot dan melancarkan peredaran darah ke mata.

"Tingkat kelelahan dan seberapa lama waktu yang dihabiskan hingga mata menjadi lelah berbeda-beda pada setiap orang. Cara sederhana lainnya untuk mengatasi mata lelah adalah melihat dengan jarak yang jauh. Dengan melihat benda jauh seperti melihat keluar gedung atau pemandangan akan membuat otot mata lebih rileks," kata dr Gilbert.

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang bekerja di tempat sempit lebih cepat lelah dibanding orang yang bekerja di tempat luas. Jadi jika merasa lelah di kantor, pejamkan mata selama 5 menit atau berjalan-jalanlah sebentar sambil melihat pemandangan di luar.

Related Posts Plugin for 
WordPress, Blogger...